Wanda Hamidah Dukung Anak Kuliah di Jepang dengan Syarat Mandiri

Lifestyle Clara Monica 22 Mei 2026 05:37 WIB 6
Wanda Hamidah Dukung Anak Kuliah di Jepang dengan Syarat Mandiri

Wanda Hamidah mendukung penuh keputusan putranya, Rashad, untuk menempuh pendidikan di Jepang. Dukungan itu disertai syarat tegas agar sang anak belajar mandiri sejak dini, termasuk mencari penghasilan tambahan selama tinggal di Negeri Sakura. Sikap tersebut disampaikan Wanda saat ditemui di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 21 Mei 2026. Ia menilai kemandirian adalah bekal penting untuk masa depan anak.

Wanda menyebut dirinya ingin anak-anaknya bertanggung jawab atas hidup sendiri, bukan bergantung sepenuhnya pada orang tua. Karena itu, ia meminta Rashad mempersiapkan diri sejak awal, mulai dari bahasa hingga kemampuan mengurus kebutuhan harian. Rashad pun mengaku sudah lama memendam keinginan kuliah di Jepang, terutama karena ketertarikannya pada budaya negeri tersebut. Persiapan administrasi dan les bahasa Jepang kini mulai dijalankan agar rencana itu berjalan lancar.

Dukungan dengan syarat

Wanda Hamidah menegaskan bahwa dukungannya kepada Rashad tidak diberikan tanpa batas. Ia meminta putranya untuk belajar bahasa Jepang dan mencari tambahan penghasilan saat sudah berada di sana. Menurutnya, kondisi keuangan keluarga juga menjadi alasan mengapa Rashad harus ikut bertanggung jawab atas kebutuhan sendiri. Ia ingin sang anak memahami bahwa keputusan untuk merantau harus diiringi kesiapan mental dan finansial.

Dalam penjelasannya, Wanda menyebut dirinya bukan tipe ibu yang mengurus semua keperluan anak secara detail. Ia justru memberi ruang agar anak-anaknya mengambil keputusan sendiri selama pilihan itu masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan. Baginya, anak yang ingin sekolah harus menunjukkan usaha, bukan hanya menunggu semua disiapkan orang tua. Prinsip itu, kata dia, penting agar anak tumbuh sebagai pribadi yang tangguh.

Wanda juga menekankan bahwa masa depan Rashad adalah tanggung jawab anak itu sendiri. Karena itu, ia tidak ingin mengambil alih seluruh proses, meski tetap memberikan dukungan moral. Ia menilai peran orang tua adalah mendorong dan mengarahkan, bukan menggantikan perjuangan anak. Sikap tersebut ia anggap sebagai cara agar anak belajar menghadapi realitas hidup sejak muda.

Syarat mandiri yang diberikan Wanda menjadi bagian dari pendidikan karakter di rumah. Ia percaya anak yang dibiasakan bertanggung jawab akan lebih siap saat menghadapi tantangan di luar negeri. Dalam pandangannya, kuliah di Jepang bukan hanya soal akademik, tetapi juga latihan hidup. Karena itu, Rashad diminta membangun kesiapan dari sekarang agar tidak kewalahan saat mulai tinggal jauh dari keluarga.

Rencana belajar di Jepang

Rashad mengaku keinginannya untuk kuliah di Jepang sudah muncul sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ketertarikan itu tumbuh karena ia menyukai budaya Jepang yang menurutnya bersih, tertib, dan nyaman. Minat tersebut kemudian berkembang menjadi rencana serius untuk menempuh pendidikan di sana. Ia pun mulai mempersiapkan diri agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Rashad menyebut dirinya telah menyiapkan langkah awal untuk keberangkatan ke Jepang. Salah satunya adalah mengikuti les bahasa Jepang agar dapat berkomunikasi dengan baik ketika sudah tiba di sana. Ia juga mulai mengurus berbagai kebutuhan administrasi yang diperlukan untuk studi. Menurutnya, persiapan sejak awal akan membantunya menghadapi proses adaptasi dengan lebih baik.

