Susu Kental Manis Masih Mengandung Susu, Ini Penjelasannya

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 21:26 WIB 2
Susu Kental Manis Masih Mengandung Susu, Ini Penjelasannya

Susu kental manis sudah lama menjadi pelengkap berbagai hidangan favorit masyarakat Indonesia, mulai dari kopi, roti bakar, martabak, hingga dessert. Di tengah ramainya perbincangan di media sosial, muncul pertanyaan apakah produk ini benar-benar masih mengandung susu atau hanya dominan gula.

Keraguan itu muncul karena rasa manisnya terasa jauh lebih kuat daripada rasa susu. Padahal, sejumlah aturan dan komposisi produk menunjukkan bahwa susu kental manis tetap berasal dari susu, meski karakter gizinya berbeda dari susu segar.

Susu Kental Manis dan Prosesnya

Tekstur kental pada susu kental manis terbentuk melalui proses penguapan air atau evaporasi. Dalam proses ini, susu dipanaskan perlahan sehingga kadar airnya berkurang dan padatan susu menjadi lebih terkonsentrasi.

Hasil akhirnya adalah tekstur yang lebih padat, lembut, dan creamy. Karena itu, susu kental manis memiliki bentuk yang berbeda dari susu cair biasa yang lebih encer.

Gula juga ditambahkan dalam proses pembuatannya, bukan hanya untuk memberi rasa manis. Kandungan gula membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga produk dapat bertahan lebih lama selama penyimpanan.

Dengan karakter tersebut, susu kental manis menjadi produk olahan susu yang praktis digunakan sebagai pelengkap rasa. Namun, penggunaannya tetap perlu dipahami agar tidak disamakan dengan susu konsumsi harian.

Aturan BPOM Tentang Susu

Menurut Peraturan BPOM Nomor 34 Tahun 2019 tentang Kategori Pangan, susu kental manis termasuk produk susu dengan kadar lemak susu minimal 8 persen dan kadar protein minimal 6,5 persen. Ketentuan ini juga merujuk pada Codex Alimentarius untuk sweetened condensed milk sebagai acuan internasional.

Definisi serupa sebelumnya juga tercantum dalam Peraturan Kepala BPOM Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan. Dalam aturan itu, susu kental manis dijelaskan sebagai produk susu yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu.

Artinya, secara regulasi, susu kental manis tetap masuk kategori produk susu. Produk ini bukan sekadar gula berperisa susu seperti yang kerap diperdebatkan di media sosial.

Sejumlah produk bahkan masih mencantumkan komposisi susu di dalam labelnya. Salah satunya ada yang menyebut kandungan susu hingga 35 persen, yang berasal dari susu skim bubuk, susu sapi segar, lemak susu, laktosa, dan buttermilk bubuk.

Kandungan Susu Tetap Ada

Meski mengandung gula, kandungan susu di dalam susu kental manis tidak hilang. Protein susu, lemak susu, laktosa, dan beberapa mineral alami masih tetap terdapat di dalam produk tersebut.

Yang berubah adalah proporsinya karena tambahan gula membuat rasa menjadi lebih manis. Akibatnya, profil gizi susu kental manis berbeda jauh dari susu segar yang biasa diminum sebagai sumber nutrisi.

Rasa manis yang dominan sering membuat orang mengira kandungan susunya sudah tidak ada. Padahal, yang terjadi adalah rasa gula menutupi karakter susu sehingga sensasinya terasa lebih manis daripada milky.

Karena itu, anggapan bahwa susu kental manis sama sekali tidak mengandung susu tidak sepenuhnya benar. Produk ini tetap merupakan olahan susu dengan tambahan gula, sehingga fungsinya berbeda dari susu segar.

Cara Konsumsi Susu Kental Manis

Susu kental manis tetap bisa dinikmati selama porsinya diperhatikan. Produk ini memang lazim dipakai sebagai pelengkap pada minuman dan makanan tradisional Indonesia.

Membaca label gizi menjadi langkah penting untuk mengetahui jumlah gula dalam satu sajian. Dengan memahami takaran saji, konsumen dapat memperkirakan apakah asupan gulanya masih sesuai anjuran harian.

Jika digunakan untuk campuran kopi atau dessert, sebaiknya secukupnya agar rasa manis tidak berlebihan. Cara ini juga membantu menjaga konsumsi gula agar tidak melampaui batas yang disarankan.

Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2021 juga menegaskan larangan penyajian susu kental manis sebagai hidangan tunggal berupa minuman susu atau sebagai satu-satunya sumber gizi. Karena itu, produk ini sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti susu harian.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!