UMKM Pertamina Catat Transaksi Rp1,2 M di Inacraft

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 31 Mei 2026 18:54 WIB 3
UMKM Pertamina Catat Transaksi Rp1,2 M di Inacraft

Hari pertama pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, Inacraft Oktober 2025, langsung menjadi momentum penting bagi 32 UMKM binaan Pertamina. Dalam satu hari, total transaksi yang dibukukan menembus lebih dari Rp1,2 miliar di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 1 Oktober 2025.

Ajang yang berlangsung hingga 5 Oktober itu mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli ritel, buyer domestik, hingga calon mitra dari mancanegara. Capaian tersebut menunjukkan kesiapan UMKM binaan Pertamina dalam memanfaatkan pameran sebagai sarana perluasan pasar.

UMKM Pertamina di Inacraft

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, mengatakan para UMKM binaan telah melalui rangkaian persiapan sebelum tampil di Inacraft. Proses itu mencakup kurasi, seleksi, coaching clinic, branding, packaging, storytelling, dan penataan display booth.

Menurut Fadjar, hasil transaksi pada hari pertama mencerminkan ketekunan pelaku UMKM dalam mempersiapkan produk dan presentasi usaha. Ia menilai pencapaian itu menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan memberi dampak langsung terhadap performa penjualan.

Pertamina juga menempatkan pendampingan sebagai bagian dari strategi agar UMKM tidak hanya hadir di pameran, tetapi juga siap bersaing. Dengan bekal tersebut, para pelaku usaha dapat berinteraksi lebih percaya diri dengan calon pembeli dan mitra bisnis.

Keikutsertaan di Inacraft pun membuka peluang lebih luas bagi UMKM binaan untuk memperkuat posisi di pasar nasional. Dalam konteks itu, pameran menjadi ruang strategis bagi produk lokal untuk tampil sejajar dengan merek-merek lain di sektor ekonomi kreatif.

Kainnesia Kantongi Pesanan Besar

Salah satu peserta yang mencatat transaksi jumbo adalah Kainnesia milik Nur Salam dari Umbulharjo, Yogyakarta. Baru sehari pameran berlangsung, usaha tersebut sudah mengantongi pesanan seragam dan suvenir senilai lebih dari Rp300 juta.

Pesanan itu datang dari perusahaan pelayaran dan sejumlah kementerian, yang menunjukkan tingginya minat terhadap produk yang ditawarkan. Capaian tersebut menjadi dorongan besar bagi Kainnesia untuk memperluas jangkauan pasar.

Kehadiran pembeli institusional memberi sinyal bahwa produk UMKM mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih besar. Pada saat yang sama, pencapaian ini memperlihatkan pentingnya kualitas produk dan konsistensi layanan.

Bagi pelaku usaha, transaksi awal yang tinggi pada pameran seperti Inacraft dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama jangka panjang. Momentum itu juga memperkuat reputasi UMKM di mata konsumen dan calon mitra bisnis baru.

Smart Batik Dapat Sorotan

UMKM lain yang mencuri perhatian adalah Smart Batik atau CV Smart Batik Indonesia milik Miftahudin Nur Insan asal Yogyakarta. Produk yang dibawa mencakup kain batik, fesyen batik, hingga payung batik ramah lingkungan berbahan Batik Sawit.

Produk unggulan Smart Batik sebelumnya telah diperkenalkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Sejumlah produk juga sempat digunakan menteri dan artis nasional dalam panggung Anugerah Komedi Indonesia 2025.

Pada hari pertama Inacraft, Smart Batik membukukan transaksi lebih dari Rp125 juta dari penjualan Kain Batik Sawit dan Payung Batik. Angka itu menegaskan bahwa inovasi berbasis budaya tetap memiliki daya saing tinggi di pasar.

Miftahudin menyebut kesempatan tampil bersama Pertamina memberi dampak besar, bukan hanya dari sisi penjualan. Ia menilai jaringan baru yang terbuka, baik domestik maupun internasional, menjadi aset penting untuk pertumbuhan usaha ke depan.

Strategi Booth dan Pembinaan

Dalam pameran ini, 32 UMKM binaan Pertamina tersebar di beberapa lokasi sesuai kategori produk. Sebanyak 18 UMKM wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A, sementara 6 UMKM makanan dan minuman berada di Talam Hall B.

Selain itu, terdapat 7 UMKM co-branding yang membeli booth mandiri di area pameran. Pembagian ini memperlihatkan variasi model keikutsertaan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan usaha masing-masing.

Pertamina juga mengusung konsep booth Youthpreneur: Craft, Culture, Future yang dirancang lebih interaktif. Di dalamnya tersedia display produk, penjualan, business matching dengan buyer, serta aktivasi digital seperti lucky dip dan mobcast untuk menarik pengunjung.

Fadjar menegaskan, dukungan terhadap UMKM merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan yang dijalankan secara rutin. Program tersebut juga sejalan dengan Asta Cita, khususnya pada upaya mendorong lapangan kerja berkualitas, kewirausahaan, dan pengembangan industri kreatif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!