Ayu Azhari mengungkap perannya tidak hanya sebagai pemain, tetapi juga sebagai bagian penting di balik layar film Suamiku Lukaku produksi SinemArt. Aktris berusia 57 tahun itu membantu mencari dan menentukan lokasi syuting yang dinilai paling tepat, dengan Bangka akhirnya dipilih sebagai latar utama film yang dibintangi Acha Septriasa dan Baim Wong.
Dalam keterangannya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Ayu menyebut proses itu dilakukan dengan berkoordinasi ke sejumlah daerah, termasuk Palembang dan Bangka. Ia juga menilai pemilihan Bangka memiliki makna emosional karena terkait dengan riwayat keluarganya dan sekaligus memberi ruang bagi keindahan daerah itu tampil di layar lebar.
Peran Ayu Azhari
Ayu Azhari mengatakan dirinya ikut membantu proses pencarian lokasi syuting agar latar film terasa sesuai dengan cerita. Ia mengoordinasikan sejumlah kemungkinan tempat sebelum akhirnya Bangka dipilih sebagai lokasi utama. Menurutnya, respons dari pemerintah daerah berlangsung cepat dan mendukung proses survei lokasi.
Ia menuturkan, keterlibatannya bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk dukungan nyata terhadap kelancaran produksi. Ayu menyebut surat permohonan yang dikirim kepada pemerintah daerah diterima dengan baik, sehingga tim dapat melakukan peninjauan. Situasi itu membuat proses persiapan berjalan lebih efektif dan terarah.
Bagi Ayu, kesempatan itu juga menjadi pengalaman kerja yang berkesan karena ia dapat terlibat langsung dalam aspek kreatif di luar akting. Ia menilai sebuah film akan terasa lebih kuat jika latarnya memiliki kedekatan dengan cerita yang dibangun. Karena itu, ia merasa bangga dapat ikut memastikan lokasi yang dipilih benar-benar mendukung suasana film.
Bangka dan makna emosional
Pemilihan Bangka sebagai lokasi syuting utama memiliki arti khusus bagi Ayu Azhari. Ia menjelaskan bahwa keluarganya memiliki hubungan panjang dengan daerah tersebut, mulai dari ayahnya yang lahir di Pangkal Pinang hingga garis keluarga dari Bangka. Hubungan emosional itu membuat proyek film terasa lebih personal baginya.
Ayu juga menyebut keluarganya sudah lama memiliki keterkaitan dengan Bangka sejak sebelum kemerdekaan. Ia menilai hal tersebut seperti menjadi bagian dari perjalanan hidup yang kembali tersambung lewat produksi film ini. Karena itu, ia menganggap keberhasilan syuting di Bangka sebagai sesuatu yang patut disyukuri.
Menurutnya, kehadiran film ini diharapkan dapat sekaligus memperlihatkan pesona Bangka kepada penonton nasional. Ia menilai lokasi yang indah dan suasana daerah dapat memberi nilai tambah bagi cerita. Ayu berharap masyarakat setempat merasa bangga karena daerahnya tampil dalam karya layar lebar.
Pesan soal KDRT
Di balik kisah rumah tangga yang ditampilkan dalam film, Ayu Azhari ingin menyampaikan pesan penting tentang kekerasan dalam rumah tangga. Ia menekankan bahwa perempuan berhak merasa aman dan bahagia dalam pernikahan. Menurutnya, kekerasan tidak boleh dinormalisasi dalam relasi suami istri.
Ayu menilai film ini relevan karena menggambarkan sisi lain rumah tangga yang tampak harmonis di depan publik, tetapi menyimpan luka di belakang layar. Karakter Amina, yang diperankan Acha Septriasa, harus menghadapi kekerasan fisik dan verbal dari suaminya. Melalui cerita tersebut, ia berharap penonton lebih peka terhadap tanda-tanda relasi yang tidak sehat.
Ia juga mengajak masyarakat, terutama perempuan, untuk berani berbicara ketika menghadapi kekerasan. Pesan itu, menurut Ayu, penting agar korban tidak merasa sendirian dan memiliki keberanian mencari pertolongan. Ia menegaskan bahwa setiap orang berhak atas kehidupan rumah tangga yang sehat dan setara.
Edukasi untuk generasi muda
Ayu Azhari turut mengajak putranya, Lenon Tramp, menonton film itu sebagai bagian dari edukasi keluarga. Ia ingin generasi muda memahami bahwa hubungan yang tampak baik di luar belum tentu sehat di dalam. Menurutnya, pengalaman menonton film dapat membuka kesadaran tentang bahaya hubungan toxic.
Ia mengatakan film ini penting untuk anak muda karena menampilkan berbagai bentuk red flag yang kerap tidak disadari. Risiko hubungan bermasalah, menurut Ayu, tidak hanya terjadi dalam pernikahan, tetapi juga bisa muncul di pertemanan, keluarga, maupun lingkungan sekolah. Karena itu, kewaspadaan menjadi hal yang perlu dibangun sejak dini.
Ayu berharap generasi Z bisa lebih peduli pada self care dan kesehatan mental setelah menonton film tersebut. Ia menilai kesehatan mental merupakan fondasi penting dalam membangun masa depan yang kuat dan sukses. Melalui film Suamiku Lukaku, ia ingin pesan itu sampai dengan jelas kepada penonton muda.
