Ubi Ungu Jadi Sorotan, Ini Manfaatnya Menurut Dokter Gizi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 23 Mei 2026 09:12 WIB 6
Ubi Ungu Jadi Sorotan, Ini Manfaatnya Menurut Dokter Gizi

Olahan ubi kembali ramai dibicarakan di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi dengan cream cheese dan aneka topping kekinian. Di tengah tren itu, dokter gizi menyarankan masyarakat memilih ubi ungu karena dinilai memiliki kandungan antosianin yang lebih tinggi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa warna ungu pada ubi berasal dari antosianin, yaitu pigmen alami yang juga banyak ditemukan pada blueberry dan anggur ungu. Kandungan ini disebut memiliki manfaat antioksidan dan anti-inflamasi, sehingga berpotensi mendukung kesehatan tubuh.

Manfaat Ubi Ungu

Menurut dr Tjandra, ubi ungu menjadi pilihan yang lebih direkomendasikan dibandingkan jenis ubi lain. Alasannya, ubi ini mengandung antosianin dalam jumlah cukup tinggi. Zat tersebut dikenal sebagai pigmen alami yang memiliki aktivitas antioksidan. Kandungan itu juga dikaitkan dengan sifat anti-peradangan.

Ia menilai, kandungan antosianin pada ubi ungu dapat membantu menjaga tubuh dari berbagai risiko kesehatan. Manfaat itu terutama relevan bagi orang yang rentan terhadap penyakit tidak menular. Diabetes dan hipertensi disebut sebagai contoh kondisi yang perlu diwaspadai. Karena itu, ubi ungu dapat menjadi pilihan makanan yang lebih bijak.

Sejumlah penelitian turut mendukung temuan tersebut. Dalam review yang dipublikasikan di jurnal Molecules pada 2019, kadar antosianin pada ubi ungu dilaporkan mencapai sekitar 218 hingga 244 mg per 100 gram. Jumlah ini bergantung pada varietas dan metode pengolahan. Temuan tersebut memperkuat posisi ubi ungu sebagai sumber senyawa bioaktif.

Kandungan Antosianin Tinggi

Antosianin adalah zat warna alami yang memberi rona ungu pada ubi. Senyawa ini termasuk kelompok flavonoid dan polifenol yang banyak diteliti karena efek biologisnya. Dalam konteks gizi, kandungan tersebut menjadi nilai tambah pada ubi ungu. Hal ini membuatnya menonjol dibandingkan olahan umbi lain yang lebih netral warnanya.

Selain memberi warna, antosianin juga sering dikaitkan dengan perlindungan sel dari stres oksidatif. Perlindungan tersebut penting karena stres oksidatif dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Beberapa studi menilai senyawa ini berperan dalam menjaga fungsi metabolik. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada pola makan secara keseluruhan.

Ubi ungu pun menjadi populer karena mudah diolah menjadi berbagai menu. Produk ini dapat disajikan sebagai camilan, makanan penutup, maupun pengganti karbohidrat ringan. Meski demikian, nilai gizinya akan berbeda tergantung cara penyajian. Semakin sederhana pengolahannya, semakin baik pula kualitas manfaat yang diperoleh.

Risiko Topping Berlebihan

Di balik popularitasnya, olahan ubi ungu tetap perlu diperhatikan komposisinya. Manfaat yang baik bisa berkurang bila ditambahkan topping tinggi gula dan lemak jenuh. Penggunaan bahan tambahan secara berlebihan justru dapat meningkatkan asupan kalori. Kondisi ini membuat sajian yang awalnya sehat menjadi kurang ideal.

dr Tjandra mengingatkan bahwa porsi juga menjadi faktor penting dalam konsumsi ubi. Meskipun tergolong lebih sehat, makanan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Porsi yang terlalu besar dapat memicu asupan energi berlebihan. Karena itu, masyarakat disarankan tetap memperhatikan keseimbangan menu harian.

Pilihan topping sederhana seperti sedikit keju, kacang, atau sumber protein lain bisa menjadi alternatif yang lebih bijak. Namun, tambahan tersebut tetap perlu dibatasi agar tidak menutupi manfaat alami ubi ungu. Konsumen juga dianjurkan menghindari sirup, krim manis, dan gula berlebihan. Dengan cara itu, olahan ubi tetap lezat tanpa kehilangan nilai gizinya.

Tips Konsumsi Lebih Bijak

Untuk mendapatkan manfaat optimal, ubi ungu sebaiknya dikonsumsi dengan cara pengolahan yang sederhana. Metode seperti dikukus atau dipanggang tanpa tambahan gula berlebih bisa menjadi pilihan. Cara ini membantu menjaga kandungan alaminya tetap lebih baik. Selain itu, rasa asli ubi juga lebih menonjol.

Masyarakat disarankan menjadikan ubi ungu sebagai bagian dari pola makan seimbang. Artinya, konsumsi ubi perlu diimbangi dengan sayur, buah, protein, dan sumber lemak sehat. Pendekatan ini membantu menjaga asupan gizi tetap lengkap. Dengan begitu, ubi ungu tidak hanya menjadi tren, tetapi juga pilihan yang bernilai.

Tren makanan viral sebaiknya tidak hanya dinilai dari tampilannya, tetapi juga dari sisi kesehatan. Ubi ungu dapat menjadi contoh bahwa menu populer tetap bisa bernilai gizi tinggi. Kuncinya ada pada pemilihan bahan dan cara penyajian. Jika dikonsumsi dengan tepat, makanan ini bisa mendukung pola hidup yang lebih sehat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!