Faisal memanfaatkan momen Hari Raya Idul Adha untuk mengajarkan nilai berbagi kepada cucu semata wayangnya, Gala Sky Andriansyah. Bersama keluarga besar, ayah mendiang Bibi Ardiansyah itu mengajak Gala menyaksikan langsung proses kurban di Jakarta Barat, Rabu (27/5/2026).
Rangkaian kegiatan dimulai dengan salat Idul Adha berjemaah di masjid sekitar kediamannya, lalu dilanjutkan ziarah ke makam mendiang Vanessa Angel dan Bibi Ardiansyah. Setelah itu, Faisal membawa Gala melihat hewan kurban yang telah disiapkan oleh anak-anaknya, Fujianti Utami dan Fadly Faisal.
Nilai Berbagi Idul Adha
Faisal menegaskan bahwa Idul Adha menjadi momentum penting untuk menanamkan kebiasaan berbagi sejak dini. Ia ingin anak dan cucunya merasakan bahwa kebahagiaan lebaran tidak hanya hadir dari keluarga sendiri, tetapi juga dari kepedulian kepada sesama. Menurut dia, semangat berkurban harus dipahami sebagai bagian dari pembentukan karakter. Karena itu, ia sengaja melibatkan Gala dalam berbagai kegiatan hari raya.
Dalam pandangannya, kebiasaan berbagi perlu dikenalkan melalui pengalaman langsung agar lebih mudah dipahami anak-anak. Ia menilai anak akan lebih cepat mengerti makna kepedulian ketika melihat proses kurban secara nyata. Suasana Idul Adha pun menjadi ruang edukasi yang hangat di tengah keluarga. Cara tersebut dianggap lebih efektif daripada sekadar memberi penjelasan secara lisan.
Faisal mengatakan bahwa ajakan untuk berbagi merupakan bagian dari pendidikan keluarga yang terus ia jaga. Ia ingin nilai empati tumbuh bersamaan dengan kebiasaan religius yang dijalankan sejak kecil. Menurutnya, anak yang terbiasa melihat orang tua peduli akan lebih mudah meniru perilaku serupa. Hal itu menjadi dasar bagi pembentukan kepribadian yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah kebersamaan itu, Faisal menilai Idul Adha bukan hanya soal ibadah, tetapi juga soal relasi sosial. Momen kurban, menurut dia, mengajarkan bahwa rezeki yang dimiliki perlu disalurkan kepada orang lain. Ia menyebut rasa syukur akan lebih bermakna jika disertai tindakan nyata untuk membantu sesama. Prinsip itu yang ingin ia wariskan kepada Gala sejak usia dini.
Ziarah dan Doa Keluarga
Sebelum melihat hewan kurban, keluarga Faisal terlebih dahulu melakukan ziarah ke makam Vanessa Angel dan Bibi Ardiansyah. Kegiatan itu menjadi bagian dari tradisi keluarga untuk mengenang orang-orang terdekat yang telah wafat. Bagi Faisal, ziarah bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk penghormatan yang perlu dijaga. Ia juga ingin Gala mengenal akar keluarganya dengan lebih baik.
Faisal menilai ziarah dapat menjadi sarana pendidikan emosional bagi anak dan cucu. Melalui kegiatan itu, mereka diajarkan untuk menghormati orang tua yang telah tiada dan tetap menjaga silaturahmi dengan keluarga besar. Ia percaya nilai hormat dan kepedulian tidak bisa muncul begitu saja tanpa pembiasaan. Karena itu, momen Idul Adha dijadikan kesempatan untuk menanamkan keduanya secara bersamaan.
Ia mengatakan bahwa doa untuk keluarga yang telah wafat tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi tersebut, menurut dia, membantu anak memahami bahwa kasih sayang tidak berhenti meski seseorang telah tiada. Dengan begitu, nilai keluarga tetap hidup dalam ingatan dan perilaku. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa kebersamaan harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Di sisi lain, ziarah bersama keluarga memperkuat ikatan antaranggota keluarga yang masih ada. Faisal menilai kebersamaan seperti ini membuat anak melihat bahwa keluarga besar memiliki peran penting dalam tumbuh kembangnya. Dalam suasana Idul Adha, nilai spiritual dan nilai sosial berjalan beriringan. Keduanya lalu menjadi pondasi penting dalam pendidikan keluarga yang ia terapkan.
