Ubi Cream Cheese Viral, Dokter Sarankan Tambahan Protein

Lifestyle Anindya Kirana Putri 26 Mei 2026 13:44 WIB 2
Ubi Cream Cheese Viral, Dokter Sarankan Tambahan Protein

Olahan ubi dengan topping cream cheese belakangan ramai dibicarakan di media sosial karena dianggap praktis dan menarik. Namun, dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, mengingatkan bahwa kombinasi tersebut sebaiknya tidak hanya mengandalkan karbohidrat dan lemak. Ia menyarankan masyarakat untuk memilih variasi menu yang lebih lengkap gizinya, terutama bila ubi dijadikan makanan utama. Menurutnya, tambahan sumber protein dapat membuat sajian itu lebih seimbang dan bermanfaat bagi tubuh.

Dr Tjandraningrum menjelaskan bahwa kombinasi ubi dan cream cheese bukanlah hal baru dalam dunia pangan. Sebelumnya, cream cheese lebih sering dipadukan dengan roti, lalu kini tren tersebut bergeser ke ubi. Ia menilai pergeseran ini lebih merupakan variasi menu daripada penemuan baru. Dasarnya tetap sama, yaitu perpaduan antara karbohidrat dan lemak.

Ubi Cream Cheese dan Gizi

Menurut dr Tjandraningrum, masalah utama dari olahan ubi dan cream cheese adalah rendahnya kandungan protein jika hanya mengandalkan dua bahan tersebut. Dalam satu porsi, asupan protein yang masuk dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan makan utama. Padahal, protein penting untuk mendukung fungsi tubuh secara menyeluruh. Karena itu, menu tersebut perlu dilengkapi dengan bahan lain yang lebih bergizi.

Ia menegaskan bahwa masyarakat dapat menambahkan sumber protein agar komposisi makan menjadi lebih seimbang. Pilihannya bisa berupa edamame, kacang-kacangan, atau telur yang juga mengandung lemak baik. Dengan tambahan itu, olahan ubi tidak hanya mengandalkan rasa manis dan gurih. Susunan gizinya pun menjadi lebih mendekati kebutuhan tubuh.

Ubi sendiri tetap merupakan sumber karbohidrat yang baik, terutama bila dikonsumsi dalam porsi yang sesuai. Namun, ketika dipadukan hanya dengan cream cheese, kombinasi tersebut cenderung didominasi energi dari karbohidrat dan lemak. Kondisi ini membuatnya kurang ideal bila dijadikan menu utama tanpa pelengkap lain. Oleh sebab itu, keseimbangan zat gizi perlu menjadi perhatian.

Protein Bantu Kendalikan Gula

Temuan dalam jurnal Diabetes Care menunjukkan bahwa konsumsi protein bersama makanan sumber karbohidrat dapat membantu memperlambat pengosongan lambung. Efek ini membuat kenaikan gula darah setelah makan berlangsung lebih bertahap. Dengan begitu, tubuh tidak menerima lonjakan glukosa secara cepat. Pola makan seperti ini dinilai lebih menguntungkan bagi kesehatan metabolik.

Kombinasi karbohidrat dan protein juga dipandang lebih seimbang dibanding karbohidrat yang hanya diberi topping tinggi lemak atau gula. Selain membantu respons gula darah lebih stabil, protein memberikan rasa kenyang yang lebih lama. Hal ini penting untuk mengurangi keinginan makan berlebih dalam waktu singkat. Karena itu, pemilihan topping tidak sebaiknya hanya mengikuti tren.

Dalam keseharian, masyarakat dapat menerapkan prinsip sederhana saat menyusun menu. Ubi tetap bisa dikonsumsi, tetapi perlu dipadukan dengan lauk atau topping yang menyumbang protein cukup. Pendekatan ini membuat makanan lebih fungsional dan tidak sekadar mengikuti tampilan yang sedang populer. Dengan begitu, tren kuliner tetap dapat berjalan seiring dengan kebutuhan gizi.

Peran Protein dalam Tubuh

Dr Tjandraningrum menuturkan bahwa protein memiliki peran penting dalam menjaga massa otot. Selain itu, protein juga membantu memperbaiki jaringan tubuh yang mengalami kerusakan. Fungsi ini menjadikan protein sebagai zat gizi yang tidak boleh diabaikan dalam menu harian. Tanpa protein yang cukup, tubuh akan lebih sulit mempertahankan kondisi optimal.

Protein juga berkontribusi dalam menciptakan rasa kenyang lebih lama setelah makan. Efek ini dapat membantu seseorang mengatur pola makan agar lebih terkendali. Dalam konteks olahan ubi cream cheese, peran tersebut menjadi semakin penting karena kandungan proteinnya relatif kecil. Artinya, menu itu perlu disempurnakan agar manfaatnya lebih maksimal.

Ia menyebutkan bahwa ubi dan cream cheese saja belum cukup memenuhi kebutuhan protein dalam sekali makan. Dalam satu porsi, kandungan proteinnya diperkirakan hanya sekitar dua gram. Sementara itu, kebutuhan protein per kali makan umumnya berada di kisaran 10 hingga 20 gram. Karena selisihnya cukup besar, tambahan bahan berprotein tinggi menjadi solusi yang lebih tepat.

Tren Makanan Sehat Kekinian

Fenomena ubi dengan cream cheese menunjukkan bahwa tren makanan di media sosial cepat berubah. Meski begitu, pilihan yang tampak menarik tetap harus dinilai dari sisi kesehatan. Masyarakat dianjurkan tidak hanya melihat tampilan atau popularitas suatu menu. Kandungan gizi seharusnya tetap menjadi dasar utama dalam memilih makanan.

Ahli gizi menilai tren kuliner dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan pola makan yang lebih baik. Bila dimanfaatkan dengan tepat, menu kekinian justru bisa dikembangkan menjadi sajian yang lebih bergizi. Kuncinya adalah menambahkan komponen yang melengkapi kebutuhan tubuh. Dengan demikian, makanan viral tidak berhenti pada tren, tetapi juga membawa manfaat nyata.

Ubi dengan cream cheese tetap dapat dinikmati selama porsinya diperhatikan dan tidak dijadikan satu-satunya sumber energi. Penambahan protein, baik dari telur, kacang, maupun edamame, dapat membuatnya lebih seimbang. Pilihan ini juga membantu menjaga rasa kenyang dan kestabilan gula darah. Pada akhirnya, pola makan yang baik adalah yang lezat, praktis, dan sesuai kebutuhan gizi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!