Sonal Keay mengalami kondisi kulit langka yang membuat dirinya sangat sensitif terhadap sinar matahari. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit di bawah paparan UV, kulitnya dapat terasa sakit luar biasa dan seperti terbakar.
Perempuan ini pertama kali menyadari gejala tersebut saat berusia 18 tahun, ketika sedang berlibur ke luar negeri. Setelah pulang, reaksinya tidak kunjung membaik, hingga akhirnya ia didiagnosis mengalami dermatitis aktinik kronis, sebuah kondisi kulit langka yang membuat tubuh bereaksi berlebihan terhadap cahaya.
Alergi Sinar Matahari Langka
Sonal mengaku harus sangat berhati-hati agar tidak terlalu lama berada di luar rumah. Ia bahkan menyebut cahaya matahari yang tampak biasa bagi orang lain bisa memicu rasa sakit hebat pada kulitnya.
Kondisi tersebut membuatnya tidak bisa menjalani rutinitas secara normal pada siang hari. Ia baru merasa aman ketika matahari benar-benar terbenam dan paparan UV tidak lagi mengancam kulitnya.
Menurut American Academy of Dermatology, alergi kulit fotosensitif memiliki beberapa bentuk, dan masing-masing dapat memicu reaksi yang berbeda. Pada kasus Sonal, respons tubuhnya termasuk sangat parah karena menimbulkan nyeri ekstrem dan lesi eksim bahkan di area kulit yang tidak terkena sinar langsung.
Gejala Yang Mengganggu
Sonal menjelaskan bahwa rasa sakit yang dialaminya bukan sekadar iritasi ringan. Ia menggambarkannya sebagai sensasi yang begitu menyiksa hingga membuatnya ingin menggaruk kulit sendiri demi memperoleh kelegaan.
Reaksi alergi itu juga muncul saat cuaca mendung, sehingga ia tidak bisa mengandalkan langit berawan sebagai perlindungan. Dalam waktu sekitar satu menit di luar ruangan, kondisi kulitnya bisa langsung memburuk.
Riwayat eksim yang dialaminya sejak kecil semula membuat gejala ini sulit dikenali. Selama dua tahun, ia merasakan ketidaknyamanan sebelum akhirnya memahami bahwa sumber masalahnya berkaitan erat dengan paparan matahari.
Dampak Pada Kehidupan
Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga kesehatan mental Sonal. Ia sempat merasa takut terhadap cahaya, termasuk cahaya lampu, karena khawatir tubuhnya akan kembali bereaksi.
Untuk beraktivitas, ia harus disiplin menggunakan tabir surya bahkan hanya untuk melakukan hal sederhana, seperti mengambil kunci mobil atau memakai sepatu. Jika keluar rumah tanpa persiapan, risiko kambuh menjadi sangat tinggi.
Cahaya matahari yang masuk melalui jendela juga bisa memicu reaksi berbahaya. Karena itu, Sonal memasang tirai anti-UV agar tetap bisa beraktivitas di dalam rumah dengan lebih aman.
Adaptasi Dan Perawatan
Sonal kini menjalani hidup dengan berbagai penyesuaian ketat agar tetap aman dari paparan sinar matahari. Ia mengandalkan perlindungan fisik, perlengkapan rumah, dan kebiasaan harian yang sangat disiplin.
Meski tampak normal dari luar, ia menegaskan bahwa kehidupannya jauh dari kata biasa. Kondisi ini memaksanya hidup dengan banyak batasan, terutama saat orang lain bebas beraktivitas di bawah matahari.
Kasus Sonal menjadi pengingat bahwa gangguan kulit langka dapat berdampak besar pada kualitas hidup. Kesadaran dini dan penanganan medis yang tepat menjadi kunci agar penderita dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut.
