Pertamina mencatat capaian penting di Trade Expo Indonesia 2025 setelah salah satu UMKM binaannya, PT Java Criollo Cokelat Indonesia, meraih transaksi ekspor senilai US$ 5,2 juta atau sekitar Rp87 miliar. Kesepakatan itu diteken bersama perusahaan Jepang, Being Co Ltd, dan disaksikan Menteri Koperasi dan UKM, Maman Abdurrahman, di ajang pameran dagang tersebut pada 19 Oktober 2025.
Transaksi ini menjadi sorotan karena menunjukkan produk kakao dan cokelat buatan UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar internasional. Pertamina menilai pencapaian tersebut dapat membuka jalan bagi puluhan UMKM lain yang ikut dalam TEI 2025 untuk menjaring pembeli luar negeri.
Ekspor UMKM Binaan Pertamina
Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Founder Java Criollo, Inge Oktavia Arina, dan perwakilan Being Co Ltd, Sakae Noda. Prosesi itu menjadi penanda kerja sama ekspor produk cokelat asal Indonesia ke pasar Jepang. Nilai transaksi yang disepakati mencapai US$ 5,2 juta, sehingga menjadi salah satu capaian utama Pertamina di pameran tersebut. Kehadiran kementerian dan pelaku usaha mempertegas pentingnya kolaborasi dalam mendorong ekspor UMKM.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, mengatakan kerja sama tersebut menunjukkan UMKM lokal memiliki daya saing global. Ia menilai produk binaan Pertamina tidak hanya diminati karena kualitas, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional. Menurut dia, capaian Java Criollo dapat menjadi contoh bagi UMKM lain yang sedang mencari akses ekspor. Pertamina berharap lebih banyak pelaku usaha kecil mampu menembus pasar luar negeri melalui ajang serupa.
Fadjar juga menyebut ada 44 UMKM binaan Pertamina lainnya yang mengikuti TEI 2025. Para peserta itu diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan untuk bertemu buyer internasional dan menjajaki peluang kerja sama. Kehadiran banyak UMKM dalam satu pameran menunjukkan strategi pembinaan yang terarah. Dengan begitu, ekspor tidak lagi hanya didominasi pelaku besar, tetapi juga UMKM yang memiliki produk unggulan.
Pertamina menegaskan dukungannya tidak berhenti pada keikutsertaan di pameran dagang. Perusahaan ingin UMKM binaan memperoleh pengalaman langsung dalam negosiasi, presentasi produk, dan pemenuhan standar ekspor. Langkah tersebut dinilai penting agar pelaku usaha kecil siap bersaing di pasar global. Dalam konteks ini, TEI 2025 menjadi panggung pembuktian bagi kualitas produk lokal Indonesia.
Minat Jepang pada Cokelat
Dari pihak Jepang, Sakae Noda menyampaikan ketertarikan terhadap produk cokelat asal Indonesia. Ia menilai cokelat buatan Java Criollo memiliki bahan baku yang baik, kualitas tinggi, dan harga yang kompetitif. Menurut dia, keunggulan itu membuat produk tersebut layak dipasarkan di Jepang. Penilaian tersebut menjadi dasar terjalinnya kerja sama ekspor antara kedua pihak.
Sakae Noda juga menyoroti proses produksi yang dinilai lebih alami. Ia menyebut produk tersebut dibuat tanpa pupuk kimia dan memiliki cita rasa yang kuat. Faktor itu, menurut dia, menjadi nilai tambah di tengah pasar Jepang yang sangat memperhatikan kualitas bahan pangan. Karena itu, ia berharap masyarakat Jepang dapat menikmati cokelat Indonesia tersebut.
Ketertarikan buyer Jepang memberi sinyal positif bagi produk kakao Indonesia. Pasar Jepang dikenal selektif, sehingga penerimaan terhadap produk UMKM menjadi capaian yang penting. Hal ini menunjukkan bahwa mutu produk lokal mampu memenuhi standar konsumen luar negeri. Kondisi tersebut juga membuka peluang bagi komoditas olahan lain dari Indonesia.
