Bamsoet Dorong Investasi China untuk Data Center

Teknologi Moh. Royhan Nahado 26 Mei 2026 22:20 WIB 2
Bamsoet Dorong Investasi China untuk Data Center

Anggota DPR RI Bambang Soesatyo mendorong masuknya investasi dari China untuk mempercepat pengembangan ekosistem data center nasional. Ia menilai langkah itu penting karena Indonesia memiliki pasar digital yang tumbuh pesat, kebutuhan infrastruktur AI yang meningkat, serta peluang besar untuk menjadi pusat ekonomi digital di Asia Tenggara.

Di saat yang sama, Bambang juga menekankan perlunya pembenahan tata kelola perdagangan dan logistik nasional agar penguatan sektor digital tidak berjalan sendiri. Menurutnya, persoalan shipping line yang telah lama membebani biaya ekonomi nasional harus ditangani beriringan dengan pembangunan infrastruktur data center.

Data Center dan Peluang

Bambang menyebut momentum pengembangan data center di Indonesia saat ini sangat tepat. Hal itu didorong oleh pertumbuhan pengguna internet, kebutuhan cloud, layanan penyimpanan data, dan pemanfaatan kecerdasan buatan yang terus naik.

Ia menjelaskan, proyeksi pasar data center Indonesia diperkirakan mencapai USD 9,43 miliar pada 2030. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa sektor ini memiliki prospek jangka panjang yang kuat dan layak didorong dengan kebijakan yang konsisten.

Untuk itu, Indonesia dinilai perlu memanfaatkan keunggulan demografi digital dan percepatan transformasi teknologi yang sedang berlangsung. Dengan dukungan regulasi yang tepat, sektor ini dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru.

China dan Kepastian Investasi

Bambang menilai investor dari China memiliki kapasitas teknologi, pembiayaan, dan pengalaman membangun ekosistem digital berskala besar. Potensi tersebut, menurut dia, dapat dipadukan dengan kebutuhan Indonesia yang terus berkembang di sektor infrastruktur digital.

Ia menekankan bahwa Indonesia harus menjadi tujuan utama investasi tersebut dengan menawarkan kepastian regulasi, ketersediaan energi, insentif fiskal, dan kemudahan perizinan. Langkah itu dinilai penting agar investor memiliki keyakinan dalam menanamkan modal secara berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan usai mendampingi Wakil Gubernur Provinsi Hebei China, Zhao Chenxin, bersama para pengusaha China bertemu Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (26/5/26). Pertemuan itu disebut menjadi salah satu ruang untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan teknologi antara kedua negara.

Kawasan Strategis Data Center

Bambang mengatakan sejumlah daerah di Indonesia berpeluang mengembangkan data center berskala internasional. Batam dinilai strategis karena dekat dengan Singapura, sehingga memiliki keunggulan konektivitas yang kuat untuk kebutuhan pusat data regional.

Selain itu, koridor industri di Jawa seperti Cikarang disebut memiliki keunggulan pasokan energi dan jaringan yang lebih siap. Di wilayah timur Indonesia, Manado juga mulai diperhitungkan karena tersambung ke jaringan kabel bawah laut internasional yang membuka akses langsung ke pasar Amerika Serikat.

Menurut dia, Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi kekuatan baru industri data center di Asia. Pasar digital yang besar, letak geografis yang strategis, dan kebutuhan komputasi yang meningkat menjadi modal utama untuk menarik investasi.

Logistik dan Tata Kelola

Selain sektor digital, Bambang menyoroti persoalan shipping line yang selama ini menjadi titik lemah ekonomi nasional. Ia menilai ketergantungan terhadap kapal asing untuk angkutan ekspor-impor membuat biaya logistik tinggi dan devisa terus mengalir keluar.

Bambang menyebut biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran lebih dari 14 persen terhadap PDB. Angka itu menjadi tantangan besar bagi efisiensi perdagangan nasional, terutama ketika waktu tunggu pelabuhan masih panjang dan rantai pasok belum terintegrasi dengan baik.

Ia mendukung penuh langkah Presiden Prabowo Subianto dalam membenahi tata kelola perdagangan dan memperketat pengawasan ekspor komoditas strategis. Menurut dia, pembenahan pelabuhan, kepabeanan, sistem ekspor, armada nasional, dan pengawasan devisa harus berjalan sebagai satu paket transformasi ekonomi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!