Jasa titip atau jastip kini tidak lagi terbatas pada pembelian makanan dan barang, melainkan merambah layanan antrean. Tren baru ini muncul melalui jasa titip antrean atau joki antrean, yang memungkinkan pelanggan membayar orang lain untuk menunggu giliran di lokasi tertentu.
Salah satu pelaku yang melihat peluang tersebut adalah Elan Setiawan, pengembang aplikasi Antriin.id. Ia menilai layanan jastip antrean selama ini sudah berjalan di media sosial, tetapi belum memiliki wadah terpusat yang memudahkan pelanggan menggunakannya secara lebih praktis.
Jastip antrean jadi digital
Elan menjelaskan, gagasan membangun Antriin.id muncul karena ia melihat layanan serupa tersebar di WhatsApp dan Instagram. Dari situ, ia menilai layanan tersebut bisa dikembangkan menjadi satu platform aplikasi yang lebih terstruktur. Menurut dia, konsep itu dirancang agar pelanggan tidak perlu mencari jasa secara manual di berbagai kanal.
Aplikasi Antriin.id mulai dikembangkan sejak awal 2025 dan diluncurkan pada pertengahan tahun yang sama. Pada tahap awal, platform ini hanya memiliki sekitar 100 mitra yang tersebar di beberapa titik. Seluruh proses pengembangan hingga operasional, kata Elan, dijalankan sendiri.
Ia menyebut, pekerjaan desain konsep dan penulisan kode dimulai pada awal 2025. Kemudian, peluncuran awal dilakukan pada pertengahan Juli 2025 untuk fokus mencari mitra terlebih dahulu. Permintaan antrean untuk publik baru dibuka pada Oktober 2025 setelah jaringan mitra dinilai siap.
Model kerja layanan ini dibuat menyerupai aplikasi transportasi daring, sehingga pengguna dapat memesan jasa melalui ponsel. Pelanggan mengunduh aplikasi, menentukan lokasi antre, lalu melihat estimasi biaya yang muncul di sistem. Dengan cara ini, layanan antrean dibuat lebih mudah diakses dan lebih terukur.
Skema tarif dan mitra
Dalam sistem Antriin.id, orang yang menjalankan tugas menunggu antrean disebut mitra. Mitra tersebut mewakili pelanggan di lokasi tujuan sesuai permintaan yang masuk melalui aplikasi. Skema ini membuat layanan tidak bergantung pada satu titik saja, melainkan tersebar mengikuti sebaran mitra.
Elan menjelaskan, permintaan antrean baru dapat dibuat jika ada mitra di sekitar lokasi dengan radius minimal 1 kilometer dan maksimal 10 kilometer. Karena itu, penempatan mitra dilakukan di sejumlah titik Jakarta agar sistem dapat berjalan efektif. Setelah jaringan mitra terbentuk, layanan mulai dibuka secara bertahap untuk publik.
Tarif jasa antre dipatok Rp30.000 hingga Rp40.000 per jam. Dengan skema tersebut, mitra berpotensi memperoleh penghasilan sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 per hari, tergantung jumlah pesanan dan durasi antrean. Menurut Elan, pendapatan itu bergantung pada seberapa aktif mitra mengambil order.
Ia menambahkan, sistem ini juga dirancang agar lebih transparan bagi pengguna. Estimasi harga muncul di aplikasi sebelum pesanan dibuat, sehingga pelanggan dapat mempertimbangkan biaya sejak awal. Di sisi lain, mitra juga mengetahui batas layanan yang harus mereka jalankan.
Batas satu mitra
Antriin.id menerapkan aturan bahwa satu mitra hanya boleh mengambil satu antrean dalam satu waktu. Kebijakan ini dibuat untuk menjaga fokus layanan dan menghindari penumpukan pesanan. Elan menegaskan, sistem tersebut berbeda dengan anggapan bahwa satu joki antre bisa melayani banyak order sekaligus.
Menurut dia, penyederhanaan sistem menjadi penting agar kualitas layanan tetap terjaga. Dengan satu mitra untuk satu antrean, pelanggan dapat memperoleh kepastian siapa yang sedang mewakili mereka. Pola ini juga membantu perusahaan mengontrol durasi dan status antrean secara lebih akurat.
Elan menampik anggapan bahwa jasa titip antre selalu identik dengan antrean makanan viral. Ia mengatakan, layanan yang dibuka di platformnya juga mencakup antre rumah sakit. Dengan demikian, jastip antrean tidak hanya menyasar kebutuhan gaya hidup, tetapi juga kebutuhan yang lebih mendesak.
Perluasan layanan tersebut menunjukkan bahwa pasar jastip antre memiliki potensi yang lebih luas. Pada praktiknya, pelanggan mencari efisiensi waktu, sementara mitra mencari sumber penghasilan tambahan. Kombinasi itu membuat layanan antrean digital semakin relevan di tengah pola hidup perkotaan.
Pertumbuhan di Jabodetabek
Seiring meningkatnya permintaan, jumlah mitra Antriin.id kini bertambah menjadi lebih dari 230 orang. Para mitra tersebut tersebar di wilayah Jabodetabek, sehingga jangkauan layanan menjadi lebih luas. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya minat yang cukup besar terhadap model jasa antre berbasis aplikasi.
Keberadaan mitra di sejumlah titik juga membantu sistem berjalan lebih cepat. Saat ada permintaan masuk, platform dapat menghubungkan pelanggan dengan mitra terdekat yang memenuhi radius layanan. Mekanisme ini dibuat agar waktu tunggu tidak terlalu panjang dan proses antrean lebih efisien.
Dari sisi pasar, layanan seperti ini memperlihatkan bagaimana kebutuhan harian dapat diubah menjadi peluang bisnis digital. Elan melihat, selama ada kebutuhan antre dan orang yang bersedia menjalankannya, layanan semacam ini akan tetap relevan. Ia pun membuka ruang ekspansi untuk layanan yang lebih beragam di masa depan.
Fenomena jastip antrean menjadi contoh bagaimana kreativitas teknologi dapat menjawab kebutuhan sederhana namun nyata. Dari sekadar menunggu giliran, aktivitas antre kini bertransformasi menjadi layanan berbayar yang terorganisasi. Dalam ekosistem ini, waktu menjadi komoditas yang dapat dibeli dan dijual secara legal melalui aplikasi.
