Kisah Aisah Bangun Usaha Camilan Betawi hingga Omzet Jutaan

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 07:59 WIB 2
Kisah Aisah Bangun Usaha Camilan Betawi hingga Omzet Jutaan

Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai usaha dari kebutuhan sederhana, yaitu mencari penghasilan tambahan. Dari jualan sampingan, ia justru membangun bisnis camilan khas Betawi yang kini dikenal dengan nama Betawi Punya Gaye. Perjalanan itu berawal dari keripik pedas, lalu berkembang menjadi usaha yang menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulan.

Keberanian Aisah untuk beralih jalur lahir setelah usahanya sempat tersendat di masa pandemi COVID-19. Ia kemudian memilih fokus pada jajanan tradisional seperti kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan, usaha yang dirintis sejak 2018 itu kini tumbuh lebih terarah dan memiliki identitas merek yang kuat.

Usaha Camilan Betawi

Aisah mulai berjualan pada 2018 saat masih bekerja sebagai karyawan pabrik spidol. Saat itu, ia menjajakan keripik pedas kepada rekan kerja dan menitipkannya di warung sekitar tempat tinggal.

Langkah kecil tersebut sempat memberi tambahan pendapatan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Namun, penjualan mulai melemah ketika sejumlah warung tutup dan aktivitas ekonomi ikut terganggu.

Situasi itu membuat Aisah memikirkan ulang arah usahanya. Ia lalu melihat peluang pada camilan tradisional yang memiliki pasar tersendiri dan nilai budaya yang kuat.

Dari Pabrik ke Wirausaha

Setelah hampir 20 tahun bekerja di pabrik, Aisah memutuskan mundur dan fokus pada usaha. Keputusan itu ia ambil setelah menilai bisnis camilan lebih menjanjikan untuk dijalankan secara serius.

Ia mengaku telah lama terbiasa bekerja keras dan tidak asing dengan proses membuat kue. Pengalaman sejak kecil membantu dirinya memahami dasar produksi makanan ringan.

Dari modal pengalaman itu, ia berani membangun usaha yang lebih berkarakter. Aisah pun memilih menghadirkan produk yang dekat dengan identitas Betawi agar usahanya lebih mudah dikenali.

Nama Betawi Punya Gaye

Pada 2020, Aisah mulai menekuni usahanya dengan bergabung ke Jakpreneur. Ia juga memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Nama usaha awalnya adalah Camilan 19, namun dinilai terlalu umum. Setelah mendapat arahan, ia memilih nama Betawi Punya Gaye sebagai merek dagang baru.

Nama tersebut kemudian menjadi identitas yang melekat pada produk buatannya. Lewat merek itu, ia menguatkan citra camilan khas Betawi di tengah persaingan usaha makanan ringan.

Rasa Tradisi Jadi Andalan

Aisah mengembangkan produk seperti kembang goyang, biji ketapang, hingga kacang bawang dengan resep yang ia racik sendiri. Prosesnya dilakukan secara autodidak sampai rasa dan teksturnya dianggap pas.

Produk-produk itu dipilih karena memiliki kedekatan kuat dengan tradisi Betawi. Selain itu, jajanan jadul masih memiliki pasar yang stabil di kalangan konsumen yang mencari cita rasa klasik.

Dengan strategi tersebut, usaha Aisah tidak hanya menjual makanan ringan, tetapi juga menghadirkan nilai budaya. Pendekatan ini membuat Betawi Punya Gaye punya pembeda di tengah banyaknya merek camilan modern.

Pendampingan Usaha Mendorong Bertumbuh

Keterlibatan Aisah dalam program pendampingan usaha memberi dampak penting bagi pengembangan bisnisnya. Ia mendapat akses pembelajaran, jejaring, dan dorongan untuk menata usaha secara lebih profesional.

Pelatihan mengenai legalitas dan merek dagang juga membantu memperkuat posisi usahanya di pasar. Dengan perlindungan HAKI, identitas produk menjadi lebih aman dan bernilai.

Kisah Aisah menunjukkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh besar ketika dikelola dengan konsisten. Dari karyawan pabrik, ia kini menjadi pelaku UMKM yang berhasil mengubah camilan tradisional menjadi sumber penghasilan utama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!