Vanilla Hijab Keluhkan Biaya Marketplace Kian Membebani Seller

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 20:06 WIB 2
Vanilla Hijab Keluhkan Biaya Marketplace Kian Membebani Seller

Brand fashion muslim lokal Vanilla Hijab menyoroti semakin beratnya beban pelaku usaha di marketplace, akibat kebijakan biaya layanan dan promo yang dinilai terus menekan margin penjual. Kondisi ini, menurut pendiri dan CEO perusahaan, membuat UMKM harus bekerja lebih keras untuk menjaga harga tetap terjangkau tanpa mengorbankan keberlangsungan usaha.

Atina Maulina, founder Vanilla Hijab, menyebut tekanan tersebut muncul di tengah kenaikan biaya operasional, bahan baku, dan kewajiban mengikuti sejumlah fitur promosi platform. Ia menilai situasi itu membuat ruang gerak pelaku usaha lokal semakin sempit, meski marketplace masih menjadi kanal penting untuk memperluas pasar.

Marketplace Tekan Penjual Lokal

Atina menjelaskan bahwa beban biaya di marketplace kini tidak lagi sekadar komisi penjualan, tetapi juga mencakup potongan layanan dan berbagai promo yang kerap aktif otomatis. Menurutnya, kondisi itu membuat penjual lokal sulit mempertahankan margin keuntungan yang sehat.

Ia menyebut banyak pelaku usaha terpaksa menanggung biaya gratis ongkir dan fitur promosi lain yang dibebankan kepada seller. Dalam praktiknya, kebijakan tersebut dinilai berjalan sepihak dan kerap baru disadari setelah tagihan muncul di laporan toko.

Vanilla Hijab menilai persoalan ini bukan hanya dialami satu merek, melainkan juga banyak penjual lain di Indonesia. Karena itu, pelaku usaha diminta lebih rutin memeriksa rincian biaya agar tidak dirugikan oleh sistem yang berjalan otomatis.

Strategi Vanilla Hijab Bertahan

Untuk menjaga daya saing, Vanilla Hijab memilih menaikkan harga produk secara bertahap agar tidak mengejutkan konsumen. Perusahaan juga menahan laju produksi massal sambil terus membaca respons pasar.

Contoh penyesuaian harga yang dilakukan, kata Atina, misalnya dari kisaran Rp80.000 menjadi Rp95.000. Langkah ini diambil karena pasar dinilai sulit menerima lonjakan harga yang terlalu besar dalam waktu singkat.

Selain menaikkan harga secara hati-hati, perusahaan fokus menambah nilai produk melalui inovasi. Salah satu pengembangan yang disiapkan adalah hijab instan dengan magnet dan kemasan reusable untuk memberi pengalaman lebih baik bagi konsumen.

Biaya Tersembunyi di Marketplace

Atina juga mengeluhkan fitur kampanye yang bisa aktif sendiri tanpa pemberitahuan lebih dulu kepada penjual. Ia menyebut kondisi itu kerap terjadi pada program gratis ongkir maupun fitur promosi lain seperti Live Extra.

Menurutnya, biaya dari fitur yang aktif otomatis tersebut tetap ditanggung seller meski mereka tidak mengaktifkannya. Saat penjual meminta penjelasan, jawaban yang diterima sering kali hanya menyebut fitur itu menyala otomatis.

Ia turut menyoroti biaya tambahan saat pembeli menggunakan paylater, karena beban tersebut justru dibebankan kepada penjual. Bagi pelaku UMKM, praktik semacam ini dinilai tidak sebanding dengan pihak yang sebenarnya menikmati fasilitas pembayaran tersebut.

Perlindungan UMKM Digital

Selain soal biaya, Vanilla Hijab menyoroti lemahnya perlindungan bagi penjual dari praktik fraud berbasis retur barang. Meski perusahaannya belum menjadi korban, Atina mengaku prihatin terhadap banyak seller yang dirugikan oleh kelonggaran aturan pengembalian barang.

Ia menegaskan bahwa marketplace memang membantu perluasan pasar, tetapi kepentingan penjual juga harus dilindungi secara seimbang. Menurutnya, ekosistem digital tidak bisa hanya menguntungkan platform tanpa memberi rasa aman bagi pelaku usaha yang berjualan di dalamnya.

Atina berharap pemerintah ikut hadir secara konkret dalam menata ekosistem e-commerce agar lebih adil. Dengan UMKM menopang sekitar 60 persen ekonomi nasional dan sebagian besar pasar kini bergantung pada marketplace, regulasi yang lebih tegas dinilai mendesak dilakukan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!