XLSmart menyatakan akan agresif mengikuti lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang disiapkan Kementerian Komunikasi dan Digital, sebagai bagian dari strategi memperluas layanan 5G di Indonesia. Perseroan menilai kedua pita tersebut sangat penting untuk mempercepat pemerataan jaringan, baik di wilayah perkotaan maupun daerah yang selama ini belum terjangkau optimal.
Director & Chief Regulatory Officer XLSmart, Merza Fachys, mengatakan perusahaan menaruh minat besar terhadap dua spektrum itu karena dinilai strategis untuk pengembangan jaringan generasi kelima. Di saat ekonomi global masih bergejolak, XLSmart tetap menargetkan proses lelang berjalan lancar agar implementasi 5G dapat segera dinikmati masyarakat luas.
Lelang Spektrum untuk 5G
Merza menyampaikan harapan agar lelang spektrum berlangsung lebih sederhana dan cepat, mengingat peserta yang terlibat merupakan tiga operator seluler besar yang sudah dikenal pemerintah. Menurut dia, kondisi tersebut semestinya memudahkan proses administrasi dan mempercepat tahapan yang dibutuhkan. XLSmart pun berharap mekanisme lelang dapat mengikuti rencana yang telah disusun Komdigi.
Ia menilai percepatan proses menjadi penting karena kebutuhan layanan data terus meningkat dari waktu ke waktu. Dengan spektrum yang tepat, operator dapat memperluas kapasitas jaringan sekaligus meningkatkan kualitas layanan. Hal itu juga dinilai akan membantu masyarakat memperoleh akses digital yang lebih merata.
Spektrum 700 MHz disebut memiliki keunggulan untuk memperluas jangkauan sinyal karena mampu menembus area yang lebih luas dengan lebih baik. Sementara itu, pita 2,6 GHz lebih cocok untuk menghadirkan kapasitas besar di kawasan dengan trafik data tinggi. Kombinasi keduanya dinilai menjadi fondasi penting bagi penguatan jaringan 5G nasional.
Strategi Jangkauan Jaringan
Menurut penjelasan perusahaan, frekuensi 700 MHz sangat ideal untuk mendukung perluasan jaringan hingga wilayah suburban dan pedesaan. Karakteristik cakupan yang luas membuat pita ini efektif untuk menghadirkan layanan dasar yang lebih stabil. Dalam konteks pemerataan digital, frekuensi tersebut dianggap memiliki peran yang sangat penting.
Adapun pita 2,6 GHz dipandang mampu menopang kebutuhan data di wilayah perkotaan yang memiliki kepadatan pengguna tinggi. Spektrum ini membantu operator menyediakan kapasitas jaringan yang lebih besar untuk penggunaan internet yang intensif. Dengan demikian, pengalaman pelanggan dapat ditingkatkan secara lebih konsisten.
XLSmart menilai keberadaan dua spektrum itu akan mendukung ekspansi 5G secara lebih efisien di berbagai wilayah. Perusahaan melihat bahwa pembangunan jaringan tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga soal jangkauan dan ketahanan layanan. Karena itu, lelang frekuensi dipandang sebagai momentum strategis bagi industri telekomunikasi.
Kondisi Keuangan Terkini
Di sisi keuangan, Direktur & Chief Financial Officer XLSmart, Antony Susilo, mengakui perseroan masih membukukan kerugian pada 2025. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bersifat sementara dan berkaitan dengan proses integrasi setelah merger. Biaya yang muncul dinilai sebagai bagian dari penyesuaian bisnis yang sedang berjalan.
Antony menjelaskan, kerugian itu terutama disebabkan oleh biaya integrasi jaringan serta percepatan depresiasi perangkat lama. Perangkat milik XL sebelum merger dengan Smartfren kini tidak lagi digunakan dalam operasional tertentu. Karena itu, pembebanan biaya dilakukan lebih cepat agar struktur keuangan perseroan lebih mencerminkan kondisi aktual.
Meski masih mencatat rugi, perusahaan menegaskan optimisme untuk tetap memperkuat posisi di industri telekomunikasi nasional. Manajemen menilai tantangan keuangan tidak mengubah komitmen untuk mengejar peluang strategis yang tersedia. Salah satu fokus utamanya adalah memastikan investasi jaringan tetap berjalan secara terukur.
Komitmen Pendanaan Operator
Antony menegaskan XLSmart tetap akan ikut dalam lelang frekuensi strategis tersebut. Ia menyebut pendanaan akan bersumber dari kas operasional perusahaan. Dengan cara itu, perseroan menilai langkah ekspansi jaringan dapat tetap dilakukan tanpa mengganggu rencana bisnis utama.
Komitmen tersebut menunjukkan bahwa XLSmart ingin berada di posisi kompetitif dalam pengembangan layanan 5G nasional. Perseroan menilai kepemilikan spektrum tambahan akan memperkuat daya saing dalam jangka panjang. Selain itu, langkah ini juga menjadi sinyal bahwa industri telekomunikasi masih melihat prospek pertumbuhan yang menarik.
Bagi masyarakat, hasil lelang frekuensi ini berpotensi menentukan kecepatan pemerataan jaringan digital di Indonesia. Jika proses berjalan lancar, layanan 5G diharapkan semakin mudah dijangkau di berbagai daerah. Dengan demikian, perluasan konektivitas dapat mendorong aktivitas ekonomi dan layanan digital yang lebih luas.
