Purbaya Soroti Rupiah Melemah ke Rp 17.800 per Dolar AS

Forex & Saham Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 09:18 WIB 3
Purbaya Soroti Rupiah Melemah ke Rp 17.800 per Dolar AS

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh Rp 17.800 per dolar AS. Ia menilai kondisi tersebut tidak selaras dengan fundamental ekonomi Indonesia yang disebut masih kuat. Pernyataan itu disampaikan di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, pada Rabu kemarin.

Purbaya menegaskan pelemahan rupiah seharusnya terjadi ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi. Menurut dia, situasi saat ini justru menunjukkan fondasi ekonomi yang baik, sehingga tekanan kurs dinilai tidak masuk akal. Ia bahkan mengaku heran dan stres melihat pergerakan rupiah yang melemah cukup dalam.

Rupiah dan Fundamental Ekonomi

Purbaya menyatakan pelemahan rupiah pada saat fundamental ekonomi membaik merupakan hal yang janggal. Ia menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan logika pasar yang biasanya merespons gangguan ekonomi secara langsung. Karena itu, ia menganggap tekanan kurs saat ini perlu dicermati lebih jauh.

Ia menyebut pelemahan rupiah biasanya terjadi ketika ada masalah pada sisi fundamental. Namun, dalam situasi sekarang, indikator ekonomi Indonesia dinilai masih berada pada jalur yang baik. Pandangan itu membuat tekanan terhadap rupiah dianggap tidak mencerminkan kondisi riil perekonomian.

Meski demikian, Purbaya tidak merinci faktor eksternal yang memicu tekanan pada kurs. Ia hanya menegaskan bahwa ekonomi nasional saat ini berada pada posisi yang cukup solid. Dengan kondisi tersebut, pelemahan rupiah dinilai tidak seharusnya sedalam yang terjadi belakangan ini.

APBN Tak Perlu Uji Ulang

Saat ditanya soal kemungkinan melakukan stress test terhadap APBN, Purbaya menjawab tidak perlu. Ia mengatakan simulasi terkait risiko telah dihitung sebelumnya, termasuk skenario harga minyak dunia menembus US$ 100 per barel. Dalam perhitungan itu, asumsi nilai tukar rupiah juga sudah dimasukkan.

Purbaya menegaskan pemerintah tidak perlu menghitung ulang APBN hanya karena rupiah melemah. Menurut dia, berbagai kemungkinan risiko fiskal sudah diantisipasi sejak awal penyusunan asumsi. Dengan demikian, ruang fiskal dinilai masih cukup aman menghadapi volatilitas pasar.

Ia bahkan berkelakar bahwa dirinya yang stres menghadapi pelemahan rupiah, bukan APBN. Pernyataan itu disampaikan untuk menegaskan bahwa anggaran negara tetap berada dalam kendali. Pemerintah, kata dia, sudah menyiapkan skenario yang memadai untuk menghadapi dinamika eksternal.

Intervensi Jaga Bond Yield

Di tengah pelemahan rupiah, Purbaya menyebut imbal hasil obligasi pemerintah atau bond yield justru menurun. Kondisi itu terjadi karena adanya intervensi pemerintah melalui operasi treasury di pasar Surat Berharga Negara. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan.

Ia menjelaskan, aksi pembelian oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan membantu menahan kenaikan yield. Dengan begitu, pasar obligasi tetap terkendali meski rupiah berada dalam tekanan. Menurut dia, stabilitas di pasar SBN menjadi salah satu penopang penting bagi kepercayaan investor.

Purbaya menilai pengendalian bond market akan menjaga minat investor asing untuk tetap masuk ke Indonesia. Ia juga menyebut aliran modal asing ke pasar obligasi mulai terlihat kembali. Ke depan, pemerintah disebut akan menyiapkan aksi lanjutan untuk membantu memperkuat rupiah secara lebih signifikan.

Rupiah Dekati Rekor Lemah

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS ditutup di level Rp 17.795 pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Kurs tersebut menguat 0,29 persen atau 52 poin terhadap rupiah. Angka itu membuat rupiah nyaris menyentuh level Rp 17.800 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan yang masih kuat di pasar valuta asing. Meski begitu, pemerintah menilai respons kebijakan tetap dapat menjaga kestabilan pasar obligasi dan arus modal. Kondisi ini menjadi perhatian karena pergerakan rupiah juga memengaruhi persepsi investor.

Pemerintah kini memantau perkembangan kurs dan pasar obligasi secara berkelanjutan. Purbaya menekankan bahwa langkah pengendalian akan terus dilakukan bila dibutuhkan. Tujuannya adalah menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!