Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Kulit Bisa Terbakar

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 02:43 WIB 4
Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Kulit Bisa Terbakar

Seorang wanita bernama Sonal Keay hidup dengan kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari. Paparan UV dalam waktu sangat singkat dapat memicu rasa sakit luar biasa, bahkan saat cuaca mendung. Kondisi itu memaksanya menghindari aktivitas siang hari dan hanya merasa aman ketika malam tiba.

Kelainan tersebut mulai disadarinya saat berusia 18 tahun, ketika reaksi kulitnya memburuk usai berlibur ke luar negeri. Setelah dua tahun merasakan ketidaknyamanan, Sonal akhirnya mendapat diagnosis dermatitis aktinik kronis. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga keseharian dan kondisi mentalnya.

Alergi Sinar Matahari Langka

Sonal Keay mengaku harus sangat berhati-hati setiap kali berada di luar rumah. Kulitnya bisa terasa sangat sakit jika terpapar sinar matahari lebih dari satu menit. Bahkan cahaya matahari yang muncul saat cuaca mendung tetap berisiko memicu reaksi.

Ia menyadari gejala awalnya ketika berusia 18 tahun, saat sedang berlibur di luar negeri. Setelah kembali, keluhan kulitnya tidak membaik dan justru semakin parah. Sonal sempat bingung karena tidak mengetahui bahwa sumber keluhannya adalah sinar matahari.

Menurut penjelasannya kepada acara televisi ITV, This Morning, reaksi yang dialami terasa sangat menyakitkan. Ia mengatakan bahwa setiap berada di luar rumah, kulitnya seperti terbakar. Kondisi itu membuatnya sulit memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.

Sonal juga memiliki riwayat eksim sejak kecil, yang diduga memperburuk kondisi kulitnya. Dalam perjalanannya, ia merasakan ketidaknyamanan selama sekitar dua tahun sebelum diagnosis ditegakkan. Setelah itu, barulah diketahui bahwa ia mengalami dermatitis aktinik kronis.

Dermatitis Aktinik Kronis

Dermatitis aktinik kronis merupakan kondisi kulit langka yang termasuk dalam kelompok alergi fotosensitif. American Academy of Dermatology menyebut gangguan ini dapat memicu lesi eksim pada tubuh. Pada beberapa kasus, gejalanya juga bisa muncul di area yang tidak terkena matahari langsung.

Dalam kasus Sonal, reaksi yang muncul jauh lebih ekstrem dari sekadar iritasi biasa. Ia menggambarkan rasa sakitnya sebagai kondisi yang sangat berat dan sulit ditahan. Bahkan, ia mengaku pernah ingin menggaruk atau mengoyak kulitnya agar terasa lebih lega.

Keluhannya tidak hanya muncul saat cuaca terik, tetapi juga ketika langit tampak mendung. Hal ini menunjukkan bahwa tubuhnya sangat sensitif terhadap paparan cahaya. Akibatnya, aktivitas sederhana di luar ruangan menjadi tantangan besar.

Ia menyebut dirinya harus menunggu matahari benar-benar terbenam sebelum merasa aman. Saat malam tiba, risiko reaksi alergi jauh lebih kecil. Karena itu, rutinitas hariannya banyak bergantung pada waktu dan intensitas cahaya.

Dampak pada Kehidupan Harian

Kondisi tersebut membuat Sonal harus menerapkan perlindungan ekstra sebelum keluar rumah. Ia tidak boleh lupa menggunakan tabir surya, meski hanya untuk mengambil kunci mobil atau memakai sepatu. Kebiasaan sederhana pun berubah menjadi rangkaian persiapan yang panjang.

Cahaya matahari yang masuk melalui jendela juga bisa memicu reaksi kulit yang parah. Untuk itu, ia memasang tirai anti-UV agar tetap dapat beraktivitas di dalam rumah. Langkah ini menjadi cara penting untuk menjaga kenyamanan ruang tinggalnya.

Ia mengakui bahwa dirinya terlihat normal dari luar, tetapi kehidupannya tidak sama seperti orang pada umumnya. Banyak hal yang harus direncanakan hanya untuk menghindari paparan cahaya. Situasi itu membuat aktivitas harian terasa lebih rumit dibandingkan kebanyakan orang.

Meski demikian, Sonal terus beradaptasi dengan keterbatasan yang dialaminya. Ia berusaha menjaga diri agar tetap dapat menjalani hidup sebaik mungkin. Disiplin menjadi kunci utama dalam menghadapi kondisi kulit langka tersebut.

Tekanan Mental Pasien Kulit

Selain menimbulkan nyeri fisik, kondisi ini juga berdampak pada kesehatan mental Sonal. Ia sempat merasa takut terhadap cahaya, termasuk lampu di sekitarnya. Rasa waswas itu menunjukkan betapa besar pengaruh penyakit ini terhadap psikologisnya.

Ketakutan tersebut muncul karena reaksi yang dialami bisa datang kapan saja saat ada paparan cahaya. Ia harus terus memikirkan risiko yang mungkin timbul dari aktivitas paling sederhana. Situasi ini membuat hidupnya menuntut kewaspadaan tinggi setiap saat.

Sonal menuturkan bahwa dirinya harus menyesuaikan banyak kebiasaan agar tidak memperburuk kondisi kulit. Perjalanan singkat di luar rumah saja memerlukan perlindungan ekstra. Hal itu menjadi gambaran betapa kompleksnya hidup dengan alergi sinar matahari.

Meski menghadapi keterbatasan besar, Sonal tetap berupaya menjalani hidup secara normal sebisanya. Ia berharap pengalamannya dapat memberi pemahaman tentang seriusnya penyakit kulit langka. Kasus ini juga menunjukkan pentingnya mengenali gejala sejak dini agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!