Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital melalui pemanfaatan teknologi 5G. Meski telah diperkenalkan sejak lima tahun lalu, adopsi jaringan seluler generasi kelima di Tanah Air masih tergolong rendah.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan 5G bukan lagi sekadar peningkatan layanan seluler, melainkan fondasi bagi perkembangan kecerdasan buatan, cloud, dan otomatisasi industri. Ia menyebut infrastruktur digital yang kuat akan menjadi penentu bagi ambisi Indonesia dalam Visi Indonesia Emas 2045.
5G Dorong Ekonomi Digital
Nora menilai 5G harus ditempatkan sebagai prioritas utama jika Indonesia ingin menjadi ekonomi digital yang kompetitif. Menurut dia, jaringan ini berperan sebagai infrastruktur kritikal dalam proses digitalisasi nasional.
Ia menjelaskan bahwa target menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2045 memerlukan dukungan ekosistem digital yang matang. Karena itu, investasi pada jaringan 5G dinilai tidak bisa ditunda lagi.
Dalam sambutannya di IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu, 29 April 2026, Nora menegaskan bahwa 5G adalah elemen penting dalam perjalanan transformasi digital. Ia menilai percepatan adopsi akan menentukan daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.
Adopsi 5G Masih Rendah
Secara global, 5G menjadi teknologi seluler dengan adopsi tercepat sejak era 2G. Teknologi ini berkembang pesat karena menawarkan efisiensi energi yang lebih baik, kecepatan tinggi, dan latensi yang lebih rendah.
Berdasarkan laporan Ericsson Mobility, jumlah pelanggan 5G global mencapai sekitar 2,9 miliar pada akhir tahun lalu. Angka itu diproyeksikan melonjak menjadi 6,4 miliar pada 2031.
Di Indonesia, kontribusi 5G diperkirakan akan mencapai lebih dari 30 persen dari total langganan seluler pada 2030. Namun, saat ini penetrasi 5G masih berada di bawah 10 persen, meski seluruh pelaku industri tengah berupaya mempercepat adopsinya.
5G Buka Peluang Baru
Menurut Nora, data GSMA menunjukkan implementasi 5G berpotensi menambah sekitar USD 41 miliar terhadap produk domestik bruto Indonesia hingga 2030. Nilai tersebut dinilai besar karena 5G akan membuka ruang inovasi di berbagai sektor strategis.
Sektor yang paling berpeluang merasakan dampaknya antara lain manufaktur pintar, smart city, layanan kesehatan digital, pendidikan, logistik, dan energi. Dengan konektivitas yang lebih andal, digitalisasi di sektor-sektor tersebut dapat berjalan lebih efisien.
Nora menegaskan bahwa 5G bukan hanya soal konektivitas, melainkan juga pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai kehadiran teknologi ini dapat memperluas peluang usaha dan meningkatkan produktivitas berbagai industri.
AI Butuh Jaringan Andal
Ericsson melihat peluang terbesar 5G justru berada pada otomatisasi industri berskala besar. Dalam konteks itu, kecerdasan buatan membutuhkan jaringan yang stabil, cepat, dan responsif.
Jaringan 5G dinilai mampu menyediakan dukungan optimal bagi sistem yang memerlukan pengiriman data secara real time. Kondisi ini menjadi penting bagi sektor industri yang bergantung pada pengambilan keputusan cepat.
Perusahaan menilai masa depan transformasi digital Indonesia akan ditentukan oleh tiga pilar utama, yakni AI, cloud, dan mobile connectivity berbasis 5G. Semakin masif pemanfaatan AI, semakin besar pula dorongan bagi peningkatan adopsi 5G di Indonesia.
Transformasi Digital Perlu Akselerasi
Nora menekankan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk melompat lebih cepat dalam ekonomi digital. Namun, peluang itu hanya dapat dimanfaatkan jika infrastruktur digital dibangun secara serius dan berkelanjutan.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, operator telekomunikasi, dan pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat penyebaran 5G. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, penetrasi jaringan diharapkan dapat meningkat lebih cepat.
Menurut dia, percepatan adopsi 5G akan membawa manfaat luas, mulai dari efisiensi layanan publik hingga pertumbuhan industri berbasis teknologi. Karena itu, 5G dipandang bukan sekadar tren, melainkan fondasi penting bagi masa depan ekonomi Indonesia.
