Utang Pinjol dan PayLater Meningkat, Daya Beli Melemah

Teknologi Moh. Royhan Nahado 13 Mei 2026 09:56 WIB 8
Utang Pinjol dan PayLater Meningkat, Daya Beli Melemah

Fenomena bertahan hidup melalui tabungan perlahan bergeser menjadi ketergantungan pada utang. Masyarakat kini lebih banyak mengandalkan pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now, pay later (BNPL). Perkembangan ini mencerminkan dinamika likuiditas dan daya beli yang berubah.

Data terkini menunjukkan lonjakan outstanding utang pinjol mencapai Rp 100,69 triliun per Februari 2026, naik 25,75% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, utang BNPL mencatat pertumbuhan sebesar 86,7% yoy menjadi Rp 56,3 triliun. Para ekonom memperingatkan bahwa bunga dan biaya tambahan turut membebani rumah tangga.

InstrumenNilai (Feb 2026)Perubahan YoY
Pinjol (Outstanding)Rp 100,69 triliun+25,75%
BNPL/PayLaterRp 56,3 triliun+86,7%

Peningkatan Utang

Outstanding utang pada layanan pinjol tercatat Rp 100,69 triliun per Februari 2026, meningkat 25,75% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan akses kredit digital bagi konsumen dengan kebutuhan mendesak. Namun, bunga dan biaya tambahan turut membebani pengeluaran rumah tangga.

Di sisi lain, layanan BNPL mencatat pertumbuhan 86,7% yoy menjadi Rp 56,3 triliun. Peningkatan ini didorong kemudahan akses serta promosi yang membuat konsumen membayar tagihan belakangan. Akibatnya, pola konsumsi beralih dari penggunaan tabungan ke kredit jangka pendek.

Bunga pinjaman online juga menjadi beban bagi pokok pinjaman meski regulasi menyesuaikan tingkat bunga. Banyak rumah tangga yang membayar lebih untuk bunga dibanding pokok pinjaman. Pakar memperingatkan bahwa pola longgar lingkaran utang bisa menggerus kesehatan keuangan.

Daya Beli dan Akses

Kepada CORE Indonesia, Mohammad Faisal menjelaskan bahwa pelemahan daya beli menjadi pendorong utama peningkatan utang. Pendapatan rumah tangga tumbuh lebih lambat daripada inflasi, sehingga upah riil turun dan kebutuhan kredit meningkat. Akibatnya, banyak orang berutang untuk menutup kekurangan pendapatan mereka meski ada pilihan kredit lain.

Ketika perbankan konvensional menahan kredit karena persyaratan, pinjaman online menjadi alternatif utama. Faktor keterjangkauan dan percepatan proses cairnya dana membuat pinjol dan paylater sangat menarik bagi konsumsi harian. Mengubah kebiasaan pembiayaan, masyarakat sering memanfaatkan fasilitas ini untuk kebutuhan yang tidak mendesak sebelumnya.

Faktor lain yang memperkuat tren ini adalah kemudahan akses berbelanja dan mencairkan pinjaman. Akses tersebut membuat konsumen cenderung memilih pinjol saat membutuhkan uang tunai cepat. Tanpa pendapatan tambahan yang memadai, pola utang bisa membentuk lingkaran yang sulit diatasi.

Kutipan Pakar

Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF, menilai pinjol dan paylater sering menjadi 'jalan pintas' bagi kebutuhan mendesak. Peruntukannya sering kali bersifat konsumtif dan habis setelah digunakan. Ia menambahkan bahwa bunga yang dibayar menambah beban pengeluaran rumah tangga.

Tauhid menjelaskan fenomena ini tidak lepas dari faktor penurunan daya beli. Fenomena tersebut terjadi seiring dengan peningkatan biaya hidup dan daya beli yang menurun. Selain itu, kemudahan akses berbelanja membuat ketergantungan pada kredit menjadi hal yang umum.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai pelemahan daya beli menjadi inti masalah. Penurunan pendapatan riil membuat gaji tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kesimpulannya, utang konsumtif meningkat seiring kepercayaan pada layanan pinjol dan paylater yang mudah diakses.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!