UliMus Buktikan Bawang Goreng Bisa Jadi Cuan

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 30 Mei 2026 19:04 WIB 2
UliMus Buktikan Bawang Goreng Bisa Jadi Cuan

Peluang usaha kerap muncul dari kebutuhan sederhana di rumah, lalu berkembang menjadi sumber penghasilan baru. Hal itu dialami Romauli Sri Astuti Sitoris, perempuan berusia 40 tahun yang merintis usaha bawang goreng crispy bernama UliMus pada 2022. Berawal dari sang anak yang tidak menyukai bawang goreng biasa, ia mencoba mengolah bahan dapur itu menjadi camilan yang lebih menarik. Inovasi tersebut kemudian membuka jalan bagi usaha kecil yang kini dikenal sebagai produk UMKM binaan Rumah BUMN BRI.

Perjalanan usaha itu bermula ketika anaknya menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Parung pada awal 2020. Setiap kali berkunjung, Romauli membawa bawang goreng dengan berbagai rasa, mulai dari barbeku hingga balado, untuk dibagikan kepada sang anak. Produk buatannya ternyata juga disukai teman-teman sang anak, sehingga permintaan pun mulai muncul. Dari situ, Romauli melihat adanya potensi bisnis yang layak dikembangkan lebih serius.

bawang goreng dari rumah

Romauli mulai memproduksi bawang goreng crispy dari rumah secara kecil-kecilan. Ia memanfaatkan bahan sederhana yang mudah didapat, lalu mengolahnya menjadi produk yang bisa dimakan sebagai camilan maupun taburan makanan. Pendekatan itu membuat produknya memiliki nilai tambah dibanding bawang goreng biasa. Dalam proses awal, ia fokus menjaga rasa, tekstur, dan daya tarik kemasan agar produk lebih mudah diterima pasar.

Setiap kunjungan ke pesantren menjadi momen penting bagi pemasaran awal UliMus. Romauli membawa stok dalam jumlah lebih banyak, lalu menitipkannya kepada sang anak untuk dijual kepada teman-temannya. Pola sederhana itu membuat produknya cepat dikenal di lingkungan pesantren. Dari sana, ia memperoleh masukan langsung mengenai rasa yang paling disukai konsumen.

Romauli mengaku senang karena produk buatannya tidak hanya disukai anak sendiri, tetapi juga diminati orang lain. Menurut dia, respons pasar awal tersebut menjadi bukti bahwa produk rumahan dapat berkembang jika dikelola dengan serius. Ia kemudian mulai menyiapkan produksi yang lebih teratur agar permintaan tidak terlewat. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usahanya.

Usaha yang awalnya hanya sekadar pelengkap bekal anak akhirnya berubah menjadi produk bernilai jual. Romauli melihat bahwa inovasi sederhana dapat menghasilkan peluang ekonomi yang nyata. Ia pun semakin yakin untuk menjadikan bawang goreng crispy sebagai usaha utama keluarga. Keyakinan itu menjadi titik awal perjalanan UliMus menuju usaha yang lebih terstruktur.

bawang goreng dan modal kecil

Keseriusan Romauli dalam mengembangkan usaha muncul setelah mendapat dukungan dari suaminya. Saat itu, kondisi ekonomi keluarga ikut terdampak karena usaha sang suami mengalami kebangkrutan pada 2020. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari, keluarga kemudian mencari sumber penghasilan baru yang realistis. Dari situ, produksi bawang goreng dipilih sebagai jalan yang paling memungkinkan.

Modal awal yang disiapkan tergolong sangat terbatas, yakni kurang dari Rp500 ribu. Dengan dana kecil itu, Romauli tetap berani memulai produksi dan menjualnya secara bertahap. Ia menekankan bahwa keberanian untuk mencoba menjadi modal utama selain uang. Sikap tersebut membuat usahanya terus berjalan meski dihadapkan pada banyak keterbatasan.

Keputusan untuk berjualan bawang goreng juga didorong oleh tingginya minat orang terhadap produk tersebut. Suaminya melihat peluang karena bawang goreng mudah diterima sebagai lauk maupun camilan. Dukungan keluarga membuat Romauli lebih leluasa mengelola produksi di rumah. Kolaborasi itu menjadi penopang penting dalam fase awal usaha.