Kerja sama ini menambah daftar transaksi yang berhasil dibukukan UMKM Indonesia di forum internasional. Bagi pelaku usaha, masuknya produk ke pasar Jepang berarti membuka akses pada konsumen dengan daya beli tinggi. Peluang tersebut dapat meningkatkan volume produksi dan memperkuat rantai pasok dalam negeri. Dengan demikian, ekspor UMKM berpotensi memberi dampak ekonomi yang lebih luas.
Kebanggaan Pelaku Usaha
Founder Java Criollo Cokelat Indonesia, Inge Oktavia Arina, mengaku bangga produknya diterima di pasar internasional. Ia mengatakan awalnya buyer mencari cokelat asal Indonesia, lalu menemukan nama perusahaannya. Setelah melihat kualitas produk, pihak Jepang memutuskan menjalin kerja sama. Bagi Inge, proses itu menjadi bukti bahwa produk lokal bisa menarik minat pasar luar negeri.
Inge menambahkan, kepercayaan dari buyer tidak datang secara instan. Perusahaan harus menunjukkan kualitas bahan, konsistensi rasa, dan kesiapan produksi agar dapat memenuhi permintaan ekspor. Ia menyebut keberhasilan ini sebagai hasil kerja panjang dalam membangun merek dan mutu produk. Karena itu, kesepakatan dengan Being Co Ltd dianggap sebagai pencapaian yang sangat berarti.
Menurut Inge, nilai dan cita rasa yang dibawa Java Criollo akhirnya mendapatkan tempat di pasar internasional. Ia menilai penerimaan tersebut menjadi kebanggaan bukan hanya bagi perusahaannya, tetapi juga bagi UMKM Indonesia. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa produk olahan kakao dalam negeri memiliki peluang besar di pasar premium. Dukungan pembinaan dan akses pameran dinilai berperan besar dalam membuka kesempatan tersebut.
Inge berharap kerja sama ini menjadi awal dari ekspansi yang lebih luas. Ia menilai pelaku UMKM perlu terus menjaga kualitas agar dapat mempertahankan kepercayaan pembeli asing. Di sisi lain, pengalaman ini dapat menjadi pembelajaran bagi UMKM lain yang ingin menembus pasar ekspor. Dengan konsistensi dan inovasi, produk lokal dinilai mampu bersaing secara berkelanjutan.
Langkah Lanjutan Pertamina
Pertamina memandang capaian Java Criollo sebagai bukti bahwa pembinaan UMKM dapat menghasilkan transaksi konkret. Perusahaan menilai pendampingan yang konsisten akan membantu pelaku usaha memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas produksi. Karena itu, partisipasi dalam TEI 2025 diposisikan sebagai bagian dari strategi pembukaan akses global. Fokus utamanya adalah mempertemukan UMKM dengan buyer potensial dari berbagai negara.
Ajang pameran dagang juga memberi kesempatan bagi UMKM untuk mempelajari kebutuhan pasar internasional. Para pelaku usaha dapat melihat langsung standar kualitas, kemasan, dan preferensi konsumen dari luar negeri. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam menyusun strategi ekspor yang lebih matang. Dalam jangka panjang, pembelajaran itu akan memperkuat daya saing produk Indonesia.
Pertamina menilai keberhasilan satu UMKM dapat menjadi pemicu bagi UMKM lain untuk berani masuk pasar ekspor. Dukungan perusahaan terhadap 44 UMKM lain di TEI 2025 diharapkan menghasilkan peluang serupa. Jika lebih banyak transaksi tercipta, dampaknya akan terasa pada pertumbuhan usaha kecil dan menengah. Hal ini juga sejalan dengan upaya memperluas kontribusi UMKM terhadap ekonomi nasional.
Transaksi ekspor senilai Rp87 miliar tersebut menegaskan bahwa produk UMKM Indonesia memiliki potensi besar di pasar global. Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa kualitas, konsistensi, dan dukungan ekosistem dapat menghasilkan capaian nyata. Dengan pembinaan berkelanjutan, lebih banyak pelaku usaha berpeluang mengikuti jejak Java Criollo. Dari TEI 2025, Indonesia kembali menunjukkan bahwa produk lokal mampu berbicara di panggung internasional.
