RRQ Akhiri Kerja Sama dengan Bigmo Usai Kontroversi

Teknologi Moh. Royhan Nahado 30 Mei 2026 20:19 WIB 2
RRQ Akhiri Kerja Sama dengan Bigmo Usai Kontroversi

Media sosial ramai membahas kreator konten Muhammad Jannah atau Bigmo, yang diduga menyindir AAA Clan dan Pandawara Group. Polemik itu kemudian berkembang dan berdampak pada posisinya sebagai Brand Ambassador Team RRQ. Pada Jumat, 29 Mei 2026, RRQ mengumumkan kerja sama dengan Bigmo telah berakhir. Keputusan tersebut memicu perhatian luas karena sebelumnya isu serupa sudah lebih dulu dibicarakan warganet.

Kontroversi bermula ketika Bigmo disebut melontarkan pernyataan yang menyinggung penghargaan Guinness World Records milik Pandawara Group dan AAA Clan. Ucapan itu memantik reaksi dari kedua pihak, sekaligus memperbesar sorotan publik di media sosial. Di tengah ramainya perbincangan, RRQ akhirnya memberi keterangan resmi melalui akun Instagram mereka. Pengumuman tersebut menandai berakhirnya hubungan kerja sama yang sebelumnya sudah berjalan sebagai bagian dari promosi tim.

Bigmo dan RRQ

RRQ menyampaikan bahwa kerja sama dengan Bigmo sebagai brand ambassador telah mencapai titik akhir. Dalam unggahan resminya, RRQ menulis salam pembuka untuk komunitasnya sebelum memberikan pengumuman tersebut. Pihak tim tidak menjelaskan secara rinci alasan di balik keputusan itu. Namun, waktu pengumuman tersebut langsung dikaitkan publik dengan polemik yang sedang berkembang.

Sebelum pernyataan resmi muncul, isu keluarnya Bigmo dari RRQ sudah lebih dulu beredar di media sosial. Sejumlah warganet menduga hubungan keduanya renggang setelah video Bigmo viral. Meski demikian, saat itu belum ada penjelasan langsung dari pihak RRQ. Karena itu, pengumuman resmi pada Jumat menjadi jawaban atas berbagai spekulasi yang beredar.

Dalam pernyataannya, RRQ menegaskan bahwa kemitraan bersama Bigmo telah selesai. Unggahan tersebut disampaikan dengan nada singkat dan formal, tanpa menambah penjelasan lanjutan. Sikap itu menunjukkan bahwa perusahaan ingin menutup isu secara administratif. Di sisi lain, publik menyoroti bagaimana sebuah pernyataan di media sosial dapat berujung pada konsekuensi profesional.

Awal Polemik Bigmo

Masalah bermula ketika Bigmo diduga menyindir Pandawara Group dan AAA Clan dalam sebuah video yang tersebar luas. Ia disebut menyinggung bahwa penghargaan Guinness World Records bisa dibeli. Ucapan itu segera memicu kritik karena dianggap merendahkan pencapaian pihak lain. Dalam waktu singkat, potongan video tersebut menjadi bahan perdebatan di berbagai platform.

Pandawara Group kemudian merespons melalui unggahan yang menyinggung pernyataan Bigmo. Mereka meminta agar pihak tertentu tidak mengotori prestasi dunia dengan tuduhan bahwa penghargaan tersebut dapat dibeli. Respons tersebut memperlihatkan bahwa isu ini tidak lagi sekadar percakapan biasa di internet. Sebaliknya, persoalan berkembang menjadi konflik reputasi yang disaksikan publik luas.

AAA Clan juga ikut menanggapi unggahan Pandawara Group melalui komentar bernada sindiran. Reza Arap menuliskan, “Beli ya Bang? Congrats btw Pandawara,” yang semakin memperpanjang sorotan warganet. Komentar itu mempertegas bahwa polemik ini telah menarik perhatian banyak figur publik. Kondisi tersebut membuat diskusi di media sosial semakin panas dan sulit mereda.

Dampak di Media Sosial

Kontroversi yang menyeret nama Bigmo menunjukkan betapa cepatnya opini publik bekerja di media sosial. Satu pernyataan yang dianggap sensitif dapat memicu respons berantai dari banyak pihak. Dalam kasus ini, reaksi netizen ikut memperbesar tekanan terhadap Bigmo. Akibatnya, isu personal berubah menjadi persoalan profesional yang berdampak langsung pada pekerjaannya.

Reputasi menjadi faktor penting dalam kerja sama antara figur publik dan merek. Ketika citra seseorang terdampak, perusahaan biasanya mempertimbangkan ulang hubungan bisnis yang sudah ada. Hal tersebut tampak dalam keputusan RRQ yang mengakhiri kolaborasi dengan Bigmo. Keputusan ini juga mengirim sinyal bahwa etika bermedia sosial tetap memiliki konsekuensi nyata.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa unggahan di media sosial tidak lepas dari tanggung jawab publik. Pernyataan yang dianggap meremehkan pihak lain dapat memunculkan reaksi luas dan berujung pada sanksi sosial maupun profesional. Di era digital, batas antara opini pribadi dan dampak publik semakin tipis. Karena itu, figur dengan pengaruh besar dituntut lebih berhati-hati dalam berbicara.

Respons Publik dan Pelajaran

Publik kini menyoroti tidak hanya isi pernyataan Bigmo, tetapi juga konsekuensi yang menyertainya. Banyak warganet menilai polemik ini bisa menjadi pelajaran bagi kreator konten lain. Di sisi lain, ada pula yang melihat keputusan RRQ sebagai langkah tegas untuk menjaga citra tim. Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa isu ini melampaui sekadar kabar putus kerja sama.

Kejadian ini juga menegaskan pentingnya menjaga komunikasi yang sopan di ruang digital. Kreator konten, brand ambassador, dan figur publik memiliki pengaruh yang dapat membentuk opini banyak orang. Karena itu, pernyataan yang disampaikan secara terbuka perlu dipertimbangkan dengan matang. Satu kalimat yang keliru dapat berimplikasi pada karier dan relasi profesional.

Hingga pengumuman resmi RRQ dirilis, isu Bigmo masih terus dibicarakan di media sosial. Namun, inti persoalan sudah mengerucut pada dampak dari ucapan yang menuai kontroversi. Bagi banyak pengamat, kasus ini menjadi contoh nyata bahwa reputasi digital sangat rentan. Di tengah derasnya arus informasi, kehati-hatian menjadi kunci utama bagi siapa pun yang aktif di ruang publik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!