Biblical Diet Viral di Media Sosial, Ini Penjelasannya

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 13:20 WIB 2
Biblical Diet Viral di Media Sosial, Ini Penjelasannya

Tren diet kembali bergeser di media sosial, kali ini lewat pola makan bernama biblical diet yang diklaim berangkat dari makanan dalam Alkitab. Pola ini menarik perhatian banyak pengguna karena dianggap lebih alami, sederhana, dan memiliki nilai spiritual yang kuat.

Popularitas biblical diet terdorong oleh konten para influencer di TikTok, Instagram, hingga Facebook, yang menampilkan makanan seperti ikan, roti, buah, sayuran, madu, biji-bijian, dan minyak zaitun. Meski viral, para ahli tetap mengingatkan bahwa kebutuhan gizi seimbang tetap harus menjadi prioritas utama.

Biblical diet dan konsep dasarnya

Biblical diet adalah pola makan yang merujuk pada jenis makanan yang disebut dalam Alkitab, lalu diolah menjadi gaya hidup modern. Fokus utamanya adalah makanan alami, minim proses, dan dinilai lebih dekat dengan prinsip kesederhanaan.

Dalam praktiknya, pola ini menekankan konsumsi ikan, roti, buah-buahan, sayuran, madu, biji-bijian, dan minyak zaitun. Sebaliknya, makanan ultra-proses dengan banyak bahan tambahan cenderung dihindari.

Banyak pengikut biblical diet menilai pola ini bukan hanya soal pilihan makan, tetapi juga bagian dari disiplin diri. Karena itu, diet ini sering dikaitkan dengan kesehatan fisik sekaligus ketenangan batin.

Meski demikian, konsep dasar biblical diet tidak otomatis menjamin asupan nutrisi yang lengkap. Pilihan menu tetap perlu disusun agar kebutuhan protein, serat, vitamin, dan mineral tetap terpenuhi.

Viral berkat media sosial

Tren biblical diet semakin dikenal luas setelah banyak kontennya tersebar di platform video pendek dan jejaring sosial. Visual makanan sederhana yang dikaitkan dengan kutipan ayat membuat konsep ini mudah menarik perhatian.

Bagi sebagian pengguna, narasi spiritual dalam diet ini memberi nilai tambah yang tidak ditemukan pada pola makan lain. Perpaduan antara kesehatan dan religiusitas membuat kontennya terasa lebih personal dan emosional.

Kemudahan konsumsi konten juga ikut mempercepat penyebaran tren ini, terutama di kalangan muda. Mereka kerap mencoba pola makan yang sedang ramai dibicarakan, lalu membagikan pengalaman mereka kembali.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial kini bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga alat pembentuk gaya hidup. Dalam kasus biblical diet, pengaruh konten visual dan cerita pribadi menjadi pemicu utama popularitasnya.

Tokoh populer di balik tren

Salah satu sosok yang mempopulerkan biblical diet adalah Kayla Bundy, influencer berusia 27 tahun di TikTok. Ia memiliki lebih dari 500 ribu pengikut dan rutin membagikan konten tentang pola makan tersebut.

Kayla mengaku telah menjalani biblical diet selama delapan tahun terakhir. Ketertarikannya muncul setelah memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi tokoh-tokoh dalam Alkitab.

Popularitas itu kemudian ia ubah menjadi peluang usaha melalui penjualan panduan digital tentang superfood ala biblical diet. Ia juga membuka sesi konsultasi berbayar bagi pengikut yang ingin mencoba pola makan tersebut.

Selain Kayla, ada Abbie Stasior, ahli gizi asal Nashville, yang kerap mengaitkan pola makan sehat dengan ayat-ayat Alkitab. Ia juga sering membahas kombinasi roti dan ikan sebagai contoh asupan karbohidrat dan protein yang seimbang.

Catatan ahli soal kesehatan

Di media sosial, Annalies Xaviera juga ikut mengangkat tren serupa melalui konten makanan lokal, alami, dan tidak diproses. Sebagai ibu rumah tangga dengan ratusan ribu pengikut, ia menambahkan doa dan kutipan ayat dalam setiap unggahannya.

Meski tampil berbeda, pola yang mereka promosikan memiliki benang merah yang sama, yakni kembali ke bahan makanan sederhana. Pendekatan ini dinilai mudah dipahami, terutama bagi pengguna yang mencari pola makan yang terasa lebih natural.

Namun, ahli gizi mengingatkan bahwa setiap diet tetap harus disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Mengikuti tren tanpa memperhatikan kebutuhan energi dan zat gizi justru dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Karena itu, pilihan terbaik bukan semata mengikuti pola makan viral, melainkan menjaga keseimbangan nutrisi secara konsisten. Apa pun jenis diet yang dipilih, makanan bergizi lengkap tetap menjadi dasar utama kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!