Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru

Teknologi Moh. Royhan Nahado 02 Juni 2026 14:29 WIB 3
Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa satelit kini tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial. Menurut dia, satelit telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional, terutama saat kebutuhan layanan data terus meningkat.

Satelit dan konektivitas nasional

Risdianto mengatakan industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Ia menilai, peran satelit kini tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga menopang ketahanan jaringan secara lebih luas.

Menurut dia, layanan satelit juga berkontribusi pada keberlanjutan layanan digital nasional. Hal itu membuat sektor ini semakin relevan di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat dan pelaku usaha pada koneksi yang andal.

Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026, dalam rangkaian agenda industri satelit nasional. Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi komunikasi menuntut ekosistem yang lebih adaptif dan terintegrasi.

Dalam pandangannya, satelit kini menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga stabilitas layanan digital. Kondisi itu membuat penguatan sektor ini tidak dapat ditunda lagi.

Satelit untuk wilayah kepulauan

Indonesia memiliki posisi geografis yang dinilai sangat strategis bagi pengembangan teknologi satelit. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, kebutuhan konektivitas nasional menjadi tantangan sekaligus peluang besar.

Risdianto menyebut, jumlah penduduk yang besar membuat pasar layanan berbasis satelit di Indonesia sangat menjanjikan. Di sisi lain, pengalaman industri yang sudah terbentuk juga menjadi modal untuk mempercepat pertumbuhan.

Ia menilai, wilayah 3T menjadi area yang paling membutuhkan dukungan konektivitas satelit. Melalui teknologi ini, akses komunikasi, layanan publik, dan distribusi informasi dapat diperluas ke daerah yang sulit dijangkau jaringan darat.

Selain itu, konektivitas satelit juga berperan dalam mendukung aktivitas maritim dan mitigasi bencana. Fungsi tersebut membuat satelit memiliki nilai strategis bagi pembangunan nasional jangka panjang.

Satelit dan kedaulatan digital

Risdianto menilai pengembangan industri satelit nasional harus bertumpu pada integrasi industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah. Menurut dia, empat unsur itu perlu disusun dalam satu strategi yang berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal yang cukup baik untuk bertumbuh di sektor ini. Modal tersebut mencakup kebutuhan pasar, sumber daya manusia, serta pengalaman para pelaku industri.

Namun, dia mengingatkan bahwa modal saja tidak cukup tanpa koordinasi yang kuat. Penguatan ekosistem perlu dilakukan agar industri satelit nasional dapat berkembang secara sehat dan kompetitif.

Isu kedaulatan digital juga disebut semakin penting di tengah persaingan global. Karena itu, kapasitas nasional harus diperkuat dari sisi teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia.

Satelit hadapi tantangan global

Di tingkat internasional, industri satelit menghadapi tantangan baru yang semakin kompleks. Di antaranya adalah perkembangan konstelasi satelit, integrasi jaringan satelit dan seluler, keamanan siber, dan keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa.

Risdianto menilai, tantangan tersebut harus dijawab dengan kesiapan infrastruktur yang memadai. Ia juga menekankan perlunya regulasi yang adaptif agar industri tidak tertinggal oleh perkembangan global.

Ke depan, ia memprediksi kecerdasan buatan, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan semakin terhubung dalam satu ekosistem digital terpadu. Kondisi itu membuka peluang baru bagi industri sekaligus menuntut investasi yang lebih cermat.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 yang digelar ASSI di Jakarta pada 12 hingga 13 Mei 2026. Konferensi internasional edisi ke-22 itu dihadiri pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, serta mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!