Wanita Ini Hidup dengan Alergi Sinar Matahari

Lifestyle Clara Monica 25 Mei 2026 19:21 WIB 3
Wanita Ini Hidup dengan Alergi Sinar Matahari

Sonal Keay, seorang pebisnis asal Inggris, hidup dengan kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari. Sedikit paparan UV saja dapat memicu rasa sakit hebat dan sensasi seperti terbakar, sehingga ia harus menghindari aktivitas di siang hari.

Kondisi tersebut mulai disadari Sonal saat berusia 18 tahun, ketika reaksinya memburuk setelah liburan ke luar negeri. Kini, ia hanya merasa aman saat malam tiba, sementara cahaya matahari, bahkan cuaca mendung, tetap bisa memicu keluhan berat.

Alergi Sinar Matahari Sonal

Sonal mengaku harus sangat berhati-hati setiap kali keluar rumah, karena kulitnya dapat bereaksi parah hanya dalam waktu singkat. Ia menyebut rasa sakit yang muncul bukan sekadar tidak nyaman, melainkan sangat menyiksa.

Menurut penuturannya, paparan matahari lebih dari satu menit sudah cukup untuk memicu gejala. Bahkan, saat langit tampak tertutup awan, tubuhnya tetap bisa bereaksi terhadap cahaya yang masuk.

Kondisi itu membuat Sonal tidak bisa menjalani rutinitas seperti kebanyakan orang. Hal sederhana seperti mengambil kunci mobil atau mengenakan sepatu pun harus disertai perlindungan ekstra.

Ia juga mengakui sempat tidak memahami apa yang terjadi pada tubuhnya selama bertahun-tahun. Baru setelah keluhan terus berlanjut, ia menyadari bahwa sumber masalahnya berkaitan dengan sinar matahari.

Gejala Kulit yang Muncul

Sonal kemudian didiagnosis mengalami dermatitis aktinik kronis, yakni gangguan kulit langka yang termasuk dalam kelompok alergi fotosensitif. Kondisi ini membuat tubuhnya mengembangkan lesi eksim, bahkan di area yang tidak terkena sinar matahari langsung.

American Academy of Dermatology menjelaskan, alergi kulit fotosensitif memiliki beragam bentuk dan tingkat keparahan. Dalam kasus Sonal, reaksi yang muncul dapat menimbulkan rasa sakit luar biasa.

Ia menggambarkan sensasi yang dialaminya sebagai kondisi yang sangat buruk. Menurutnya, rasa sakit itu begitu intens hingga membuatnya ingin menggaruk atau mengoyak kulitnya sendiri demi mencari kelegaan.

Sonal juga memiliki riwayat eksim sejak kecil, yang membuat kondisi kulitnya semakin kompleks. Ketika gejala memburuk, ia sempat mengira keluhan tersebut hanya bagian dari masalah kulit biasa.

Dampak Pada Kehidupan

Gangguan ini tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga kondisi mental Sonal. Ia mengaku pernah merasa takut terhadap cahaya, termasuk cahaya lampu di dalam ruangan.

Ketakutan itu muncul karena tubuhnya sangat sensitif terhadap sumber cahaya apa pun yang dianggap memicu reaksi. Akibatnya, aktivitas harian menjadi serba terbatas dan penuh perhitungan.

Ia juga harus selalu siap dengan tabir surya, meski hanya untuk melakukan aktivitas singkat di luar rumah. Perlindungan tambahan menjadi bagian dari kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Bagi Sonal, hidup normal kini harus disesuaikan dengan kondisi kulitnya. Ia menyadari bahwa banyak orang melihat dirinya tampak baik-baik saja, padahal kenyataannya sangat berbeda.

Adaptasi Di Rumah

Tak hanya di luar ruangan, cahaya matahari yang masuk melalui jendela juga dapat memicu reaksi parah pada kulit Sonal. Karena itu, ia memasang tirai anti-UV agar tetap bisa beraktivitas di dalam rumah dengan lebih aman.

Penyesuaian tersebut menjadi bagian penting dari kesehariannya. Ia harus memikirkan setiap sumber cahaya yang berpotensi memperburuk kondisi kulitnya.

Sonal menegaskan bahwa dirinya memang terlihat normal dari luar. Namun, kehidupannya tidak sepenuhnya normal karena harus selalu menghindari paparan yang bagi orang lain terasa biasa.

Kisah Sonal menjadi pengingat bahwa gangguan kulit langka dapat berdampak besar pada kualitas hidup. Pemeriksaan medis yang tepat penting dilakukan ketika gejala tidak biasa terus muncul dan sulit membaik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!