Yield Obligasi AS Naik ke Level Tertinggi, Pasar Global Tertekan

Forex & Saham Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 20:02 WIB 2
Yield Obligasi AS Naik ke Level Tertinggi, Pasar Global Tertekan

Imbal hasil obligasi Amerika Serikat kembali tertekan oleh meningkatnya persepsi inflasi di Negeri Paman Sam, seiring pasar menilai dampak perang Iran terhadap ekonomi global. Kenaikan yield Treasury memicu kekhawatiran bahwa biaya pinjaman di AS dan negara lain akan ikut naik, sementara investor mulai meninggalkan obligasi pemerintah.

Mengutip CNN, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun naik menjadi 5,2 persen, level tertinggi sejak 2007. Adapun tenor 10 tahun, yang kerap menjadi acuan suku bunga hipotek, bergerak ke 4,67 persen, level tertinggi dalam lebih dari setahun.

Yield Obligasi AS Menguat

Lonjakan imbal hasil terjadi ketika pasar semakin khawatir inflasi akan bertahan lebih lama dari perkiraan. Nigel Green, CEO deVere Group, mengatakan pasar obligasi memberi sinyal bahwa inflasi bisa jauh lebih sulit dikendalikan daripada yang diperkirakan banyak investor.

Investor juga menimbang kondisi fiskal pemerintah AS yang dinilai tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Kekhawatiran terhadap arah suku bunga The Fed membuat permintaan terhadap Treasury melemah, sehingga harga obligasi turun dan yield naik.

Dalam mekanisme pasar obligasi, kenaikan yield berarti investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk menutup risiko inflasi. Situasi ini mempertegas bahwa tekanan harga tidak hanya memengaruhi pasar keuangan, tetapi juga ekspektasi ekonomi secara luas.

Dampak Biaya Pinjaman

Kenaikan yield Treasury berpotensi mendorong biaya pinjaman di seluruh perekonomian AS. Imbasnya dapat terasa pada suku bunga hipotek, kredit kendaraan, hingga pinjaman usaha.

Pasar obligasi pemerintah memiliki peran penting dalam menentukan harga pendanaan di banyak sektor. Ketika imbal hasil naik, pelaku usaha dan konsumen umumnya menghadapi beban bunga yang lebih besar.

Di pasar saham, kondisi ini juga menambah tekanan karena valuasi ekuitas menjadi kurang menarik saat suku bunga meningkat. Investor cenderung menilai ulang prospek laba perusahaan ketika biaya modal bergerak lebih tinggi.

Gejolak Pasar Global

Perang antara AS dan Iran ikut memicu guncangan pada pasar energi global. Dampaknya mulai merembet ke sektor lain, termasuk harga pangan dan tiket pesawat.

Tekanan tidak hanya dirasakan obligasi AS, tetapi juga pasar utang di berbagai negara. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun disebut mencapai level tertinggi sejak 1998, sementara tenor 30 tahun Jepang menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Investor global terlihat melepas obligasi karena khawatir inflasi dan defisit pemerintah akan terus membesar. Aksi jual tersebut memperkuat tren kenaikan yield di banyak pasar utama dunia.

Prospek Kebijakan The Fed

Imbal hasil obligasi Treasury tenor dua tahun juga naik ke level tertinggi, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Kenaikan ini menandakan sebagian investor percaya bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga saat ini, atau bahkan menaikkannya dalam beberapa bulan mendatang.

Pergerakan tersebut bertentangan dengan keinginan Presiden AS Donald Trump yang menghendaki suku bunga lebih rendah. Situasi ini terjadi bersamaan dengan penetapan Kevin Warsh sebagai pimpinan bank sentral AS.

Di sisi lain, pasar saham AS sempat melemah pada perdagangan Selasa, dengan Dow Jones turun 322 poin, S&P 500 melemah 0,67 persen, dan Nasdaq turun 0,84 persen. Tekanan pada indeks utama menunjukkan bahwa kenaikan yield obligasi masih menjadi faktor utama yang membebani sentimen investor.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!