BEI Optimistis IHSG Menguat Usai Pidato Prabowo

Forex & Saham Gilang Nabaris 26 Mei 2026 04:54 WIB 2
BEI Optimistis IHSG Menguat Usai Pidato Prabowo

Penjabat sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI, Rabu, 20 Mei 2026, dengan nada optimistis. Menurut dia, arah kebijakan fiskal dan proyeksi ekonomi yang disampaikan pemerintah dapat menjadi sentimen positif bagi pasar modal.

Jeffrey menilai prospek ekonomi nasional masih menjanjikan, terutama jika pertumbuhan ekonomi bergerak lebih tinggi dan iklim investasi semakin mudah. Di sisi lain, IHSG yang sempat tertekan pada perdagangan hari itu dinilai memiliki peluang untuk pulih seiring membaiknya ekspektasi pasar.

IHSG Cermati Prospek Ekonomi

Jeffrey mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang solid akan mendorong kepercayaan pelaku pasar. Ia menilai keyakinan tersebut penting untuk menjaga aliran dana tetap masuk ke pasar modal. Menurutnya, sentimen positif dari pemerintah dapat membantu meredam tekanan jangka pendek pada IHSG. Karena itu, BEI melihat prospek bursa masih berada pada jalur yang konstruktif.

Pada perdagangan hari itu, IHSG tercatat memangkas koreksi menjadi 0,60 persen ke level 6.332,17. Sebelumnya, indeks sempat melemah hingga 2,25 persen ke posisi 6.227,41 pada pukul 11.19 WIB. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih sensitif terhadap sentimen eksternal maupun domestik. Meski begitu, pemulihan intraday memberi sinyal bahwa tekanan jual mulai berkurang.

Jeffrey menilai optimisme pasar akan semakin kuat jika ekonomi nasional tumbuh lebih tinggi. Ia juga menyoroti pentingnya kemudahan berusaha agar investor merasa lebih nyaman menanamkan modal. Dalam pandangannya, kepastian kebijakan menjadi faktor utama bagi stabilitas pasar. Kombinasi pertumbuhan dan reformasi struktural dinilai bisa menopang kinerja saham.

BEI menganggap pidato Presiden Prabowo sebagai salah satu referensi penting bagi pelaku pasar untuk membaca arah kebijakan tahun depan. Pasar modal, menurut Jeffrey, akan merespons positif jika target yang diumumkan didukung implementasi yang konsisten. Ia menegaskan bahwa optimisme harus dibarengi disiplin dalam menjaga fundamental ekonomi. Dengan demikian, IHSG berpeluang mengikuti penguatan ekonomi nasional.

Target Fiskal Jadi Sorotan

Dalam pidatonya, Prabowo memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027. Pemerintah menetapkan sejumlah target yang menjadi acuan pembangunan ekonomi nasional. Sasaran tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, hingga harga minyak mentah. Rangkaian target ini menunjukkan fokus pemerintah pada stabilitas dan akselerasi pertumbuhan.

Untuk pertumbuhan ekonomi, pemerintah menargetkan kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027. Angka itu dipandang cukup ambisius, tetapi tetap berada dalam koridor yang dapat dicapai jika reformasi berjalan efektif. Prabowo menekankan pentingnya strategi fiskal dan moneter yang terkoordinasi. Tujuannya adalah menjaga perekonomian tetap tumbuh tanpa mengorbankan stabilitas.

Di sektor harga, pemerintah menetapkan inflasi pada kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen. Target ini menunjukkan upaya menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga. Inflasi yang terkendali juga dinilai penting untuk mendukung iklim investasi dan konsumsi domestik. Dengan inflasi yang stabil, ruang pertumbuhan ekonomi dinilai akan lebih terbuka.