Rencananya, Rashad akan tinggal di asrama selama tahun pertama. Setelah itu, ia berencana mencari tempat tinggal sendiri agar lebih mandiri. Skema tersebut disusun agar ia bisa belajar beradaptasi secara bertahap. Ia pun menyadari bahwa hidup di negara orang menuntut kemampuan mengelola diri dengan lebih disiplin.

Keputusan Rashad untuk kuliah di Jepang mendapat dukungan karena dinilai sejalan dengan cita-citanya. Wanda melihat langkah itu sebagai kesempatan bagi anaknya untuk berkembang, baik secara akademik maupun pribadi. Ia berharap pengalaman hidup di luar negeri dapat membentuk Rashad menjadi sosok yang lebih matang. Dengan demikian, pendidikan yang ditempuh bukan hanya memberi ilmu, tetapi juga pengalaman hidup yang berharga.

Filosofi pengasuhan

Sikap Wanda terhadap anak-anaknya mencerminkan filosofi pengasuhan yang tidak terlalu mengekang. Ia memilih memberi ruang seluas mungkin selama anak memiliki tujuan yang jelas. Bagi Wanda, kebebasan adalah bagian dari proses tumbuh dewasa. Namun kebebasan itu tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab.

Ia mengaku tidak termasuk ibu yang mengurus seluruh urusan anak sampai ke detail kecil. Ketika teman sebaya masih diantar orang tua untuk mengurus formulir atau kebutuhan sekolah, Wanda memilih tidak melakukan hal yang sama. Baginya, anak perlu belajar menyelesaikan urusannya sendiri. Cara itu dianggap lebih efektif untuk menanamkan kemandirian sejak dini.

Meski demikian, Wanda tetap memberikan dukungan penuh pada pilihan pendidikan yang dianggap baik. Ia menegaskan bahwa orang tua akan membantu jika anak benar-benar serius mengejar masa depan. Dukungan itu, menurutnya, harus datang setelah ada kemauan kuat dari sang anak. Dengan begitu, usaha yang muncul benar-benar berasal dari dalam diri sendiri.

Prinsip tersebut membuat Wanda konsisten tidak mengambil alih tanggung jawab anak secara berlebihan. Ia percaya anak yang dibesarkan dengan kepercayaan akan lebih siap menghadapi dunia luar. Dalam pandangannya, keterampilan hidup sama pentingnya dengan prestasi akademik. Karena itu, ia menilai kemandirian sebagai nilai utama dalam keluarga.

Bekal hidup mandiri

Rashad mengaku tidak datang ke Jepang tanpa persiapan dasar. Ia menyebut kemampuan memasak dan mengurus diri sendiri sejak kecil menjadi bekal penting yang ia miliki. Keterampilan itu diyakini akan membantunya bertahan hidup saat jauh dari keluarga. Ia juga memahami bahwa hidup di luar negeri menuntut kedisiplinan yang lebih tinggi.

Selain kemampuan praktis, Rashad juga harus menyesuaikan diri dengan budaya baru. Ia perlu membiasakan diri dengan bahasa, aturan lingkungan, dan ritme kehidupan di Jepang. Proses adaptasi itu dipandang sebagai bagian dari pembelajaran yang tidak bisa dihindari. Karena itu, ia berusaha menyiapkan mental sebaik mungkin sebelum berangkat.

Rencana untuk tinggal di asrama pada tahun pertama dinilai sebagai langkah transisi yang realistis. Lingkungan asrama dapat membantu Rashad beradaptasi sambil belajar mengatur waktu dan kebutuhan pribadi. Setelah itu, ia diharapkan bisa lebih percaya diri saat tinggal mandiri. Tahapan tersebut juga memberi ruang bagi dirinya untuk memahami kehidupan kampus secara lebih menyeluruh.

Di tengah persiapan itu, Wanda tetap menjadi pendukung utama bagi putranya. Namun dukungan tersebut tidak menghilangkan tuntutan agar Rashad bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Kombinasi dukungan dan kemandirian itu menjadi inti dari keputusan keluarga ini. Bagi Wanda, keberhasilan anak bukan hanya soal tempat kuliah, melainkan juga soal kemampuan berdiri di atas kaki sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!