Wanda Hamidah memberikan dukungan penuh kepada putranya, Rashad, yang ingin menimba ilmu di Jepang. Namun, dukungan itu datang dengan satu syarat tegas, yakni Rashad harus belajar mandiri sejak dini. Wanda menilai keputusan tersebut penting agar anaknya tidak bergantung pada orang tua. Pernyataan itu disampaikan saat ditemui di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 21 Mei 2026.
Dalam keterangannya, Wanda menekankan bahwa anak yang merantau perlu memiliki kemampuan bertahan hidup. Ia meminta Rashad belajar bahasa Jepang dan mencari tambahan penghasilan selama berada di sana. Menurut Wanda, langkah itu sejalan dengan kondisi keuangan keluarga yang terbatas. Ia juga ingin anaknya memahami bahwa masa depan harus diperjuangkan sendiri.
Rashad dan Jepang
Rashad mengaku sudah lama memendam keinginan untuk kuliah di Jepang. Ketertarikan itu muncul sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Ia menyukai budaya Jepang yang dianggap bersih dan nyaman. Dari situ, keinginannya untuk belajar di negeri tersebut semakin kuat.
Selain tertarik pada budayanya, Rashad juga melihat Jepang sebagai tempat yang tepat untuk berkembang. Ia ingin merasakan pengalaman hidup di luar negeri secara langsung. Baginya, kuliah di Jepang bukan sekadar pilihan pendidikan, tetapi juga proses pendewasaan diri. Keputusan itu pun didukung oleh sang ibu.
Wanda menilai keinginan putranya itu harus dihormati selama dijalani dengan tanggung jawab. Ia tidak ingin membatasi pilihan anaknya selama rencana itu kredibel. Menurutnya, anak berhak menentukan jalan hidup sendiri. Orang tua, kata dia, cukup memberi dukungan seperlunya.
Rencana keberangkatan Rashad ke Jepang sudah mulai disiapkan secara bertahap. Sejumlah administrasi tengah diurus agar prosesnya berjalan lancar. Selain itu, Rashad juga mengikuti les bahasa Jepang untuk memperkuat bekalnya. Persiapan ini menjadi bagian penting sebelum ia benar-benar berangkat.
Syarat Mandiri Wanda
Di balik dukungan itu, Wanda memberi syarat yang tidak bisa ditawar. Ia meminta Rashad belajar bahasa Jepang dengan serius. Putranya juga diminta mencari tambahan penghasilan setelah tiba di sana. Menurut Wanda, hal itu perlu agar Rashad tidak hanya mengandalkan kiriman keluarga.
Wanda menyampaikan bahwa kondisi keuangan keluarga tidak berlebih. Karena itu, ia menilai Rashad perlu ikut bertanggung jawab atas kebutuhan hidupnya sendiri. Ia ingin anaknya memahami nilai kerja keras sejak muda. Sikap itu, menurutnya, akan membentuk karakter yang lebih kuat.
Wanda juga menegaskan bahwa merantau adalah proses belajar yang penting. Anak tidak boleh terus berada dalam zona nyaman rumah. Dengan tinggal jauh dari keluarga, mereka akan belajar mengatur uang dan waktu. Mereka juga akan memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
Prinsip itu menjadi bagian dari pola asuh Wanda terhadap anak-anaknya. Ia tidak ingin segala urusan anak diurus secara detail. Baginya, anak harus belajar menyelesaikan masalah sendiri. Cara itu dianggap lebih sehat untuk membangun kemandirian.
Pola Asuh Wanda
Wanda mengakui bahwa dirinya bukan tipe ibu yang suka mendikte. Ia juga tidak gemar mengurus segala keperluan anak secara rinci. Jika ada teman sebaya yang masih diantar orang tua untuk mengurus formulir, ia memilih tidak ikut campur. Baginya, anak harus belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Ia menyebut bahwa dukungannya akan diberikan jika anak memilih sekolah yang baik. Namun, proses seleksi dan keberangkatan harus dijalani dengan kesadaran pribadi. Wanda tidak ingin mengambil alih peran yang semestinya dilakukan anak. Ia menilai sikap itu justru membuat anak kurang siap menghadapi dunia nyata.
Dalam pandangan Wanda, masa depan anak bukanlah masa depan orang tua. Karena itu, usaha untuk mencapainya harus datang dari keinginan sang anak sendiri. Orang tua hanya berperan sebagai penopang moral. Pendekatan itu, menurutnya, akan membuat anak lebih bertanggung jawab.
Ia menegaskan kembali bahwa support dari keluarga tetap ada, tetapi tidak berlebihan. Bila anak ingin sekolah, keluarga akan mendukung. Jika tidak ingin sekolah, maka anak harus mampu mengurus dirinya sendiri. Pesan itu ia sampaikan sebagai bentuk pendidikan karakter di rumah.
Bekal Hidup Rashad
Rashad sendiri mengaku siap menghadapi tantangan hidup di Jepang. Ia menyadari bahwa tinggal jauh dari keluarga membutuhkan kedisiplinan tinggi. Karena itu, ia mulai membekali diri dengan kemampuan dasar yang diperlukan. Salah satunya adalah kemampuan memasak dan mengurus kebutuhan sehari-hari.
Kemampuan tersebut sudah ia latih sejak kecil. Bagi Rashad, kebiasaan itu menjadi modal utama untuk bertahan hidup di negeri orang. Ia tidak ingin bergantung pada orang lain dalam urusan dasar. Dengan bekal itu, ia merasa lebih siap menjalani kehidupan asrama dan lingkungan baru.
Selama tahun pertama, Rashad berencana tinggal di asrama sebelum mencari tempat tinggal sendiri. Skema itu dipilih agar ia bisa beradaptasi secara bertahap. Ia juga akan terus belajar bahasa Jepang agar komunikasi sehari-hari lebih lancar. Semua persiapan dilakukan agar masa studinya berjalan lebih terarah.
Kisah Wanda dan Rashad menunjukkan bahwa dukungan keluarga bisa berjalan seiring dengan pendidikan kemandirian. Wanda ingin putranya tumbuh sebagai pribadi yang kuat, disiplin, dan bertanggung jawab. Sementara itu, Rashad bertekad mewujudkan cita-citanya di Jepang. Perjalanan itu kini mulai disiapkan dengan serius oleh keduanya.
