Waspadai Risiko Jeroan Berlebihan Saat Idul Adha

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 05:07 WIB 3
Waspadai Risiko Jeroan Berlebihan Saat Idul Adha

Momen Idul Adha sering diwarnai santapan olahan daging dan jeroan yang menggoda selera. Sate hati, gulai kikil, paru goreng, usus, hingga babat kerap menjadi pilihan utama di meja makan. Namun, di balik cita rasa gurih tersebut, konsumsi jeroan berlebihan dapat memberi beban pada tubuh, terutama pada fungsi hati dan ginjal.

Jeroan memang mengandung zat besi, vitamin B12, dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Akan tetapi, organ dalam hewan juga memiliki kandungan kolesterol, purin, dan lemak yang cukup tinggi. Karena itu, porsi yang tidak terkendali dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan, terutama pada orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Jeroan dan risiko asam urat

Praktisi kesehatan dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menyebut konsumsi jeroan berlebih dapat menyebabkan gangguan, terutama peningkatan asam urat. Ia menegaskan bahwa kandungan purin pada jeroan menjadi salah satu pemicu utama kondisi tersebut. Jika dikonsumsi tanpa batas, risiko keluhan kesehatan akan semakin besar.

Penumpukan asam urat di dalam darah dapat berdampak pada kesehatan persendian dan organ lain, terutama ginjal. Kondisi ini dapat memicu artritis gout yang menimbulkan nyeri dan pembengkakan pada sendi. Dalam jangka panjang, tubuh juga berisiko mengalami gangguan metabolisme yang lebih berat.

Selain asam urat, kandungan lemak dan kolesterol pada jeroan juga patut diwaspadai. Asupan yang terlalu sering dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah dan meningkatkan beban kerja organ tubuh. Karena itu, konsumsi jeroan sebaiknya dilakukan secara bijak, bukan berlebihan.

Dampak pada ginjal

Salah satu risiko yang sering muncul akibat asupan asam urat tinggi adalah batu saluran ginjal. Batu asam urat terbentuk ketika urine terlalu asam dan mengandung kadar asam urat tinggi. Kondisi ini dapat mengganggu aliran urine dan menimbulkan nyeri yang tidak nyaman.

Gejala batu ginjal akibat asam urat biasanya berupa nyeri hebat di pinggang, mual, dan gangguan saat buang air kecil. Keluhan tersebut dapat muncul tiba-tiba dan membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Jika tidak ditangani, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Risiko gangguan ginjal bisa meningkat pada orang yang kurang minum air putih atau memiliki riwayat penyakit ginjal sebelumnya. Oleh karena itu, keseimbangan asupan cairan menjadi penting saat mengonsumsi makanan tinggi purin. Langkah sederhana ini dapat membantu tubuh membuang sisa metabolisme dengan lebih optimal.

Cara aman menikmati jeroan

Masyarakat tetap dapat menikmati jeroan saat Idul Adha, tetapi perlu mengontrol porsinya. Mengurangi frekuensi konsumsi menjadi salah satu cara paling efektif untuk menekan risiko. Pilihan ini juga membantu tubuh tetap mendapat asupan makanan yang lebih seimbang.

Mengombinasikan jeroan dengan sayuran, buah, dan air putih dapat membantu meringankan beban pencernaan. Proses memasak yang tidak terlalu banyak minyak juga lebih disarankan. Dengan begitu, hidangan tetap nikmat tanpa harus mengorbankan kesehatan.

Bagi orang dengan riwayat asam urat, penyakit ginjal, atau gangguan metabolik, konsultasi dengan tenaga medis sangat dianjurkan. Pembatasan konsumsi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Sikap waspada menjadi kunci agar tradisi makan bersama tetap aman dan menyenangkan.

Kelompok yang perlu waspada

Tidak semua orang memiliki toleransi yang sama terhadap makanan tinggi purin seperti jeroan. Mereka yang memiliki riwayat asam urat, batu ginjal, hipertensi, atau kolesterol tinggi perlu lebih berhati-hati. Kelompok ini umumnya lebih rentan mengalami keluhan setelah mengonsumsi jeroan dalam jumlah besar.

Anak-anak dan lansia juga perlu mendapat perhatian khusus dalam mengonsumsi makanan berlemak dan tinggi kolesterol. Sistem tubuh yang belum optimal atau mulai menurun dapat membuat proses metabolisme tidak seefektif usia produktif. Karena itu, porsi kecil dan frekuensi terbatas lebih aman bagi kelompok tersebut.

Momentum Idul Adha tetap dapat dirayakan dengan nyaman tanpa mengabaikan kesehatan. Kunci utamanya adalah menyeimbangkan cita rasa, porsi, dan kebutuhan tubuh. Dengan pola makan yang bijak, kenikmatan hari raya dapat dirasakan tanpa memicu gangguan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!