Wanda Hamidah menegaskan dukungannya terhadap keputusan putranya, Rashad, untuk menimba ilmu di Jepang. Namun, dukungan itu disertai syarat tegas agar sang anak belajar mandiri sejak dini dan tidak bergantung sepenuhnya pada keluarga.
Rashad sendiri sudah lama memimpikan kuliah di Negeri Sakura, yang ia kenal sejak kecil lewat ketertarikan pada budaya Jepang. Persiapan keberangkatan pun mulai dilakukan, mulai dari administrasi, les bahasa Jepang, hingga rencana tinggal di asrama pada tahun pertama.
Kemandirian Sejak Awal
Wanda menyatakan bahwa anak yang merantau harus siap mengurus hidupnya sendiri. Menurutnya, proses itu penting agar anak tidak tumbuh manja dan tetap bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.
Ia menuturkan bahwa Rashad diminta untuk menguasai bahasa Jepang agar dapat beradaptasi dengan baik. Selain itu, Wanda juga meminta putranya mencari tambahan penghasilan selama berada di sana.
Baginya, tuntutan itu bukan bentuk penolakan, melainkan cara mendidik anak agar lebih matang. Wanda menilai kemandirian akan membentuk karakter yang kuat saat anak menghadapi tantangan di negeri orang.
Dukungan Tanpa Mengatur
Wanda mengaku bukan tipe ibu yang mengurus semua keperluan anak secara detail. Ia memilih memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk menentukan jalan hidup masing-masing selama pilihan itu dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menegaskan bahwa perannya adalah memberi dukungan, bukan mengendalikan keputusan. Karena itu, selama anak memilih sekolah atau tujuan yang baik, Wanda akan berdiri di belakang mereka.
Sikap tersebut, menurutnya, penting agar anak belajar mengambil keputusan sendiri. Dengan begitu, mereka tidak hanya bergantung pada dorongan orang tua, tetapi juga pada kemauan pribadi.
Belajar Tanggung Jawab
Bagi Wanda, merantau memberi pelajaran penting tentang tanggung jawab dan manajemen diri. Ia ingin anak-anaknya memahami bahwa kehidupan tidak selalu bisa diatur oleh orang tua.
Ia menilai urusan uang, tempat tinggal, dan kebutuhan harian harus mulai dipikirkan sejak anak beranjak dewasa. Karena itu, Rashad diharapkan dapat membiayai sebagian kebutuhannya melalui kerja sambilan.
Wanda menegaskan bahwa masa depan adalah milik anak, bukan orang tua. Prinsip itu membuatnya memilih memberi ruang agar sang anak berjuang atas keinginannya sendiri.
Rashad Siap Merantau
Rashad mengaku sudah lama ingin melanjutkan studi ke Jepang. Ketertarikan itu tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar, saat ia mengagumi kebudayaan Jepang yang dianggap bersih dan nyaman.
Ia juga telah menyiapkan diri untuk menghadapi kehidupan baru di luar negeri. Tahun pertama rencananya akan dijalani di asrama sebelum kemudian mencari tempat tinggal sendiri.
Rashad merasa bekal memasak dan mengurus diri sejak kecil akan sangat membantu selama merantau. Dengan kesiapan tersebut, ia optimistis dapat menjalani kehidupan mandiri di Jepang.
