UPF Tidak Selalu Sama, Ini Temuan Studi Terbaru

Lifestyle Nadia Safira Putri 29 Mei 2026 02:24 WIB 2
UPF Tidak Selalu Sama, Ini Temuan Studi Terbaru

Istilah ultra-processed food atau UPF semakin sering dibahas di media sosial, terutama setelah muncul anggapan bahwa sejumlah produk, termasuk sarden kalengan, tidak selalu masuk kategori yang dianggap berisiko tinggi. Perdebatan ini penting karena banyak orang langsung menilai semua makanan olahan sebagai tidak sehat, padahal klasifikasinya lebih berlapis. Dalam sistem NOVA, pangan dibagi berdasarkan tingkat pengolahan, mulai dari bahan mentah hingga produk yang sangat diproses. Pemahaman yang tepat membantu masyarakat menilai makanan secara lebih objektif dan tidak terpaku pada label semata.

Sejumlah makanan seperti mi instan, sosis, nugget, dan minuman kemasan memang kerap dikaitkan dengan pola makan yang kurang sehat. Namun, tidak semua produk dalam kelompok UPF memiliki dampak kesehatan yang sama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa risiko yang muncul sangat dipengaruhi oleh komposisi gizi, kadar gula, garam, dan lemak, serta pola konsumsi secara keseluruhan. Karena itu, penting membedakan antara kategori pengolahan dan kualitas nutrisi tiap produk.

UPF dan Risiko Kesehatan

Banyak orang menghindari UPF karena menganggap seluruh produknya otomatis buruk bagi tubuh. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat, sebab dampak kesehatan sangat bergantung pada jenis produk yang dikonsumsi. Makanan dengan kandungan gula, garam, dan lemak tinggi memang lebih sering dikaitkan dengan risiko penyakit. Meski demikian, ada pula produk UPF tertentu yang tidak menunjukkan hubungan serupa dalam sejumlah studi.

UPF menjadi perhatian karena sering dikonsumsi dalam porsi besar dan frekuensi tinggi. Kebiasaan ini dapat mendorong asupan kalori berlebih dan menurunkan kualitas pola makan harian. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi metabolisme tubuh. Oleh sebab itu, penilaian terhadap UPF perlu dilakukan secara lebih hati-hati.

Para ahli menilai bahwa fokus utama seharusnya tidak hanya pada label UPF, tetapi juga pada kandungan gizi di dalamnya. Produk yang tinggi serat, protein, dan nutrisi tertentu bisa memiliki profil yang berbeda dari produk lain dalam kategori yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kesehatan tidak bisa disamaratakan. Konsumen tetap perlu membaca komposisi dan memahami kebutuhan tubuh masing-masing.

Klasifikasi NOVA pada UPF

Dalam klasifikasi NOVA, pangan dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya. Kelompok pertama berisi pangan yang belum diolah atau minimally processed foods. Kelompok kedua mencakup processed culinary ingredients, sedangkan kelompok ketiga adalah processed foods. Sementara itu, kelompok keempat adalah ultra-processed foods atau UPF.

Klasifikasi ini membantu membedakan makanan berdasarkan proses industri yang dilaluinya. Produk UPF biasanya mengandung banyak bahan tambahan, seperti pemanis, perisa, pengemulsi, dan pengawet. Tujuannya adalah memperpanjang masa simpan dan memperbaiki rasa. Namun, proses tersebut tidak selalu berarti produk tersebut sama buruknya dalam semua konteks.

Pemahaman terhadap NOVA penting agar masyarakat tidak salah menafsirkan istilah olahan. Tidak semua makanan kemasan otomatis berada pada tingkat risiko yang sama. Beberapa produk masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang seimbang jika dikonsumsi secara bijak. Dengan demikian, klasifikasi NOVA sebaiknya dipahami sebagai alat bantu, bukan vonis tunggal.

UPF dalam Studi Diabetes

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada 2023 menyoroti hubungan UPF dengan risiko diabetes tipe 2. Penelitian itu menggunakan data dari lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Temuan ini memperkuat kekhawatiran terhadap pola makan tinggi makanan olahan.

Meski demikian, peneliti juga menemukan bahwa tidak semua kelompok UPF memiliki hubungan yang sama. Produk seperti minuman berpemanis, refined breads, produk hewani olahan, dan ready-to-eat dishes lebih sering dikaitkan dengan risiko yang meningkat. Perbedaan ini menunjukkan bahwa komposisi produk sangat menentukan hasil akhir. Artinya, klasifikasi UPF saja belum cukup untuk menjelaskan dampak kesehatan secara menyeluruh.

Temuan tersebut memberi pesan bahwa kualitas makanan tetap menjadi faktor penting. Konsumsi berlebihan terhadap produk tertentu, terutama yang rendah serat dan tinggi gula, dapat memperburuk kontrol metabolik. Sebaliknya, beberapa produk seperti yogurt, whole-grain breads, dan sereal tertentu menunjukkan hasil yang berbeda dalam penelitian itu. Karena itu, masyarakat perlu membaca temuan ilmiah dengan lebih cermat sebelum menarik kesimpulan.

Membedakan Produk UPF

Tidak semua produk yang masuk kategori UPF memiliki reputasi yang sama di mata peneliti. Ada produk yang memang tinggi gula dan garam, namun ada pula yang masih menyumbang gizi tertentu. Perbedaan inilah yang membuat evaluasi nutrisi menjadi sangat penting. Konsumen disarankan melihat label gizi, bukan hanya nama kategorinya.

Dalam praktik sehari-hari, pemilihan makanan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan frekuensi, porsi, dan kebutuhan gizi. Produk kemasan masih bisa dikonsumsi, selama tidak menjadi sumber utama asupan harian. Pola makan seimbang tetap perlu mengutamakan bahan pangan segar dan minim proses. Dengan cara ini, risiko kesehatan dapat ditekan tanpa harus menghindari semua makanan olahan.

Informasi yang beredar di media sosial sering kali menyederhanakan isu gizi menjadi hitam dan putih. Padahal, ilmu pangan menunjukkan bahwa konteks sangat menentukan penilaian sebuah produk. UPF bukan selalu musuh, tetapi juga bukan kelompok yang bisa diabaikan begitu saja. Pemahaman yang proporsional akan membantu masyarakat membuat keputusan makan yang lebih sehat dan realistis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!