UMKM Yogya Raup Rp 1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 30 Mei 2026 19:44 WIB 3
UMKM Yogya Raup Rp 1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG memberi dampak positif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai daerah. Salah satu yang merasakan langsung dorongan itu adalah Sweet Sundae, UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta, yang mampu meraup omzet hingga Rp 1 miliar dari pasokan susu untuk program tersebut. Pemilik sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, menyebut kerja sama itu mulai berjalan sejak Februari 2025. Permintaan yang terus meningkat membuat usaha ini memperluas kapasitas produksi dan menambah jaringan pasok.

Yuki menjelaskan, saat ini sedikitnya ada lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG yang mengambil stok susu dari usahanya. Kelima SPPG itu tersebar di sejumlah wilayah Jawa Tengah, antara lain Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang. Setiap SPPG mengambil sekitar 12 ribu pcs susu berukuran 100 ml dalam satu pengambilan. Pasokan dilakukan dua kali dalam sepekan, dan jumlahnya diperkirakan bertambah pada pekan depan.

MBG Dorong Usaha Susu

Keikutsertaan Sweet Sundae dalam program MBG berawal dari tawaran sejumlah SPPG yang datang langsung ke lokasi usaha. Mereka menawarkan kerja sama untuk memasok susu plain atau susu murni yang dibutuhkan dalam program pemenuhan gizi. Yuki mengaku tidak langsung menerima tawaran tersebut, karena ingin memastikan mitra yang dipilih memiliki komitmen yang jelas. Sikap selektif itu dilakukan agar distribusi dan kualitas produk tetap terjaga.

Setelah menilai kebutuhan dan kapasitas produksi, Sweet Sundae memutuskan masuk sebagai pemasok tetap. Keputusan itu kemudian membuka peluang pertumbuhan usaha yang lebih luas, terutama karena volume permintaan datang secara rutin. Keterlibatan dalam MBG juga memberi kepastian pasar bagi produk susu olahan miliknya. Dalam konteks usaha kecil, kepastian semacam ini menjadi modal penting untuk menjaga arus kas.

Program MBG tidak hanya menyerap produk, tetapi juga mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan standar kerja. Sweet Sundae harus memastikan kualitas susu tetap konsisten, karena produk dikirim dalam jumlah besar dan jadwal yang ketat. Kondisi tersebut membuat manajemen produksi menjadi lebih disiplin dan terukur. Bagi UMKM, tuntutan seperti ini dapat menjadi pijakan untuk naik kelas.

Dampak ekonomi dari program tersebut terlihat pada meningkatnya kapasitas penjualan Sweet Sundae. Omzet yang diperoleh dari pasok susu MBG disebut mencapai sekitar Rp 1 miliar. Angka itu menunjukkan bahwa program pemerintah dapat menjadi pengungkit nyata bagi pelaku usaha lokal. Jika dikelola dengan baik, permintaan dari sektor publik berpotensi menciptakan efek berganda bagi ekonomi daerah.

Kapasitas Produksi Ditingkatkan

Lonjakan permintaan membuat kebutuhan susu di Sweet Sundae ikut membesar. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, perusahaan kemudian membuka peternakan sendiri agar pasokan bahan baku lebih terjamin. Langkah ini sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada sumber susu dari luar. Dalam bisnis pangan, kendali atas bahan baku merupakan faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Saat ini, Sweet Sundae memelihara setidaknya 97 ekor sapi perah. Dari peternakan itu, perusahaan menghasilkan sekitar 4,5 ton susu setiap hari. Produksi sebesar itu menjadi fondasi utama untuk memenuhi permintaan dari SPPG yang terus bertambah. Dengan pasokan mandiri, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk menjaga kestabilan distribusi.

Pengembangan peternakan juga menunjukkan adanya integrasi usaha dari hulu ke hilir. Sweet Sundae tidak hanya mengolah susu, tetapi juga mengelola sumber bahan bakunya sendiri. Pola seperti ini lazim ditempuh pelaku usaha yang ingin memperkuat efisiensi produksi. Selain itu, integrasi usaha membuat kualitas produk lebih mudah dipantau sejak awal.

