Pasutri Cokelatin Signature Ekspor Cokelat Asli Indonesia

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 06:28 WIB 4
Pasutri Cokelatin Signature Ekspor Cokelat Asli Indonesia

Cokelat menjadi salah satu rasa favorit masyarakat Indonesia, namun pasangan suami istri Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra berhasil membawa olahan kakao lokal ke pasar internasional melalui merek Cokelatin Signature. Produk berbasis kakao asal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan itu kini telah diekspor ke sejumlah negara, meski kapasitas pengirimannya masih terbatas.

Irena mengatakan pasar domestik masih menjadi tulang punggung penjualan, tetapi ekspor tetap berjalan ke Amerika Serikat, Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Kisah bisnis ini berawal dari kecintaannya pada minuman manis, lalu berkembang menjadi usaha cokelat yang mengusung identitas bahan baku asli Indonesia.

Cokelat Indonesia Menembus Ekspor

Irena menjelaskan, ekspor dilakukan dengan membawa merek Cokelatin Signature, bukan dalam bentuk bahan mentah. Menurut dia, langkah itu diambil karena pihaknya ingin menjaga nilai tambah produk olahan kakao Indonesia.

Ia menyebut ekspor yang sudah dilakukan mencakup Boston di Amerika Serikat, Riyadh di Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Namun, kapasitas pengiriman masih belum besar karena perusahaan memilih untuk tetap idealis dalam menjaga kualitas produk.

Menurut Irena, fokus pada produk jadi membuat bisnisnya lebih siap bersaing di pasar luar negeri. Strategi ini juga membantu memperkenalkan cita rasa cokelat Indonesia secara langsung kepada konsumen internasional.

Keikutsertaan dalam Trade Expo Indonesia di ICE BSD, Tangerang, menjadi salah satu momentum untuk memperluas jejaring bisnis. Melalui ajang itu, Cokelatin Signature menampilkan peluang ekspor produk olahan kakao lokal kepada calon mitra dagang.

Berawal Dari Kegemaran Pribadi

Perjalanan bisnis Cokelatin Signature dimulai dari kebiasaan Irena menyukai minuman manis. Ia kemudian melihat bahwa cokelat Indonesia memiliki rasa yang enak dan layak diolah lebih serius.

Pada 2016, saat masih bekerja sebagai karyawan swasta, ia mulai mencoba membuat cokelat untuk dirinya sendiri. Respons positif dari teman-teman kantor membuatnya semakin yakin untuk mengembangkan usaha.

Dari sana, ia bersama Nugroho mulai belajar tentang cokelat, bisnis, dan dunia UMKM. Nama Cokelatin sendiri lahir dari gabungan kata cokelat dan nama Irena serta Nugroho, yang kemudian dipadukan menjadi identitas merek.

Irena mengatakan, cokelat baginya bukan hanya minuman, tetapi juga simbol kedekatan dan cinta. Karena itu, merek yang dibangun pun diarahkan untuk menghadirkan kesan personal sekaligus otentik.

Produk Bubuk Jadi Andalan

Cokelatin Signature kini tidak hanya memproduksi cokelat minuman, tetapi juga cokelat bar. Meski begitu, produk yang paling banyak dibuat tetap bubuk minuman cokelat karena permintaannya lebih tinggi.

Irena menilai produk bubuk lebih mudah diolah untuk kebutuhan ekspor dalam jumlah yang lebih besar. Dari sisi logistik, bentuk bubuk juga dianggap lebih praktis dibanding produk lain yang lebih sensitif.

Orientasi usaha ini memang tidak hanya menyasar pasar domestik, tetapi juga pasar luar negeri. Karena itu, pengembangan varian minuman cokelat terus dilakukan agar produk tetap relevan dan kompetitif.

Ia mengaku menyukai produk minuman karena sesuai dengan karakter bisnis yang ingin dibangun. Dengan fokus itu, Cokelatin Signature berupaya menjaga konsistensi rasa sekaligus memperkuat daya saing di pasar ekspor.

Peluang UMKM Cokelat Lokal

Kisah Cokelatin Signature menunjukkan bahwa UMKM berbasis bahan baku lokal memiliki peluang besar untuk naik kelas. Dengan pengolahan yang tepat, kakao Indonesia dapat berubah menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Langkah Irena dan Nugroho juga memperlihatkan pentingnya keberanian membangun merek sendiri. Di tengah persaingan pasar, identitas produk menjadi faktor penting untuk menarik perhatian konsumen dalam dan luar negeri.

Ekspor ke beberapa negara menjadi bukti bahwa produk olahan cokelat Indonesia memiliki tempat di pasar global. Meski belum dalam skala besar, pencapaian tersebut memberi sinyal positif bagi pengembangan usaha ke depan.

Bagi pelaku UMKM lain, kisah ini menjadi contoh bahwa pasar internasional dapat diraih melalui konsistensi, kualitas, dan keberanian berinovasi. Cokelat lokal pun tidak lagi sekadar produk konsumsi harian, melainkan komoditas dengan daya saing global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!