BEI Optimistis IHSG Menguat Usai Target Ekonomi 2027

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 06:46 WIB 5
BEI Optimistis IHSG Menguat Usai Target Ekonomi 2027

Penjabat sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menanggapi positif pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI, Rabu (20/5/2026), yang memuat Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027. Ia menilai arah kebijakan tersebut memberi sinyal optimisme terhadap prospek ekonomi nasional dan pasar modal.

Menurut Jeffrey, target pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pemerintah berpotensi mendukung kepercayaan investor dan mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan. Di saat yang sama, IHSG tercatat berhasil memangkas koreksi setelah sempat tertekan lebih dalam pada perdagangan hari itu.

IHSG dan Prospek Ekonomi

Jeffrey menyebut optimisme terhadap ekonomi domestik menjadi landasan penting bagi pasar modal untuk bergerak lebih baik. Ia menilai pertumbuhan ekonomi yang sehat akan memperkuat minat investasi di dalam negeri. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat memberi ruang bagi IHSG untuk mengikuti arah perbaikan ekonomi nasional. Karena itu, BEI melihat pidato Presiden sebagai sinyal yang mendukung sentimen pasar.

Pada perdagangan Rabu siang, IHSG tercatat memangkas koreksi menjadi 0,60 persen ke level 6.332,17. Sebelumnya, indeks sempat melemah lebih dalam hingga 2,25 persen ke level 6.227,41 pada pukul 11.19 WIB. Perbaikan tersebut menunjukkan adanya respons pasar yang mulai stabil setelah tekanan awal perdagangan. Menurut Jeffrey, pemulihan seperti itu penting untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Ia menambahkan, iklim usaha yang lebih mudah akan memperkuat laju investasi dan mendorong emiten mencatat kinerja yang lebih baik. Jika aktivitas ekonomi meningkat, permintaan di pasar juga berpeluang tumbuh lebih luas. Dalam pandangannya, pasar modal membutuhkan kombinasi pertumbuhan ekonomi, kepastian kebijakan, dan stabilitas makro. Ketiga faktor itu dinilai saling menguatkan bagi arah IHSG ke depan.

Target Fiskal 2027

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menetapkan sejumlah target ekonomi untuk tahun anggaran 2027. Target tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, hingga harga minyak mentah Indonesia. Pemerintah juga memuat proyeksi lifting minyak dan gas sebagai bagian dari kerangka fiskal. Seluruh sasaran itu menjadi acuan utama dalam penyusunan RAPBN 2027.

Untuk pertumbuhan ekonomi, pemerintah menargetkan kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027. Sementara itu, inflasi dipatok berada di rentang 1,5 persen sampai 3,5 persen. Target tersebut menunjukkan upaya menjaga pertumbuhan tetap tinggi tanpa mengorbankan stabilitas harga. Bagi pelaku pasar, kepastian sasaran ini penting untuk membaca arah kebijakan pemerintah.

Prabowo juga menetapkan nilai tukar rupiah pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada 2027. Selain itu, tingkat bunga SUN 10 tahun diperkirakan berada di rentang 6,5 persen sampai 7,3 persen. Pemerintah turut menetapkan ICP di kisaran 70 dolar AS hingga 95 dolar AS per barel. Dengan kerangka tersebut, pasar memperoleh gambaran lebih jelas mengenai asumsi fiskal yang akan digunakan pemerintah.

Rupiah dan Stabilitas Pasar

Presiden Prabowo menegaskan pentingnya strategi fiskal dan moneter yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar. Ia menyampaikan bahwa rupiah harus tetap kuat dan tahan terhadap tekanan mata uang dunia. Menurutnya, stabilitas tersebut menjadi salah satu fondasi utama bagi ketahanan ekonomi nasional. Penekanan ini sejalan dengan kebutuhan menjaga daya tahan pasar keuangan.

Jeffrey menilai arah kebijakan yang menitikberatkan pada stabilitas dapat memberi dampak positif bagi pasar modal. Ketika nilai tukar terjaga, pelaku usaha lebih mudah merencanakan ekspansi dan pembiayaan. Kondisi itu juga membantu meredam volatilitas pada instrumen keuangan. Dalam pandangannya, pasar akan merespons lebih baik bila arah kebijakan dapat diprediksi dengan jelas.

Di sisi lain, stabilitas rupiah dinilai penting bagi investor asing yang mempertimbangkan risiko portofolio di Indonesia. Kepastian makroekonomi dapat memperkuat daya tarik aset berdenominasi rupiah. Hal tersebut berpotensi menciptakan arus masuk modal yang lebih konsisten. Dengan begitu, pasar saham dapat memperoleh dukungan tambahan dari sisi sentimen global dan domestik.

Prospek Investasi Domestik

BEI melihat target pertumbuhan ekonomi 2027 sebagai peluang untuk memperluas partisipasi investor domestik. Menurut Jeffrey, ekonomi yang tumbuh lebih tinggi akan menciptakan ekspektasi bisnis yang lebih baik. Dampaknya dapat terlihat pada meningkatnya aktivitas perdagangan saham dan minat terhadap produk pasar modal. Oleh karena itu, BEI menilai optimisme perlu diikuti dengan kebijakan yang mendukung iklim usaha.

Pertumbuhan ekonomi yang sehat biasanya mendorong peningkatan konsumsi, investasi, dan kinerja emiten. Dalam kondisi tersebut, pasar modal dapat menjadi salah satu kanal pembiayaan yang lebih aktif. Jeffrey menegaskan bahwa kemudahan berusaha juga menjadi faktor penting dalam menjaga momentum tersebut. Dengan ekosistem yang kondusif, perusahaan dan investor sama-sama memiliki ruang berkembang.

Secara keseluruhan, pidato Presiden Prabowo memberi sinyal arah kebijakan ekonomi yang fokus pada pertumbuhan dan stabilitas. BEI menilai sinyal itu relevan bagi penguatan kepercayaan pasar dalam jangka menengah. Meski tekanan jangka pendek masih dapat terjadi, prospek yang lebih jelas menjadi modal penting bagi investor. Optimisme itu kini bergantung pada konsistensi implementasi kebijakan fiskal dan moneter pemerintah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!