UMKM Binaan Pertamina Catat Ekspor Cokelat Rp87 Miliar

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 30 Mei 2026 06:30 WIB 6
UMKM Binaan Pertamina Catat Ekspor Cokelat Rp87 Miliar

UMKM binaan Pertamina, PT Java Criollo Cokelat Indonesia, mencatat transaksi ekspor senilai US$ 5,2 juta atau sekitar Rp87 miliar dalam ajang Trade Expo Indonesia 2025. Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Java Criollo dan Being Co Ltd asal Jepang, disaksikan Menteri Koperasi dan UKM Maman Abdurrahman.

Kerja sama tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa produk UMKM lokal mampu menembus pasar internasional dengan nilai transaksi yang besar. Pertamina menilai pencapaian ini dapat membuka peluang bagi puluhan UMKM binaan lainnya untuk mengikuti jejak serupa di pasar global.

Ekspor UMKM Cokelat

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Founder Java Criollo, Inge Oktavia Arina, bersama perwakilan Being Co Ltd, Sakae Noda. Prosesi itu menjadi penanda dimulainya kerja sama ekspor produk cokelat Indonesia ke Jepang. Nilai transaksi yang disepakati mencapai US$ 5,2 juta. Angka tersebut setara dengan sekitar Rp87 miliar.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyebut capaian itu membuktikan kualitas UMKM binaan mampu bersaing di pasar global. Menurut dia, produk lokal tidak hanya diminati di dalam negeri, tetapi juga memiliki daya saing di luar negeri. Pertamina berharap pencapaian ini memberi dampak berantai bagi pelaku usaha lain. Harapan itu juga ditujukan kepada 44 UMKM lain yang ikut dalam TEI 2025.

Fadjar menegaskan bahwa ajang pameran dagang menjadi ruang penting untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan pembeli internasional. Dalam forum seperti itu, produk lokal memperoleh kesempatan untuk dikenal lebih luas. Ia menilai kerja sama ekspor seperti ini dapat memperkuat kepercayaan pasar terhadap produk Indonesia. Dengan begitu, UMKM memiliki peluang tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan.

Selain memperluas pasar, transaksi ekspor juga menunjukkan kemampuan UMKM menjaga standar kualitas yang dibutuhkan pembeli luar negeri. Menurut Pertamina, hal ini menjadi bukti bahwa pembinaan yang tepat dapat menghasilkan produk kompetitif. Capaian Java Criollo dinilai dapat menjadi referensi bagi UMKM lain yang ingin masuk pasar ekspor. Kesuksesan tersebut juga memperkuat posisi cokelat Indonesia di mata dunia.

Ketertarikan Buyer Jepang

Sakae Noda mengaku tertarik karena cokelat yang ditawarkan Java Criollo memiliki kualitas yang sangat baik. Ia menilai produk tersebut unggul dari sisi bahan baku dan harga jual. Menurut dia, kombinasi itu menjadi alasan utama untuk menjalin kerja sama. Ia juga melihat ada potensi pasar yang kuat di Jepang.

Noda menyebut produk Java Criollo dibuat secara alami dan tanpa pupuk kimia. Karakter itu membuat cokelat asal Indonesia dinilai lebih menarik bagi konsumen yang memperhatikan kualitas bahan. Ia menilai harga produk juga masih terjangkau untuk pasar Jepang. Karena itu, ia optimistis produk tersebut dapat diterima dengan baik.

Ia berharap masyarakat Jepang bisa menikmati cokelat Indonesia yang dinilainya memiliki kualitas luar biasa. Pernyataan itu memperlihatkan adanya minat nyata dari pasar internasional terhadap produk olahan kakao Indonesia. Minat tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan ekspor produk pangan. Dalam jangka panjang, peluang itu dapat memperluas jaringan distribusi UMKM.

Ketertarikan buyer Jepang menjadi bukti bahwa daya saing produk lokal tidak lagi terbatas pada narasi promosi. Pembeli internasional menilai langsung kualitas, harga, dan proses produksi sebelum memutuskan kerja sama. Dalam kasus ini, faktor-faktor tersebut berpadu dan menghasilkan transaksi besar. Kondisi itu menunjukkan bahwa standardisasi produk menjadi kunci utama menembus pasar ekspor.

Kebanggaan Java Criollo

Founder Java Criollo Cokelat Indonesia, Inge Oktavia Arina, menyampaikan rasa bangga atas kepercayaan yang diberikan buyer Jepang. Ia mengatakan bahwa pada awalnya calon pembeli memang mencari cokelat asal Indonesia. Setelah menemukan nama perusahaannya, proses penjajakan kerja sama pun berlanjut. Kualitas produk kemudian menjadi penentu utama kesepakatan.

Inge menjelaskan bahwa pihak pembeli melihat produk yang ditawarkan memiliki cita rasa dan nilai tambah yang kuat. Menurut dia, kepercayaan itu tidak datang secara instan, tetapi melalui penilaian terhadap mutu produk. Ia menilai pencapaian ini sebagai hasil dari kerja panjang dalam menjaga kualitas. Karena itu, kerja sama ini dianggap sangat berarti bagi perusahaan.

Ia juga menuturkan bahwa keberhasilan menembus pasar internasional memberi semangat baru bagi pelaku UMKM lainnya. Bagi Inge, ekspor bukan sekadar transaksi, melainkan pengakuan atas kemampuan produk lokal. Ia berharap lebih banyak UMKM Indonesia berani menunjukkan kualitasnya di forum global. Dengan begitu, produk dalam negeri dapat memiliki posisi yang lebih kuat.

Inge menambahkan bahwa nilai dan cita rasa yang dibawa Java Criollo akhirnya diterima di pasar internasional. Menurut dia, penerimaan tersebut menjadi langkah penting bagi perusahaan dan UMKM Indonesia. Kesepakatan dengan buyer Jepang dipandang sebagai pintu masuk untuk peluang yang lebih besar. Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa produk olahan kakao Indonesia memiliki prospek cerah.

Peluang UMKM Lainnya

Selain Java Criollo, Pertamina membawa 44 UMKM lain untuk mengikuti TEI 2025. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk menjajaki peluang kerja sama serupa dengan buyer internasional. Pameran dagang tersebut menjadi ajang penting bagi UMKM untuk memperluas pasar. Setiap peserta diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan itu secara maksimal.

Pertamina menilai ajang seperti TEI mampu menjadi jembatan antara pelaku usaha kecil dan pasar global. Melalui pertemuan langsung dengan pembeli luar negeri, UMKM dapat memahami kebutuhan pasar dengan lebih baik. Mereka juga bisa menyesuaikan kualitas produk dan strategi harga. Dengan cara itu, peluang ekspor menjadi lebih terbuka.

Capaian Java Criollo diharapkan menjadi pemantik bagi UMKM lain agar lebih percaya diri bersaing di level internasional. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa produk lokal dapat menarik minat buyer asing jika dikelola dengan tepat. Faktor kualitas, konsistensi, dan kejelasan standar menjadi penentu utama. Hal itu berlaku untuk berbagai sektor usaha, termasuk pangan olahan.

Pertamina menegaskan komitmennya untuk terus mendukung UMKM agar naik kelas dan memperluas akses pasar. Dukungan itu diharapkan tidak berhenti pada pameran dagang, tetapi berlanjut pada pendampingan bisnis yang lebih konkret. Dengan ekosistem yang tepat, UMKM dapat memperbesar kontribusi bagi ekonomi nasional. Transaksi ekspor Java Criollo menjadi salah satu contoh nyata dari potensi tersebut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!