ASSI Soroti Kedaulatan Industri Satelit Indonesia

Teknologi BRH 30 Mei 2026 16:23 WIB 2
ASSI Soroti Kedaulatan Industri Satelit Indonesia

Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh, seiring kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan yang luas dan pasar Asia Pasifik yang terus berkembang. Namun, peluang itu datang bersama tantangan serius dari kehadiran pemain global dengan teknologi lebih maju, termasuk layanan orbit rendah atau LEO. Asosiasi Satelit Indonesia menilai, Indonesia perlu menjaga kedaulatan data, spektrum frekuensi, dan infrastruktur agar tidak hanya menjadi pasar.

Ketua Umum ASSI, Rusdianto Yuli Hermansyah, menyampaikan pandangan itu di Jakarta, Selasa (5/5/2026), di tengah perubahan besar industri telekomunikasi. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, tetapi harus direspons dengan strategi nasional yang tepat. Menurut dia, kebijakan yang adil dan penguatan kapasitas domestik menjadi kunci agar industri satelit Indonesia tetap kompetitif.

Satelit Indonesia dan Persaingan Global

Pasar satelit Indonesia kini menghadapi tekanan yang semakin nyata dari operator asing yang membawa model bisnis baru. Layanan berbasis LEO menawarkan konektivitas cepat, latensi rendah, dan instalasi yang lebih mudah bagi pengguna akhir. Kondisi ini mengubah ekspektasi pasar dan berpotensi menggeser peran pemain domestik berbasis GEO.

Di sisi lain, Indonesia tetap memiliki kebutuhan besar terhadap konektivitas satelit yang andal. Wilayah kepulauan yang tersebar membuat satelit menjadi solusi penting bagi pemerataan akses komunikasi. Karena itu, pertumbuhan industri ini masih menyimpan ruang ekspansi yang sangat besar.

ASSI menilai persaingan global tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah yang jelas. Jika tidak ada pengaturan yang memadai, pemain lokal berisiko kalah oleh skala bisnis dan teknologi yang lebih agresif. Situasi ini menuntut kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara keterbukaan pasar dan kepentingan nasional.

Rusdianto menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi konsumen layanan satelit global. Menurut dia, negara harus tetap memegang kendali atas aspek strategis yang beroperasi di wilayahnya. Ia menyebut, kontrol itu penting untuk menjaga daya saing industri nasional dalam jangka panjang.

Kedaulatan Data Jadi Sorotan

Salah satu perhatian utama ASSI adalah potensi keluarnya data dari yurisdiksi nasional. Layanan satelit global memungkinkan konektivitas tanpa ketergantungan pada infrastruktur dalam negeri. Kondisi tersebut memunculkan risiko terhadap kontrol atas data strategis yang digunakan masyarakat dan pelaku usaha.

ASSI mendorong agar seluruh data dari layanan satelit, termasuk yang terintegrasi dengan jaringan seluler, tetap landing di Indonesia. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat kedaulatan digital dan mencegah data penting berpindah ke luar negeri. Bagi industri, kepastian ini juga memberikan dasar regulasi yang lebih jelas.

Isu kedaulatan digital kini tidak lagi terbatas pada pusat data dan jaringan terestrial. Dalam ekosistem satelit, pengelolaan data, rute koneksi, dan lokasi pemrosesan menjadi faktor yang semakin menentukan. Karena itu, pengawasan yang ketat dibutuhkan agar kepentingan nasional tetap terlindungi.

Rusdianto menilai pemerintah perlu memandang data sebagai aset strategis, bukan sekadar lalu lintas informasi. Ia menyebut, perlindungan data harus berjalan seiring dengan pertumbuhan layanan satelit modern. Dengan begitu, manfaat teknologi bisa dirasakan tanpa mengorbankan kendali nasional.

Orkestrasi Frekuensi Satelit Indonesia

Selain data, perebutan spektrum frekuensi dan slot orbit juga menjadi perhatian utama industri. Negara atau operator yang lebih dulu mengamankan sumber daya itu biasanya memiliki keunggulan kompetitif yang sulit dikejar. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi struktur pasar satelit Indonesia.

ASSI menilai diperlukan orkestrasi nasional dalam pengembangan konstelasi satelit. Tanpa koordinasi yang jelas, benturan frekuensi dan orbit antaroperator berisiko terjadi. Jika itu terjadi, industri dalam negeri justru bisa dirugikan oleh ketidakteraturan pengelolaan sumber daya.

Koordinasi nasional juga penting untuk mencegah tumpang tindih kepentingan antarpenyedia layanan. Pemerintah dinilai perlu memastikan aturan main yang seragam agar seluruh pelaku mendapat kepastian usaha. Dengan kerangka yang tertata, pengembangan satelit dapat berjalan lebih efisien dan terukur.

Di tengah persaingan global, pengelolaan spektrum menjadi instrumen strategis yang tidak boleh diabaikan. ASSI memandang Indonesia harus hadir lebih aktif dalam mengatur masa depan orbit dan frekuensi. Hal itu diperlukan agar industri nasional tidak kehilangan ruang tumbuh di wilayahnya sendiri.

Penguatan Ekosistem Satelit Indonesia

Penguatan kapasitas nasional menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemain global. Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi awal melalui riset Badan Riset dan Inovasi Nasional serta operasional satelit oleh operator domestik. Namun, kemampuan menyeluruh dari pembangunan hingga peluncuran satelit masih perlu ditingkatkan.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah pembangunan fasilitas peluncuran di dalam negeri. Kehadiran infrastruktur tersebut akan memperkuat rantai pasok dan memperbesar kendali Indonesia atas pengembangan satelit. Selain itu, fasilitas lokal juga dapat menekan ketergantungan pada layanan luar negeri.

ASSI juga berharap pemerintah menyoroti kebijakan yang menciptakan level playing field antara operator lokal dan global. Penyesuaian biaya spektrum serta kewajiban operasional dinilai perlu agar persaingan berlangsung adil. Tanpa kesetaraan aturan, pemain domestik bisa kesulitan bertahan di tengah ekspansi layanan asing.

Di tengah tren integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial menuju era 6G, satelit akan menjadi bagian tak terpisahkan dari telekomunikasi nasional. Karena itu, isu kedaulatan bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan strategis. Rusdianto menilai, momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem satelit Indonesia sebelum tertinggal di rumah sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!