Target fiskal itu menjadi perhatian pelaku pasar karena berkaitan langsung dengan prospek pendapatan perusahaan. Jika pertumbuhan ekonomi lebih kuat, sektor-sektor berbasis konsumsi, pembiayaan, dan industri berpotensi mendapat dorongan. Investor biasanya membaca target pemerintah sebagai petunjuk arah kebijakan ekonomi. Karena itu, detail RAPBN 2027 menjadi salah satu pemicu utama ekspektasi pasar.

Rupiah dan Suku Bunga

Salah satu sasaran penting dalam KEM-PPKF 2027 adalah nilai tukar rupiah di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS. Pemerintah menilai stabilitas rupiah menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi. Nilai tukar yang terjaga akan membantu dunia usaha dalam merencanakan biaya dan ekspansi. Selain itu, stabilitas rupiah juga memberi kejelasan bagi investor asing.

Prabowo menekankan perlunya strategi fiskal dan moneter yang mampu menjaga nilai tukar agar tetap stabil terhadap mata uang dunia. Pernyataan itu menegaskan bahwa pemerintah ingin mengendalikan tekanan eksternal dengan koordinasi kebijakan yang lebih erat. Pasar biasanya merespons positif sinyal kehati-hatian seperti ini. Sebab, kepastian arah kebijakan menurunkan risiko volatilitas yang berlebihan.

Pemerintah juga menetapkan tingkat bunga Surat Utang Negara tenor 10 tahun pada kisaran 6,5 persen hingga 7,3 persen. Kisaran ini menjadi acuan penting bagi pembiayaan negara dan persepsi risiko pasar. Jika imbal hasil surat utang berada pada level yang terukur, investor akan lebih mudah menghitung prospek aset domestik. Dampaknya dapat merambat ke pasar saham melalui perubahan preferensi investasi.

Dalam perspektif pasar, kombinasi rupiah yang stabil dan suku bunga yang terjaga dapat menciptakan keseimbangan baru. Investor cenderung menyukai kondisi seperti itu karena menurunkan ketidakpastian. Jeffrey menilai kebijakan yang mendukung kemudahan berusaha akan memperkuat optimisme tersebut. Dengan fondasi makro yang lebih baik, pasar modal berpeluang mendapat dukungan yang lebih luas.

Energi Ikut Menjadi Arah

Selain target makro, pemerintah juga menyoroti sektor energi melalui asumsi harga minyak mentah Indonesia atau ICP. Untuk 2027, ICP dipatok pada kisaran 70 dolar AS hingga 95 dolar AS per barel. Kisaran ini mencerminkan kehati-hatian pemerintah terhadap dinamika pasar energi global. Bagi Indonesia, asumsi tersebut penting karena berpengaruh pada anggaran dan biaya produksi.

Pemerintah menetapkan lifting minyak bumi pada level 602.000 hingga 615.000 barel per hari. Sementara itu, lifting gas bumi ditargetkan 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak per hari. Sasaran tersebut menunjukkan upaya menjaga pasokan energi domestik di tengah kebutuhan yang terus meningkat. Di sisi lain, target produksi energi juga berkaitan dengan kemandirian dan ketahanan nasional.

Bagi pasar, target energi yang realistis dapat menjadi penopang kepercayaan terhadap kualitas perencanaan fiskal. Asumsi yang terlalu jauh dari kondisi lapangan berisiko menimbulkan revisi kebijakan. Karena itu, penetapan angka yang terukur dianggap penting bagi kredibilitas pemerintah. Investor biasanya mengapresiasi kebijakan yang transparan dan berbasis proyeksi yang masuk akal.

Jeffrey menilai seluruh target yang disampaikan pemerintah memberi ruang optimisme bagi pasar modal. Ia mengatakan, jika kebijakan pro investasi dijalankan konsisten, IHSG memiliki peluang mengikuti perbaikan ekonomi. Pasar, menurut dia, akan mencermati implementasi kebijakan, bukan hanya target di atas kertas. Dengan demikian, arah ekonomi dan pasar saham diperkirakan bergerak sejalan apabila eksekusi berjalan baik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!