Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menggelar pertemuan lanjutan dengan penyedia indeks global, termasuk MSCI dan FTSE Russell, sebagai tindak lanjut reformasi pasar modal yang sedang berjalan. Pertemuan ini berlangsung di tengah penyesuaian indeks yang berdampak pada sejumlah saham Indonesia, sekaligus menjadi ruang bagi BEI untuk menyerap masukan dari investor global.
Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan komunikasi dengan penyedia indeks internasional dilakukan secara rutin dan berlapis, mulai dari level kebijakan hingga teknis. Ia menyebut BEI telah menyampaikan seluruh data yang diminta MSCI, dan kini menunggu umpan balik dari berbagai pihak terkait.
BEI dan MSCI bahas rebalancing
Jeffrey menjelaskan bahwa pertemuan terakhir dengan MSCI berlangsung pada akhir April, kemudian dilanjutkan lagi pada Mei melalui pertukaran data yang diminta. Setelah itu, BEI dan MSCI dijadwalkan kembali bertemu di level teknis untuk membahas langkah berikutnya.
Menurut Jeffrey, diskusi dengan penyedia indeks global tidak berhenti pada satu pertemuan, melainkan berlangsung terus secara intensif. Ia menilai pola komunikasi seperti ini penting agar reformasi pasar modal Indonesia dapat dipahami secara menyeluruh oleh pihak internasional.
BEI juga rutin berdialog dengan kelompok investor global, meski Jeffrey tidak mengungkap identitas entitas yang dimaksud. Ia menegaskan bahwa masukan dari investor menjadi bagian penting dalam proses penyesuaian yang sedang dijalankan.
Dampak revisi indeks global
MSCI sebelumnya mengumumkan pengeluaran 18 saham Indonesia dari konstituen indeks yang berlaku efektif pada 29 Mei 2026. Keputusan itu menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi aliran dana pada saham-saham terkait.
Dari 18 saham tersebut, dua emiten masuk kategori high shareholding concentration atau HSC. Kedua saham itu adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Selain MSCI, FTSE Russell juga mengambil langkah serupa dengan mengeluarkan DSSA dari indeks Large Cap FTSE Global Equity Index Series atau GEIS. Langkah tersebut menambah sorotan terhadap proses rebalancing indeks global yang sedang berlangsung.
Respons pasar saham Indonesia
FTSE Russell turut menghapus tiga saham lain dari kategori micro cap, yakni PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA). DAAZ dikeluarkan karena free float di bawah batas minimum, sementara HILL dan MLIA tidak memenuhi kriteria failed surveillance stocks screen.
Rangkaian keputusan dari dua penyedia indeks global itu menunjukkan bahwa penilaian terhadap emiten Indonesia tetap berjalan ketat. Dalam situasi ini, kepatuhan emiten terhadap ketentuan free float, likuiditas, dan kualitas tata kelola menjadi perhatian utama.
BEI menegaskan seluruh informasi yang diperlukan telah disampaikan kepada MSCI, FTSE Russell, dan investor global. Bursa kini menunggu masukan lanjutan agar proses reformasi pasar modal dapat berlanjut secara lebih terarah dan sesuai ekspektasi pasar internasional.
Langkah lanjutan BEI
Jeffrey menilai pertemuan lanjutan menjadi bagian penting untuk menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global. Ia berharap komunikasi yang terbuka dapat membantu menjelaskan arah kebijakan BEI secara lebih jelas.
Di sisi lain, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada dampak rebalancing terhadap pergerakan saham-saham yang masuk dan keluar indeks. Kondisi ini membuat investor memantau dengan cermat setiap pembaruan dari MSCI maupun FTSE Russell.
Dengan dialog yang masih berlanjut, BEI berupaya memastikan reformasi pasar modal tidak berhenti pada penyesuaian administratif semata. Bursa ingin agar perubahan yang dijalankan benar-benar mendukung pasar yang lebih transparan, kompetitif, dan menarik bagi investor global.
