Bekas PMI Siti Fatimah Bangun Usaha Jajanan Singkong

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 15:48 WIB 2
Bekas PMI Siti Fatimah Bangun Usaha Jajanan Singkong

Mantan pekerja migran Indonesia dapat kembali pulang dan membangun kehidupan yang lebih mandiri di Tanah Air. Kisah itu ditunjukkan oleh Siti Fatimah, perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, yang memilih pulang dari Hong Kong pada Mei 2017 setelah lima tahun bekerja sebagai tenaga kerja wanita. Merasa penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia memutuskan merintis usaha dari rumah. Langkah itu kemudian menjadi titik balik bagi perekonomian keluarganya.

Fatimah mengaku ingin berhenti merantau karena kebutuhan hidup terus meningkat, sementara pekerjaan sebelumnya terasa tidak memberi ruang berkembang. Sebagai single parent, ia memiliki tekad kuat untuk membangun usaha yang dapat menopang anak-anaknya. Dengan sisa tabungan yang ada, ia mulai menata rencana bisnis sederhana. Dari keputusan itulah lahir usaha jajanan tradisional yang kini dikenal luas.

Usaha Jajanan Singkong

Pada akhir 2017, Fatimah mulai membuat aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong dengan nama produk Qtello Ayu. Nama itu merupakan perpaduan kata ketela dan ayu, yang menggambarkan produk sederhana namun menarik secara tampilan. Modal awal yang digunakan hanya Rp 700 ribu, berasal dari tabungan yang tersisa setelah ia pulang ke Indonesia. Dari modal kecil itu, ia berupaya membuktikan bahwa usaha rumahan tetap bisa tumbuh.

Awalnya, produk yang dijual hanya tiga varian, yakni ongol-ongol, getuk, dan klepon. Seiring waktu, pilihan menu berkembang menjadi sembilan varian dengan tampilan warna-warni yang lebih modern. Beberapa produk yang kini dipasarkan antara lain sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi itu membuat jajanan tradisional terasa lebih segar di mata konsumen.

Menurut Fatimah, bahan baku yang sederhana justru menjadi peluang untuk menghadirkan produk yang lebih menarik secara visual. Ia mengolah singkong dengan pendekatan berbeda agar tetap relevan dengan selera pasar saat ini. Penyajian yang rapi dan beragam warna membantu produk lebih mudah dilirik pembeli. Strategi tersebut menjadi pembeda utama di tengah banyaknya usaha kuliner rumahan.

Selain inovasi rasa dan tampilan, Fatimah juga menekankan nilai tradisi dalam setiap produknya. Jajanan yang ia buat tetap berakar pada cita rasa lokal yang akrab di masyarakat. Keunggulan ini membuat produknya cocok dijadikan camilan harian maupun suguhan acara. Perpaduan tradisi dan kemasan modern menjadi kekuatan utama Qtello Ayu.

Strategi Pemasaran Rumahan

Untuk mengenalkan produknya, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial sebagai sarana promosi utama. Ia juga mengandalkan metode getok tular atau pemasaran dari mulut ke mulut. Cara ini efektif karena pelanggan yang puas cenderung merekomendasikan produk kepada orang lain. Tanpa biaya promosi besar, jangkauan pasarnya perlahan semakin meluas.

Strategi sederhana tersebut membuat produk Qtello Ayu dikenal di wilayah Tulungagung dan Trenggalek. Pesanan juga datang dari luar kota, termasuk untuk oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta. Fatimah menilai promosi personal lebih mudah membangun kepercayaan pelanggan. Dalam usaha rumahan, kedekatan dengan konsumen menjadi nilai tambah yang penting.

Ia menyesuaikan promosi dengan kebiasaan pelanggan yang kerap mencari produk melalui gawai. Foto produk yang menarik, informasi harga, dan komunikasi cepat menjadi bagian dari layanan yang dijaga. Pendekatan itu membantu usahanya tetap aktif meski tidak memiliki toko besar. Dari rumah, Fatimah mampu menjaga arus pesanan tetap bergerak.

Harga jual yang dimulai dari Rp 8 ribuan per box juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli. Dengan harga terjangkau, produk ini bisa dipilih untuk camilan keluarga maupun kebutuhan acara. Fatimah melihat pasar jajanan tradisional masih terbuka luas jika dikemas dengan baik. Ia pun terus menjaga keseimbangan antara harga, rasa, dan tampilan.

Produksi dan Omzet Harian

Permintaan yang terus meningkat membuat produksi Qtello Ayu mencapai sekitar 400 box per hari. Dari jumlah itu, omzet harian rata-rata berada di kisaran Rp 1 juta. Fatimah menyebut penghasilan tersebut bisa naik turun, tergantung jumlah pesanan pada hari tertentu. Namun, rata-rata pendapatan itu sudah membantu menopang kebutuhan keluarga.

Untuk memenuhi pesanan, Fatimah tidak bekerja sendiri, melainkan dibantu keluarga dan dua karyawan harian. Seluruh proses produksi tetap dilakukan dari rumah agar kualitas dan kesegaran produk terjaga. Pengelolaan berbasis keluarga membuat usaha lebih fleksibel dalam menghadapi lonjakan permintaan. Sistem ini juga memudahkan pengawasan pada setiap tahap produksi.

Meski skala usahanya berkembang, Fatimah tetap mempertahankan cara kerja yang sederhana dan disiplin. Ia memastikan bahan baku dipilih dengan baik dan proses pengolahan dilakukan secara konsisten. Menurutnya, kepercayaan pelanggan hanya dapat dijaga jika mutu produk tidak menurun. Prinsip itu menjadi fondasi penting dalam menjalankan usaha rumahan.

Pertumbuhan penjualan juga menunjukkan bahwa produk tradisional masih memiliki tempat di pasar modern. Dengan kemasan yang menarik dan promosi yang tepat, jajanan berbasis singkong dapat bersaing dengan camilan lain. Fatimah menjadi contoh bahwa bisnis kecil bisa bertahan jika dikelola serius. Dari rumah, usaha itu tumbuh menjadi sumber pendapatan yang stabil.

Dampak bagi Keluarga

Berkat hasil usaha tersebut, kondisi ekonomi Fatimah berangsur membaik. Ia berhasil melunasi utang dan membeli mobil untuk menunjang operasional. Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa tekad kuat dapat mengubah keadaan secara bertahap. Dari masa sulit, ia kini mampu membangun aset yang bermanfaat bagi usahanya.

Kebahagiaan lain datang dari anak-anaknya yang juga ikut merasakan manfaat usaha itu. Salah satu anaknya yang sudah berkeluarga bahkan membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Perkembangan ini menunjukkan bahwa usaha rumahan dapat memberi dampak lintas generasi. Apa yang dimulai dari rumah kini ikut menggerakkan keluarga yang lebih luas.

Fatimah berharap usahanya bisa membuka cabang di berbagai kota karena permintaan terus berdatangan. Ia meyakini peluang pasar untuk jajanan tradisional masih sangat besar. Menurutnya, kunci utama berbisnis adalah konsisten dan tidak mudah menyerah. Saat semangat menurun, tujuan awal harus kembali diingat.

Kisah Fatimah menjadi gambaran bahwa mantan pekerja migran tetap dapat sukses setelah pulang ke Indonesia. Dengan modal terbatas, keberanian memulai, dan kemauan belajar, ia membangun usaha yang kini berdaya saing. Pengalamannya memberi inspirasi bahwa pulang kampung bukan akhir dari perjuangan. Justru dari rumah, banyak peluang baru bisa tumbuh dan berkembang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!