Ubi Ungu Dinilai Lebih Sehat untuk Olahan Viral

Lifestyle Nadia Safira Putri 29 Mei 2026 01:22 WIB 2
Ubi Ungu Dinilai Lebih Sehat untuk Olahan Viral

Olahan ubi kembali ramai di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi dengan tambahan cream cheese dan aneka topping kekinian. Di tengah tren itu, dokter gizi menyarankan masyarakat memilih ubi ungu karena kandungan antosianinnya lebih tinggi. Kandungan tersebut dinilai memberi nilai tambah bagi kesehatan, terutama bila olahan ubi dikonsumsi tanpa gula dan lemak berlebihan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan warna ungu pada ubi berasal dari antosianin, yaitu pigmen alami yang juga ditemukan pada blueberry dan anggur ungu. Senyawa ini dikenal memiliki sifat antioksidan dan anti-peradangan. Karena itu, ubi ungu kerap dipandang sebagai pilihan yang lebih baik dibanding jenis ubi lain untuk konsumsi harian.

Manfaat Ubi Ungu

Dr Tjandra mengatakan ubi ungu direkomendasikan karena mengandung antosianin yang cukup tinggi. Senyawa ini termasuk zat warna alami yang kaya flavonoid dan polifenol. Keduanya dikenal mendukung perlindungan tubuh dari proses peradangan.

Menurutnya, kandungan antosianin pada ubi ungu dapat memberi manfaat bagi orang yang perlu menjaga kesehatan metabolik. Hal ini terutama relevan bagi mereka yang berisiko mengalami diabetes dan hipertensi. Dengan pilihan yang tepat, ubi bisa menjadi sumber karbohidrat yang lebih bernilai gizi.

Temuan dalam tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Molecules tahun 2019 juga memperkuat hal tersebut. Kandungan antosianin pada ubi ungu dilaporkan dapat mencapai sekitar 218 hingga 244 mg per 100 gram, tergantung varietas dan cara pengolahan. Angka ini menunjukkan ubi ungu memiliki potensi sebagai pangan fungsional.

Antosianin dan Antioksidan

Antosianin dikenal sebagai pigmen yang memberi warna ungu pada berbagai bahan pangan. Selain memperindah tampilan, senyawa ini juga dikaitkan dengan aktivitas antioksidan yang cukup kuat. Aktivitas tersebut membantu tubuh melawan radikal bebas.

Selain antioksidan, antosianin juga disebut memiliki efek anti-peradangan. Sifat ini penting karena peradangan kronis kerap berkaitan dengan berbagai penyakit tidak menular. Dalam konteks ini, ubi ungu menjadi pilihan yang menarik untuk pola makan sehat.

Dr Tjandra menilai manfaat tersebut dapat mendukung upaya pencegahan kesehatan jangka panjang. Meski bukan obat, pangan dengan kandungan bioaktif tinggi tetap memberi kontribusi positif. Karena itu, pemilihan bahan pangan sebaiknya mempertimbangkan nilai gizinya, bukan hanya popularitasnya di media sosial.

Relevan untuk Risiko Penyakit

Ubi ungu dinilai bermanfaat bagi orang yang memiliki risiko diabetes dan hipertensi. Kelompok ini disarankan lebih cermat dalam memilih sumber karbohidrat yang dikonsumsi. Pilihan yang lebih bernutrisi dapat membantu menjaga pola makan tetap seimbang.

Meski demikian, manfaat ubi tidak otomatis hilang hanya karena diolah menjadi makanan viral. Yang perlu diwaspadai adalah tambahan bahan seperti gula, krim, atau lemak jenuh dalam jumlah berlebihan. Komponen tersebut justru dapat menurunkan kualitas gizi secara keseluruhan.

Karena itu, konsumsi ubi ungu tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Porsi yang wajar akan lebih mendukung manfaatnya bagi kesehatan. Dengan cara ini, olahan ubi bisa tetap enak sekaligus lebih aman untuk dikonsumsi.

Bijak Memilih Topping

Tren ubi panggang dan olahan serupa sering kali identik dengan topping yang menarik perhatian. Namun, pilihan topping menjadi faktor penting yang menentukan sehat tidaknya sajian tersebut. Topping tinggi gula dan lemak jenuh sebaiknya dibatasi.

Dr Tjandra mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan saat menikmati makanan yang sedang viral. Porsi yang terlalu besar juga dapat membuat asupan kalori meningkat tanpa disadari. Hal ini penting diperhatikan, terutama bagi mereka yang sedang menjaga berat badan atau gula darah.

Jika ingin lebih sehat, ubi ungu dapat dinikmati dalam bentuk sederhana atau dengan tambahan yang lebih ringan. Misalnya, tanpa saus manis berlebih dan tanpa krim yang terlalu padat lemak. Dengan begitu, tren kuliner tetap bisa diikuti tanpa mengorbankan aspek kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!