Vanilla Hijab Keluhkan Beban Biaya Marketplace Makin Berat

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 15:18 WIB 2
Vanilla Hijab Keluhkan Beban Biaya Marketplace Makin Berat

Beban operasional di marketplace dinilai semakin menekan pelaku usaha lokal, terutama setelah berbagai biaya layanan dan promosi terus naik. Keluhan itu disampaikan oleh Vanilla Hijab, brand fashion muslim lokal yang didirikan Atina Maulina dan Intan Kusuma Fauzia, yang menilai margin penjual kian terkikis.

Atina menyebut, kondisi tersebut bukan hanya menyulitkan arus kas, tetapi juga mengancam keberlangsungan bisnis UMKM. Dalam situasi biaya bahan baku yang ikut naik, penjual dinilai makin sulit menaikkan harga tanpa kehilangan konsumen.

Tekanan Biaya Marketplace

Atina menjelaskan, biaya marketplace yang terus naik membuat ruang gerak penjual lokal semakin sempit. Ia menilai kebijakan potongan layanan kerap berubah tanpa ruang negosiasi yang memadai.

Menurutnya, beban itu semakin berat karena pedagang juga harus menanggung biaya promo yang sulit dihindari. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus menghitung ulang strategi penjualan setiap saat.

Ia menuturkan, kenaikan biaya layanan dan gratis ongkir yang dibebankan ke seller terjadi meski sudah ada imbauan sebelumnya. Dalam pandangannya, penjual akhirnya menjadi pihak yang paling terdampak dari kebijakan sepihak platform.

Atina menambahkan, kenaikan biaya operasional terjadi bersamaan dengan naiknya harga bahan baku. Di sisi lain, pasar tidak selalu menerima kenaikan harga jual produk secara langsung.

Strategi Harga Bertahap

Untuk menjaga daya saing, Vanilla Hijab memilih menaikkan harga produk secara perlahan. Salah satu contohnya adalah penyesuaian harga dari sekitar Rp80.000 menjadi Rp95.000.

Langkah itu diambil agar konsumen tidak kaget dengan perubahan harga yang terlalu besar. Perusahaan juga mengerem volume produksi massal sambil membaca respons pasar.

Atina menilai strategi bertahap lebih aman dibandingkan menaikkan harga secara agresif. Dengan cara itu, bisnis masih bisa bertahan tanpa memutus hubungan dengan pelanggan.

Ia menyebut keputusan tersebut tidak ideal, tetapi menjadi pilihan realistis di tengah tekanan biaya. Bagi pelaku usaha, menjaga keseimbangan antara margin dan permintaan menjadi tantangan utama.

Inovasi Jadi Penahan

Di tengah gempuran produk impor siap pakai atau white label yang lebih murah, Vanilla Hijab memilih jalur inovasi. Perusahaan berupaya meningkatkan nilai tambah produk ketimbang terus memangkas harga.

Atina menilai penurunan harga secara terus-menerus justru berisiko merusak bisnis dalam jangka panjang. Karena itu, nilai tambah menjadi pembeda yang diandalkan agar produk tetap relevan.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah hijab instan dengan magnet, sehingga lebih praktis digunakan. Selain itu, perusahaan juga beralih dari kemasan plastik ke packaging yang dapat digunakan kembali.

Ia mengatakan, konsumen cenderung menerima harga lebih tinggi jika ada manfaat tambahan yang dirasakan. Dengan strategi tersebut, brand berharap tetap kompetitif di pasar yang makin padat.

Harapan Perlindungan Negara

Atina juga menyoroti perlunya peran negara dalam melindungi ekosistem digital. Menurutnya, UMKM merupakan penopang penting ekonomi nasional, namun perlindungannya belum sebanding dengan kontribusi yang diberikan.

Ia menyebut sekitar 90 persen pasar bisnisnya kini bergantung pada marketplace. Karena itu, regulasi yang adil dinilai sangat dibutuhkan agar pelaku usaha tidak terus dirugikan.

Atina menilai sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang kuat seperti sektor pariwisata atau energi. Akibatnya, penjual daring kerap bergerak sendiri tanpa posisi tawar yang seimbang.

Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kebijakan makro, tetapi juga menertibkan aturan mikro di platform digital. Menurutnya, stabilitas ekosistem marketplace penting agar industri kreatif nasional tetap tumbuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!