Ahli Kesehatan Ingatkan Real Food Tetap Lebih Sehat

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 22:35 WIB 2
Ahli Kesehatan Ingatkan Real Food Tetap Lebih Sehat

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah sebagian pihak menilai produk tersebut bukan termasuk Ultra Processed Food (UPF). Namun, praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa pilihan paling sehat tetap berada pada real food.

Menurut dr Aru, makanan olahan umumnya dibuat dengan campuran atau tambahan bahan yang keamanan penggunaannya tidak selalu bisa dikontrol secara penuh. Ia menyampaikan pandangan itu dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (21/5/2026).

Real Food Tetap Utama

dr Aru menilai, real food merupakan pilihan terbaik bagi kesehatan tubuh. Ia menekankan bahwa proses pengolahan pada makanan olahan sering kali menyisakan ruang ketidakpastian.

Ia menyebut, masyarakat tidak selalu mengetahui secara detail bagaimana makanan olahan dibuat. Karena itu, kehati-hatian diperlukan sebelum mengonsumsinya secara rutin.

Dalam pandangannya, semakin sederhana bahan makanan yang dikonsumsi, semakin kecil pula risiko paparan zat tambahan yang tidak diinginkan. Kondisi itu membuat makanan segar tetap lebih unggul dibanding produk yang telah melalui banyak tahap pengolahan.

Risiko Makanan Olahan

dr Aru mengaitkan maraknya konsumsi makanan olahan dengan meningkatnya persoalan kesehatan di masyarakat. Ia menyebut angka kejadian penyakit saat ini cenderung lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

Ia menilai, banyak orang yang memasuki usia 30 tahun sudah mengalami gangguan metabolik. Tekanan darah tinggi dan diabetes, menurutnya, kini juga banyak ditemukan pada usia muda.

Fenomena tersebut, lanjutnya, menjadi peringatan bahwa pola makan perlu mendapat perhatian lebih serius. Konsumsi makanan olahan yang berlebihan dapat memperbesar risiko munculnya penyakit tidak menular.

Kesehatan Usia Muda

Menurut dr Aru, kasus hipertensi dan diabetes pada kelompok usia muda kini semakin sering ditemukan. Ia menyebut tren itu sebagai kondisi yang tidak bisa dianggap sepele.

Ia menegaskan bahwa penyakit metabolik tidak lagi identik dengan usia lanjut. Pola hidup dan pilihan makanan, katanya, berperan besar dalam memengaruhi kondisi kesehatan generasi muda.

Karena itu, masyarakat disarankan untuk mulai lebih selektif dalam memilih asupan harian. Kebiasaan kecil seperti mengurangi makanan olahan dapat membantu menjaga kesehatan jangka panjang.

Praktis Bukan Berarti Aman

Meski demikian, dr Aru mengakui tidak semua orang bisa secara konsisten mengandalkan real food. Kesibukan kerja dan aktivitas harian membuat banyak orang kesulitan belanja serta memasak makanan segar.

Dalam situasi seperti itu, sebagian masyarakat akhirnya memilih makanan olahan karena lebih praktis. Pilihan tersebut dianggap sebagai jalan tengah ketika waktu untuk menyiapkan makanan sendiri sangat terbatas.

Namun, ia mengingatkan bahwa kepraktisan tidak selalu sejalan dengan manfaat kesehatan. Masyarakat tetap perlu mengatur porsi, frekuensi, serta kualitas makanan olahan yang dikonsumsi agar risikonya tidak semakin besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!