Dalam situasi permintaan yang terus naik, tambahan kapasitas menjadi kebutuhan mendesak. Yuki menilai, kerja sama dengan MBG menuntut kesiapan operasional yang lebih kuat dari waktu ke waktu. Karena itu, penambahan sapi dan pengelolaan peternakan menjadi langkah strategis. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga kelancaran suplai untuk program yang menyasar kebutuhan gizi masyarakat.

SPPG Jadi Mitra Strategis

Peran SPPG menjadi sangat penting dalam rantai pasok susu untuk program MBG. Melalui unit inilah distribusi kebutuhan gizi dapat dijalankan secara lebih terstruktur di daerah. Sweet Sundae kini melayani lima SPPG yang tersebar di Jawa Tengah. Wilayah layanan yang luas menandakan jaringan kerja sama yang terus berkembang.

Setiap SPPG mengambil stok susu dalam jumlah besar dan pada jadwal yang sudah ditentukan. Satu kali pengambilan mencapai 12 ribu pcs per hari dengan ukuran 100 ml. Pola suplai dua kali seminggu membuat kebutuhan produksi harus selalu siap. Dalam praktiknya, keteraturan jadwal menjadi kunci agar rantai distribusi tidak terganggu.

Dalam waktu dekat, jumlah mitra juga diperkirakan bertambah. Yuki menyebut pekan depan akan ada delapan SPPG tambahan yang mulai memasok susu dari usahanya. Penambahan ini tentu akan memperbesar volume distribusi dan kebutuhan produksi harian. Di sisi lain, peluang pertumbuhan usaha juga semakin terbuka lebar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa MBG mampu menciptakan pasar yang stabil bagi UMKM tertentu. Dengan permintaan yang berulang, pelaku usaha dapat merencanakan produksi dan investasi dengan lebih pasti. Hal ini penting karena banyak UMKM selama ini terkendala kepastian serapan pasar. Jika pola ini berlanjut, manfaat program dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha lokal.

Peluang UMKM Naik Kelas

Kasus Sweet Sundae memperlihatkan bagaimana program pemerintah dapat menggerakkan ekonomi mikro secara langsung. Ketika produk UMKM terserap dalam skala besar, pelaku usaha memperoleh ruang untuk memperbesar kapasitas dan memperkuat rantai pasok. Efeknya tidak berhenti pada omzet, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja dan investasi baru. Dalam jangka panjang, model seperti ini dapat memperkuat ekosistem usaha daerah.

Keberhasilan tersebut juga menegaskan pentingnya kesiapan kualitas bagi pelaku UMKM. Produk yang masuk ke program gizi harus memenuhi standar rasa, keamanan, dan kontinuitas pasok. Oleh karena itu, seleksi mitra dan pengawasan produksi menjadi bagian penting dari proses bisnis. Pelaku usaha yang mampu menjaga standar akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan pasar.

Bagi Sweet Sundae, kerja sama dengan MBG menjadi momentum untuk memperluas skala usaha. Dari awalnya hanya memasok susu, perusahaan kini mengelola peternakan sendiri demi menjaga pasokan. Strategi ini menunjukkan bahwa UMKM dapat bertumbuh ketika bertemu dengan pasar yang tepat. Perubahan tersebut juga memberi contoh bahwa inovasi bisnis tidak selalu harus dimulai dari modal besar.

Program MBG pun dinilai berpotensi membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha pangan di daerah. Selama mekanisme distribusi berjalan baik dan kualitas produk terjaga, UMKM dapat menjadi bagian penting dari rantai pasok nasional. Pengalaman Sweet Sundae menjadi salah satu bukti bahwa kebijakan publik dapat memberi dampak ekonomi yang konkret. Dari Yogyakarta, kisah ini menunjukkan bahwa pertumbuhan UMKM bisa lahir dari kebutuhan gizi masyarakat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!