UMKM Binaan Pertamina Tembus Ekspor Rp87 Miliar ke Jepang

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 02 Juni 2026 13:02 WIB 3
UMKM Binaan Pertamina Tembus Ekspor Rp87 Miliar ke Jepang

Pertamina membawa kabar positif dari Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 setelah salah satu UMKM binaannya, PT Java Criollo Cokelat Indonesia, mencatat transaksi ekspor senilai US$ 5,2 juta atau sekitar Rp87 miliar. Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman bersama Being Co Ltd asal Jepang pada 19 Oktober 2025.

Prosesi penandatanganan dilakukan oleh Founder Java Criollo, Inge Oktavia Arina, bersama perwakilan Being Co Ltd, Sakae Noda, dan disaksikan Menteri Koperasi dan UKM, Maman Abdurrahman. Kesepakatan ini menjadi sinyal bahwa produk UMKM Indonesia semakin mampu menembus pasar internasional dengan daya saing yang kuat.

UMKM Binaan Tembus Jepang

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menilai kerja sama tersebut menunjukkan UMKM lokal memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global. Menurut dia, capaian Java Criollo menjadi bukti bahwa kualitas produk Indonesia semakin diakui pembeli luar negeri. Fadjar berharap peluang serupa juga dapat diraih 44 UMKM lain yang ikut serta dalam TEI 2025.

Pertamina menempatkan keikutsertaan UMKM binaan dalam pameran dagang internasional sebagai bagian dari strategi memperluas akses pasar. Melalui ajang seperti TEI, para pelaku usaha mendapat kesempatan bertemu langsung dengan calon pembeli dari berbagai negara. Langkah ini diharapkan mempercepat ekspor produk unggulan Indonesia.

Keberhasilan transaksi senilai US$ 5,2 juta juga memperlihatkan bahwa produk olahan lokal dapat memiliki nilai tambah tinggi. Dalam konteks ini, cokelat menjadi salah satu komoditas yang dinilai punya prospek kuat di pasar global. Capaian tersebut sekaligus mengangkat reputasi UMKM binaan sebagai pemain bisnis yang kompetitif.

Minat Buyer Jepang Menguat

Sakae Noda mengaku tertarik pada cokelat Indonesia karena kualitas bahan baku dan harga yang ditawarkan dinilai kompetitif. Ia menyebut produk Java Criollo dibuat dari bahan alami tanpa pupuk kimia, sehingga memberi nilai lebih di mata konsumen Jepang. Menurut dia, kualitas produk tersebut sangat baik dan layak dipasarkan lebih luas di negaranya.

Ketertarikan buyer Jepang menunjukkan bahwa pasar internasional semakin terbuka terhadap produk pangan olahan dari Indonesia. Kualitas menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan produk menembus pembeli asing. Dalam kasus ini, kombinasi mutu dan harga menjadi daya tarik utama bagi mitra dagang dari Jepang.

Java Criollo dinilai berhasil menjawab kebutuhan pasar yang mengutamakan produk sehat, alami, dan konsisten. Dengan pendekatan tersebut, UMKM ini mampu membangun kepercayaan buyer internasional. Kepercayaan itu menjadi modal penting untuk memperluas kerja sama jangka panjang.

Java Criollo Raih Pengakuan

Founder Java Criollo Cokelat Indonesia, Inge Oktavia Arina, menyampaikan rasa bangga karena produknya diterima di pasar internasional. Ia menjelaskan bahwa awalnya buyer mencari cokelat asal Indonesia dan kemudian menemukan nama perusahaannya. Setelah melihat kualitas produk, pihak Jepang memutuskan menjalin kerja sama.

Inge menegaskan bahwa pencapaian ini bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan pengakuan atas nilai dan cita rasa produk lokal. Menurut dia, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa UMKM Indonesia mampu bersaing di segmen premium. Ia juga menilai kerja sama ini sebagai langkah penting bagi perkembangan usahanya.

Keberhasilan Java Criollo menjadi contoh bahwa konsistensi kualitas dapat membuka pintu ekspor yang lebih luas. Produk yang memiliki identitas kuat dan standar baik berpeluang mendapat tempat di pasar global. Bagi UMKM lain, capaian ini dapat menjadi referensi untuk memperkuat strategi ekspor.

Strategi Ekspor UMKM Meluas

Selain Java Criollo, Pertamina membawa 44 UMKM lain ke TEI 2025 untuk menjajaki peluang kerja sama serupa. Kehadiran mereka menunjukkan upaya terstruktur dalam memperluas akses pasar bagi pelaku usaha binaan. Pameran dagang tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan produk lokal dengan buyer internasional.

Pendekatan ini sekaligus memperkuat ekosistem pembinaan UMKM agar tidak berhenti pada pasar domestik. Dengan pendampingan yang tepat, pelaku usaha berpeluang meningkatkan kualitas, kapasitas produksi, dan kesiapan ekspor. Kondisi tersebut menjadi fondasi penting untuk membangun pertumbuhan yang berkelanjutan.

Transaksi Java Criollo memperlihatkan bahwa peluang ekspor UMKM Indonesia masih sangat besar jika didukung promosi yang tepat. Pemerintah, BUMN, dan pelaku usaha perlu menjaga momentum ini agar tidak berhenti pada satu kerja sama. Jika konsisten, semakin banyak produk lokal yang dapat bersaing di pasar dunia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!