Sarden Kalengan dan Risiko BPA yang Perlu Dipahami

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 21:25 WIB 3
Sarden Kalengan dan Risiko BPA yang Perlu Dipahami

Sarden kalengan mendadak ramai dibicarakan setelah disebut bukan termasuk produk ultra processed food atau UPF. Label tersebut sempat memunculkan kesan bahwa produk ini otomatis lebih sehat dibanding anggapan sebelumnya.

Namun, penilaian sehat atau tidaknya suatu makanan tidak bisa hanya bertumpu pada tingkat pemrosesan. Kandungan natrium, potensi paparan BPA, serta cara penyimpanan dan pengolahan juga ikut menentukan risikonya.

Sarden Kalengan dan BPA

Selain natrium, sarden kalengan juga kerap disorot karena potensi paparan BPA atau Bisphenol A. Zat ini digunakan sebagai resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan agar produk lebih awet.

Pada kondisi tertentu, seperti pemanasan atau kerusakan lapisan kaleng, BPA dapat terlepas dan bermigrasi ke makanan. Jika paparan berlangsung melebihi batas yang dianjurkan, kondisi tersebut berpotensi berdampak pada kesehatan.

Riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023 menunjukkan adanya migrasi BPA dari kaleng makanan. Meski demikian, kadar yang ditemukan masih kecil dan berada di bawah Tolerable Daily Intake sebesar 4 μg/kgBB/hari.

Risiko Natrium Tinggi

Selain isu BPA, kandungan natrium pada sarden kalengan juga menjadi perhatian utama. Asupan natrium yang berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi jika dikonsumsi terlalu sering.

Kondisi ini menjadi penting terutama bagi orang dengan hipertensi, penyakit jantung, atau masalah ginjal. Karena itu, porsi konsumsi perlu diperhatikan, bukan sekadar melihat label kemasan.

Produsen biasanya menambahkan natrium sebagai bagian dari pengawetan dan penambah rasa. Konsumen disarankan membaca informasi nilai gizi agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan harian.

Fakta soal Non-UPF

Status bukan UPF tidak otomatis membuat suatu produk bebas risiko. Sistem klasifikasi NOVA memang menilai tingkat pemrosesan, tetapi itu bukan satu-satunya ukuran mutu gizi.

Ada banyak faktor lain yang perlu dilihat, seperti komposisi bahan, kadar garam, gula, lemak, dan potensi kontaminan. Dengan demikian, sebuah makanan tetap bisa memiliki risiko kesehatan meski tidak masuk kategori UPF.

Kesalahpahaman ini kerap membuat konsumen menilai produk kemasan secara terlalu sederhana. Padahal, konteks konsumsi dan jumlah asupan jauh lebih menentukan dampak akhirnya bagi tubuh.

Bijak Memilih Konsumsi

Praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menilai konsumsi makanan yang tercemar BPA secara terus-menerus dapat mengganggu kesehatan. Ia menyebut dampaknya dapat berkaitan dengan gangguan metabolik, gangguan hormonal, hingga risiko kanker.

Meski paparan di bawah ambang regulasi umumnya tidak langsung menimbulkan efek kesehatan, kekhawatiran tetap ada bila akumulasi terjadi dalam jangka panjang. Karena itu, kehati-hatian tetap diperlukan saat memilih makanan kemasan.

Masyarakat disarankan membatasi frekuensi konsumsi sarden kalengan, terutama jika memiliki riwayat penyakit tertentu. Pilihan yang lebih aman adalah memperhatikan label gizi, kondisi kemasan, dan tidak menjadikannya menu harian.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!