UPF Tak Selalu Sama, Ini Penjelasan Peneliti

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 04:18 WIB 4
UPF Tak Selalu Sama, Ini Penjelasan Peneliti

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan semakin sering dibahas di media sosial, terutama setelah sarden kalengan disebut bukan bagian dari kelompok tersebut. Perdebatan ini memunculkan pertanyaan tentang apakah semua makanan olahan benar-benar sama risikonya bagi kesehatan.

Dalam klasifikasi NOVA, pangan dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya, mulai dari bahan segar hingga ultra-processed foods. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidak semua produk UPF memiliki dampak kesehatan yang serupa, sehingga penilaian perlu dilakukan lebih cermat.

UPF dan Risiko Kesehatan

Konsep ultra-processed food merujuk pada makanan yang melalui proses industri kompleks, dengan tambahan bahan seperti pemanis, pengawet, pewarna, dan perisa. Kategori ini kerap dikaitkan dengan makanan praktis yang siap konsumsi atau hanya perlu dipanaskan.

Di ruang publik, UPF sering dipandang sebagai makanan yang otomatis tidak sehat. Pandangan itu muncul karena banyak produk dalam kelompok ini memang tinggi gula, garam, dan lemak. Meski demikian, para peneliti menilai pendekatan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan.

Perbedaan kandungan gizi dan formulasi produk membuat dampaknya tidak bisa digeneralisasi. Karena itu, jenis makanan, komposisi, dan pola konsumsi perlu diperhatikan sebelum menilai risikonya. Dengan kata lain, label UPF saja belum cukup untuk menentukan kualitas kesehatan suatu produk.

Temuan Studi Diabetes Care

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada 2023 meneliti lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat. Penelitian ini menemukan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Namun, hubungan tersebut tidak muncul secara seragam pada semua jenis produk.

Produk seperti minuman berpemanis, refined breads, produk hewani olahan, dan ready-to-eat dishes lebih sering dikaitkan dengan risiko yang meningkat. Temuan ini menunjukkan bahwa profil gizi dan jenis pengolahannya berperan penting. Artinya, dampak UPF sangat bergantung pada karakter produknya.

Peneliti juga menemukan bahwa beberapa produk lain, seperti yogurt, roti gandum utuh, dan sereal tertentu, menunjukkan hasil yang berbeda. Produk-produk tersebut tidak selalu memperlihatkan hubungan negatif yang sama. Hal ini memperkuat pandangan bahwa kategori UPF tidak bisa dibaca secara hitam putih.

Contoh Produk Yang Berbeda

Mi instan, sosis, nugget, dan minuman kemasan sering menjadi contoh yang langsung dicap sebagai makanan tidak sehat. Sebagian besar produk tersebut memang memiliki kadar natrium, lemak, atau gula yang relatif tinggi. Karena itu, konsumsinya tetap perlu dibatasi secara bijak.

Di sisi lain, tidak semua produk dalam kelompok UPF memiliki karakter nutrisi yang sama. Yogurt kemasan tertentu, misalnya, dapat tetap memberi asupan protein dan kalsium. Sementara roti gandum utuh dan sereal tertentu bisa menjadi sumber serat yang membantu kebutuhan harian.

Kasus sarden kalengan juga menunjukkan bahwa tidak semua makanan dalam kemasan otomatis buruk. Produk tersebut bisa saja tetap memiliki kandungan protein yang baik, tergantung bahan dan proses pengolahannya. Oleh sebab itu, konsumen perlu membaca label gizi dengan lebih teliti.

Cara Memilih Makanan Olahan

Masyarakat disarankan tidak hanya fokus pada label UPF, tetapi juga pada kandungan gizinya. Langkah sederhana seperti memeriksa kadar gula, garam, lemak, dan ukuran saji dapat membantu membuat pilihan yang lebih sehat. Kebiasaan ini penting untuk menghindari penilaian yang terlalu umum.

Selain itu, pola makan harian tetap perlu menyeimbangkan makanan olahan dengan pangan segar. Sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, serta protein tanpa banyak proses tetap menjadi pilihan utama. Kombinasi ini dapat membantu menjaga kualitas asupan nutrisi secara keseluruhan.

Para ahli menilai edukasi gizi menjadi kunci agar masyarakat lebih kritis terhadap makanan kemasan. Dengan memahami perbedaan tiap produk, konsumen dapat memilih makanan yang praktis tanpa mengabaikan kesehatan. Pada akhirnya, yang menentukan bukan hanya tingkat proses, tetapi juga kualitas komposisi makanan itu sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!