Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hanya Bertahan di Malam Hari

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 18:39 WIB 2
Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hanya Bertahan di Malam Hari

Seorang wanita bernama Sonal Keay mengalami kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari. Kondisi itu memaksanya menghindari aktivitas di siang hari karena paparan UV dapat memicu rasa sakit yang sangat hebat. Ia baru merasa aman ketika malam tiba dan matahari benar-benar terbenam.

Keluhan tersebut bermula saat Sonal berusia 18 tahun, ketika ia pulang dari liburan di luar negeri dan reaksinya justru semakin parah. Dalam waktu kurang dari satu menit di bawah matahari, kulitnya bisa terasa seperti terbakar dan memicu ketidaknyamanan ekstrem. Sonal kemudian didiagnosis mengalami dermatitis aktinik kronis, yakni penyakit kulit langka yang membuat tubuh bereaksi kuat terhadap cahaya.

Alergi Sinar Matahari yang Langka

Sonal mengatakan paparan sinar matahari sedikit saja dapat memicu reaksi yang menyakitkan. Kondisi ini membuatnya harus sangat disiplin menjaga diri agar tidak terlalu lama berada di luar ruangan. Bahkan saat cuaca mendung, kulitnya tetap bisa bereaksi karena cahaya matahari masih mengenai tubuhnya.

Ia mengaku tidak menyangka bahwa sumber kehidupan seperti matahari justru menjadi pemicu utama masalah kesehatannya. Sebelumnya, Sonal hanya mengira ketidaknyamanan yang dirasakannya berkaitan dengan eksim yang memang sudah dideritanya sejak kecil. Namun, gejala itu berlangsung selama dua tahun sebelum akhirnya ia memahami bahwa penyebabnya adalah alergi terhadap sinar matahari.

Menurut American Academy of Dermatology, alergi kulit fotosensitif memiliki beberapa jenis, dan sebagian dapat menimbulkan rasa nyeri yang sangat berat. Dalam kasus Sonal, reaksi yang muncul bukan hanya kemerahan, tetapi juga lesi eksim pada bagian kulit yang bahkan tidak terkena sinar matahari langsung. Hal ini membuat kondisinya jauh lebih kompleks dibandingkan alergi kulit biasa.

Gejala yang Mengganggu Aktivitas

Sonal menggambarkan rasa sakit yang dialaminya sebagai kondisi yang sangat sulit ditahan. Ia menyebut, sensasi di kulitnya begitu buruk hingga membuatnya ingin menggaruk atau mengoyak bagian yang terasa perih agar sedikit lega. Keluhan itu muncul setiap kali ia berada di luar rumah terlalu lama, meski hanya beberapa saat.

Ia menjelaskan bahwa dirinya bisa mengalami reaksi alergi parah jika berada di luar selama lebih dari sekitar satu menit. Setelah matahari terbenam sepenuhnya, barulah ia merasa aman untuk beraktivitas tanpa takut kulitnya bereaksi. Situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya tubuh Sonal terhadap cahaya.

Rasa sakit tersebut tidak hanya muncul saat terkena sinar matahari langsung, tetapi juga ketika cuaca tampak redup. Sonal harus sangat berhati-hati dalam menentukan waktu keluar rumah dan memastikan perlindungan kulitnya selalu maksimal. Kondisi ini membuat rutinitas sederhana, seperti berjalan ke mobil, menjadi tantangan besar.

Dampak pada Kesehatan Mental

Selain mengganggu fisik, kondisi Sonal juga memengaruhi kesehatan mentalnya. Ia mengaku sempat takut terhadap cahaya, termasuk lampu di dalam rumah, karena khawatir kulitnya akan bereaksi. Ketakutan itu menambah beban dalam kehidupan sehari-hari yang sudah dibatasi oleh penyakit langka tersebut.

Situasi ini membuat Sonal harus terus menyesuaikan diri dengan pola hidup yang berbeda dari kebanyakan orang. Ia tidak bisa sembarangan keluar rumah dan harus memperhitungkan paparan cahaya dari berbagai arah. Bahkan untuk melakukan aktivitas ringan, ia tetap perlu memperhatikan risiko yang mungkin muncul pada kulitnya.

Dalam keterangannya, Sonal menegaskan bahwa penampilannya terlihat normal, tetapi kehidupannya jauh dari normal. Pernyataan itu menggambarkan beban yang sering tidak terlihat dari luar, meski dampaknya sangat besar bagi keseharian. Kondisi seperti ini juga dapat memicu tekanan emosional yang berkepanjangan.

Adaptasi dengan Kondisi Langka

Untuk bertahan, Sonal menerapkan berbagai langkah pencegahan yang sangat ketat. Ia selalu mengoleskan tabir surya bahkan untuk kegiatan singkat, seperti mengambil kunci mobil atau mengenakan sepatu sebelum keluar rumah. Perlindungan tambahan menjadi bagian penting dari rutinitas harian yang tidak bisa diabaikan.

Ia juga memasang tirai anti-UV di rumah agar cahaya matahari yang masuk melalui jendela tidak memicu reaksi kulit. Langkah ini membantunya tetap bisa beraktivitas di dalam rumah dengan risiko yang lebih rendah. Meski begitu, kewaspadaan tetap harus dijaga setiap saat.

Kisah Sonal menunjukkan bahwa penyakit kulit langka dapat mengubah cara seseorang menjalani hidup secara drastis. Dukungan medis, perlindungan lingkungan, dan pemahaman keluarga menjadi sangat penting untuk membantu penderita beradaptasi. Dalam kasus ini, disiplin menjadi kunci agar risiko reaksi kulit tetap terkendali.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!