Sarden Kalengan dan BPA, Ini Risiko Kesehatannya

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 10:08 WIB 3
Sarden Kalengan dan BPA, Ini Risiko Kesehatannya

Sarden kalengan mendadak ramai dibicarakan setelah disebut tidak masuk kategori ultra processed food atau UPF. Anggapan itu membuat sebagian orang menilai produk ini lebih sehat dari perkiraan sebelumnya, padahal penilaiannya tidak sesederhana itu. Risiko kesehatan pada makanan tidak hanya ditentukan oleh tingkat pemrosesan, tetapi juga oleh kandungan gizi dan kemungkinan paparan zat lain.

Selain natrium yang relatif tinggi, sarden kalengan juga disorot karena potensi paparan BPA atau Bisphenol A. Zat ini kerap digunakan sebagai resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan, termasuk kemasan sarden. Dalam kondisi tertentu, BPA dapat bermigrasi ke makanan dan menimbulkan risiko bila paparan terjadi terus-menerus.

Sarden Kalengan dan Label Sehat

Label non-UPF pada sarden kalengan tidak otomatis berarti produk tersebut aman dikonsumsi tanpa batas. Kategori pemrosesan hanya menjadi salah satu acuan, bukan satu-satunya penentu kualitas kesehatan makanan. Karena itu, masyarakat tetap perlu melihat komposisi, kadar garam, dan frekuensi konsumsi.

Dalam sistem klasifikasi NOVA, makanan dikelompokkan berdasarkan tingkat pemrosesan. Namun, penilaian sehat atau tidaknya produk juga dipengaruhi oleh nilai gizi dan potensi kontaminan. Hal ini membuat sarden kalengan tetap perlu dibaca secara kritis meski tidak masuk kelompok UPF.

Sarden kalengan umumnya praktis dan mudah disimpan untuk kebutuhan sehari-hari. Kelebihan itu membuatnya populer sebagai stok makanan di rumah. Meski demikian, kemudahan konsumsi tidak boleh mengabaikan aspek keamanan pangan.

Ahli kesehatan menilai, makanan yang dianggap lebih alami belum tentu bebas risiko. Pada produk kaleng, faktor kemasan ikut menentukan kualitas akhir makanan yang dikonsumsi. Karena itu, pembahasan soal sarden kalengan perlu dilihat secara menyeluruh.

Perhatian pada Kandungan Natrium

Salah satu sorotan utama pada sarden kalengan adalah kadar natrium yang cenderung tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan natrium dapat berkontribusi pada masalah tekanan darah. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi orang dengan riwayat hipertensi atau penyakit jantung.

Natrium dalam makanan olahan sering kali berfungsi sebagai pengawet dan penambah rasa. Namun, konsumsi yang terlalu sering dapat membuat asupan garam harian melampaui kebutuhan tubuh. Pada akhirnya, hal ini dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang.

Karena itu, pembatasan porsi menjadi langkah yang disarankan. Konsumen dapat menyeimbangkan sarden kalengan dengan makanan segar seperti sayuran dan buah. Pola makan yang beragam akan membantu menekan risiko dari kandungan natrium yang berlebih.

Label nutrisi pada kemasan perlu dibaca sebelum produk dibeli. Informasi tersebut dapat membantu menilai jumlah natrium per sajian dengan lebih akurat. Dengan begitu, konsumen bisa membuat pilihan yang lebih bijak sesuai kebutuhan kesehatan.

Risiko BPA pada Kemasan

Selain natrium, kekhawatiran lain datang dari potensi paparan BPA pada lapisan kaleng. BPA merupakan senyawa yang dapat digunakan pada resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kemasan makanan. Fungsinya adalah membantu melindungi produk dari kontak langsung dengan logam kaleng.

Masalah muncul ketika BPA bermigrasi ke makanan dalam kondisi tertentu. Pemanasan, penyimpanan yang tidak tepat, atau kerusakan lapisan kaleng dapat memperbesar kemungkinan pelepasan partikel. Bila paparan berlangsung terus-menerus, risiko bagi kesehatan dapat meningkat.

Riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023 menemukan migrasi BPA dalam kadar kecil. Hasilnya masih berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari. Meski demikian, temuan ini tidak serta-merta meniadakan kewaspadaan terhadap paparan jangka panjang.

Para ahli menekankan bahwa paparan di bawah ambang regulasi umumnya tidak menimbulkan dampak kesehatan langsung. Namun, akumulasi paparan dari berbagai sumber tetap menjadi perhatian. Karena itu, konsumsi makanan kaleng sebaiknya dilakukan secara proporsional.

Dampak dan Cara Mengurangi Risiko

Menurut praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, konsumsi makanan yang tercemar BPA secara terus-menerus dapat mengganggu kesehatan. Dampaknya dapat berkaitan dengan kesehatan metabolik, gangguan hormonal, hingga risiko kanker. Pernyataan itu menegaskan bahwa paparan berulang tidak boleh dianggap remeh.

Gangguan hormonal terjadi karena BPA diduga dapat memengaruhi sistem endokrin tubuh. Pada jangka panjang, kondisi ini berpotensi berdampak pada keseimbangan metabolisme. Karena itu, perhatian terhadap sumber paparan menjadi penting dalam pola makan harian.

Langkah pencegahan bisa dimulai dari memilih produk kemasan yang utuh dan tidak rusak. Produk yang penyok, menggelembung, atau mengalami perubahan warna sebaiknya tidak dikonsumsi. Selain itu, makanan kaleng sebaiknya tidak dipanaskan langsung di dalam wadahnya jika tidak disarankan oleh produsen.

Konsumen juga dianjurkan membatasi frekuensi makan sarden kalengan dan memperbanyak bahan pangan segar. Dengan pola konsumsi yang seimbang, risiko dari natrium dan BPA dapat ditekan. Sikap kritis terhadap label dan kemasan menjadi kunci untuk menjaga kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!