Gala Belajar Empati
Saat diajak mendekati hewan kurban, Gala sempat menunjukkan reaksi malu-malu dan sedikit takut. Faisal menganggap reaksi itu wajar karena cucunya sedang berada dalam proses mengenal situasi baru. Ia tidak memaksakan, melainkan membiarkan Gala beradaptasi secara perlahan. Menurutnya, empati tumbuh dari kebiasaan melihat, memahami, lalu menghargai.
Faisal menyebut bahwa pengenalan lingkungan seperti ini penting untuk melatih keberanian anak. Dengan melihat hewan kurban secara langsung, Gala belajar bahwa kurban adalah bagian dari ibadah yang memiliki nilai sosial. Ia ingin cucunya memahami bahwa ketakutan kecil bukan alasan untuk menjauh dari pengalaman baru. Justru dari situ, anak dapat belajar mengelola perasaan dan menghargai proses.
Pengalaman itu juga menjadi ruang bagi Gala untuk belajar menghormati perasaan orang lain. Faisal menilai anak yang memahami arti berbagi akan lebih mudah memiliki rasa peduli terhadap sesama. Ia ingin Gala tumbuh dengan karakter yang tidak hanya berani, tetapi juga peka. Karena itu, setiap momen sederhana di keluarga dimanfaatkan sebagai pelajaran hidup.
Menurut Faisal, pendidikan karakter pada anak tidak selalu harus dilakukan melalui cara yang formal. Aktivitas sehari-hari, termasuk menyaksikan kurban, bisa menjadi media pembelajaran yang kuat. Ia percaya pengalaman langsung akan tertanam lebih lama dalam ingatan anak. Dengan demikian, nilai empati dan kepedulian dapat berkembang secara alami sejak usia dini.
Kurban Jadi Teladan
Faisal juga mengaku bangga karena anak-anaknya kini memiliki inisiatif sendiri untuk berkurban. Ia mengatakan Fuji dan Fadly tidak lagi menunggu diminta, melainkan sudah menyiapkan kurban dari jauh-jauh hari. Sikap itu, menurut dia, menunjukkan bahwa nilai berbagi mulai tertanam dalam keluarga. Baginya, itulah buah dari pendidikan yang selama ini dijaga.
Pada Idul Adha tahun ini, Fuji diketahui berkurban satu ekor sapi dengan bobot sekitar 700 kilogram. Fadly Faisal juga menyiapkan kurban dengan berat yang hampir serupa, ditambah beberapa ekor kambing. Faisal menilai langkah anak-anaknya sebagai bentuk kesadaran yang patut diapresiasi. Ia menyebut inisiatif tersebut lahir dari pemahaman, bukan sekadar kewajiban.
Ia bahkan menyebut anak-anaknya sudah lebih dulu memberi kabar terkait hewan kurban yang akan dipotong. Menurut Faisal, perhatian seperti itu menunjukkan tanggung jawab dan kepedulian yang tumbuh di lingkungan keluarga. Ia merasa bersyukur karena pesan berbagi yang diberikan selama ini tidak berhenti di tataran ucapan. Nilai tersebut mulai terlihat dalam tindakan nyata.
Faisal menegaskan bahwa pola asuh keluarganya memang menitikberatkan pada pembentukan karakter peduli sejak kecil. Ziarah, kurban, dan kebersamaan keluarga dianggapnya sebagai paket lengkap untuk mengajarkan hormat, syukur, dan empati. Ia berharap Gala dan generasi berikutnya tumbuh sebagai pribadi yang tidak lupa berbagi saat memiliki rezeki. Bagi Faisal, itulah warisan paling berharga dari Idul Adha.
