Sarden Kalengan dan UPF: Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Clara Monica 29 Mei 2026 00:52 WIB 2
Sarden Kalengan dan UPF: Ini Penjelasan Ahli

Media sosial tengah ramai membahas sarden kalengan dan produk sejenis setelah banyak warganet baru mengetahui bahwa makanan ini tidak selalu masuk kategori ultra processed food atau UPF. Perbincangan itu memunculkan pertanyaan baru, apakah label UPF otomatis berarti tidak sehat, dan apakah produk non-UPF pasti lebih baik.

Di balik perdebatan tersebut, ikan kalengan tetap merupakan pangan olahan karena melalui proses pengawetan untuk memperpanjang masa simpan. Namun, statusnya tidak bisa disamakan begitu saja dengan makanan ultra proses, sebab komposisi tiap merek bisa sangat berbeda.

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan menjadi sorotan karena dianggap berada di wilayah abu-abu antara makanan olahan dan makanan ultra proses. Banyak konsumen mengira seluruh produk kaleng pasti identik dengan UPF, padahal klasifikasinya bergantung pada bahan dan tingkat pemrosesan.

Secara umum, ikan kalengan tetap melewati proses sterilisasi agar mikroorganisme tidak tumbuh selama penyimpanan. Proses ini membuat produk lebih awet, tetapi tidak otomatis menjadikannya makanan yang buruk bagi kesehatan.

Perdebatan yang viral muncul karena sebagian orang menilai label UPF terlalu sederhana untuk menilai kualitas gizi. Dalam praktiknya, yang lebih penting adalah melihat komposisi, kadar natrium, serta frekuensi konsumsi.

Komposisi Sarden Kalengan

Pantauan pada sejumlah produk ikan kalengan menunjukkan bahan utama umumnya adalah ikan, seperti sarden, makarel, atau tuna. Persentase ikan pada tiap produk berbeda, ada yang mencapai sekitar 60 persen, sementara lainnya hanya berada di kisaran 20 persen.

Selain ikan, produsen biasanya menambahkan air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan rempah-rempah. Pada beberapa merek, komposisinya masih sederhana dan menyerupai bahan masakan rumahan.

Minyak digunakan untuk menjaga tekstur ikan tetap lembut setelah proses sterilisasi suhu tinggi. Saus tomat dan garam natrium juga berperan dalam menjaga rasa sekaligus membantu stabilitas produk selama penyimpanan.

Pengawet dan Bahan Tambahan

Pada sebagian produk, terdapat bahan tambahan seperti natrium benzoat untuk membantu menghambat pertumbuhan mikroba. Bahan ini lazim digunakan agar produk lebih stabil selama masa simpan yang panjang.

Beberapa produk juga mengandung MSG atau mononatrium L-glutamat untuk memperkuat cita rasa gurih. Selain itu, ditemukan pula pati termodifikasi, asam sitrat, dan gum yang berfungsi menjaga kekentalan serta kestabilan saus.

Bahan seperti pengawet, penguat rasa, pengental, dan pengemulsi kerap dikaitkan dengan UPF dalam klasifikasi NOVA. Meski begitu, penggunaan bahan tersebut tetap berada dalam batas keamanan yang diatur oleh regulasi pangan.

Cara Memilih Lebih Bijak

Konsumen sebaiknya membaca label komposisi sebelum membeli sarden kalengan. Produk dengan daftar bahan yang lebih pendek dan kadar natrium lebih rendah umumnya lebih mudah dipertimbangkan untuk konsumsi harian.

Memilih produk juga sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan pola makan masing-masing. Sarden kalengan bisa menjadi sumber protein yang praktis, tetapi tetap perlu diimbangi dengan sayur, buah, dan makanan segar.

Penilaian terhadap makanan tidak cukup hanya berdasarkan label UPF atau non-UPF. Yang lebih relevan adalah melihat kualitas bahan, porsi konsumsi, serta konteks pola makan secara keseluruhan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!