Dari usaha kecil di dapur rumah, Romauli mulai membangun ritme produksi yang lebih konsisten. Ia mengatur pembelian bahan baku, proses penggorengan, hingga pengemasan secara mandiri. Meskipun sederhana, pola kerja itu membantu menjaga kualitas produk tetap stabil. Lambat laun, usahanya mulai menunjukkan potensi untuk tumbuh lebih besar.

bawang goreng berlabel UliMus

Pada 2022, usaha tersebut resmi memiliki legalitas dengan nama UliMus. Nama itu diambil dari gabungan nama Romauli dan suaminya, Mustofa, sebagai simbol kerja bersama keluarga. Legalitas usaha menjadi langkah penting karena memberi identitas yang lebih jelas di mata konsumen. Selain itu, status resmi membuat usahanya lebih siap masuk ke pasar yang lebih luas.

UliMus menawarkan bawang goreng yang tidak hanya berfungsi sebagai taburan makanan, tetapi juga bisa dinikmati sebagai camilan. Keunikan produk inilah yang membedakannya dari bawang goreng pada umumnya. Romauli mengemas produknya dengan cita rasa yang variatif agar konsumen memiliki pilihan lebih banyak. Strategi itu juga membantu memperkuat daya tarik merek UliMus.

Dalam perjalanannya, usaha ini memperoleh pembinaan dari Rumah BUMN BRI. Pembinaan tersebut memberi ruang bagi Romauli untuk belajar mengenai pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Ia mendapat kesempatan memperkuat cara produksi, pemasaran, dan pengelolaan usaha. Dukungan ini menjadi dorongan penting bagi keberlanjutan bisnisnya.

Keberadaan legalitas dan pembinaan membuat UliMus tidak lagi berdiri sebagai usaha rumahan biasa. Romauli kini memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menata bisnis secara berkelanjutan. Ia pun berharap produknya dapat menjangkau lebih banyak konsumen di luar lingkungan terdekat. Dengan fondasi tersebut, UliMus berpeluang terus berkembang sebagai UMKM kuliner yang kompetitif.

bawang goreng untuk masa depan

Kisah Romauli menunjukkan bahwa peluang usaha dapat lahir dari pengamatan sederhana terhadap kebutuhan keluarga. Dari penolakan sang anak terhadap bawang goreng biasa, ia justru menemukan ide usaha yang bernilai. Proses itu memperlihatkan bahwa inovasi sering berawal dari masalah kecil yang dihadapi sehari-hari. Jika dikelola dengan tekun, ide sederhana dapat berubah menjadi sumber pendapatan baru.

Perjalanan UliMus juga menegaskan pentingnya dukungan keluarga dalam membangun usaha mikro. Suami Romauli memberi dorongan saat kondisi ekonomi sedang tertekan, sehingga ia berani memulai produksi. Anak mereka pun ikut membantu memasarkan produk di lingkungan pesantren. Kolaborasi keluarga seperti ini menjadi kekuatan utama bagi banyak pelaku UMKM di Indonesia.

Selain itu, pengalaman Romauli menunjukkan bahwa modal kecil bukan penghalang untuk memulai usaha. Yang dibutuhkan adalah ketekunan, keberanian, dan kemampuan membaca peluang pasar. Ia memulai dengan dana terbatas, tetapi menjaga kualitas dan konsistensi produk. Dari proses itu, usahanya perlahan berkembang dan mendapat legalitas resmi.

Dengan fondasi yang sudah terbentuk, UliMus memiliki peluang untuk tumbuh lebih besar di segmen makanan ringan dan pelengkap masakan. Produk bawang goreng crispy dengan cita rasa variatif dapat menjadi keunggulan kompetitif di pasar yang semakin ramai. Romauli kini berdiri sebagai contoh bahwa rumah dapat menjadi titik awal lahirnya usaha yang menjanjikan. Dari dapur kecil, ia membangun harapan ekonomi yang lebih luas bagi keluarganya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!