Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Lifestyle Anindya Kirana Putri 26 Mei 2026 14:46 WIB 2
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Ubi cream cheese tengah menjadi makanan yang ramai diburu di media sosial dan pusat perbelanjaan. Di sebuah mal di Kabupaten Tangerang, antrean pembeli terlihat mengular karena camilan ini dianggap kekinian dan lebih sehat. Popularitasnya didorong oleh bahan dasar ubi yang dinilai lebih alami dibanding dessert manis lain. Meski begitu, ahli gizi mengingatkan bahwa status sehat tidak otomatis berlaku pada semua olahan ubi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, menegaskan bahwa tambahan topping tinggi lemak dan gula dapat menaikkan jumlah kalori secara signifikan. Menurutnya, ubi memang mengandung karbohidrat kompleks dan serat, tetapi komposisi akhir produk tetap harus diperhatikan. Konsumen pun diminta tidak terjebak pada label sehat hanya karena bahan utamanya berasal dari umbi. Jika dikonsumsi berlebihan, makanan viral ini tetap berpotensi memberi asupan gula dan lemak yang tinggi.

Ubi Cream Cheese Viral

Ubi cream cheese kini menjadi salah satu camilan yang banyak menarik perhatian pembeli. Antrean panjang terlihat di sejumlah gerai karena produk ini dianggap berbeda dari dessert biasa. Banyak konsumen memilihnya lantaran bahan dasar ubi dinilai lebih alami. Tren ini juga diperkuat oleh promosi di media sosial yang membuatnya cepat dikenal.

Di pusat perbelanjaan, makanan ini diburu oleh pengunjung yang ingin mencoba menu viral. Sejumlah pembeli rela menunggu karena penasaran dengan rasa manis dan gurihnya. Perpaduan ubi dan cream cheese dianggap memberi sensasi baru dalam kategori camilan. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya tarik makanan kekinian sangat dipengaruhi persepsi konsumen.

Selain faktor tren, ubi cream cheese juga disebut lebih menarik karena tampilannya sederhana namun menggugah selera. Banyak orang menilai camilan berbasis ubi memiliki kesan lebih ringan dibanding dessert berbahan roti atau krim. Asumsi tersebut membuat sebagian konsumen merasa pilihan ini lebih aman untuk dikonsumsi. Padahal, penilaian semacam itu belum tentu sesuai dengan kandungan gizinya.

Popularitas makanan ini menegaskan bahwa makanan sehat dan makanan viral sering kali bercampur dalam persepsi publik. Ketika sebuah produk diberi citra berbahan dasar ubi, konsumen cenderung menganggapnya lebih baik. Namun anggapan tersebut perlu disikapi dengan kehati-hatian agar tidak menyesatkan. Sebab, komposisi akhir jauh lebih menentukan daripada sekadar bahan utama.

Pandangan Ahli Gizi

dr Raissa E Djuanda, SpGK, menjelaskan bahwa ubi memang termasuk bahan makanan yang sehat. Ubi mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang bermanfaat bagi tubuh. Namun manfaat itu bisa berubah ketika diolah dengan tambahan bahan tinggi kalori. Karena itu, status sehat pada bahan dasar tidak bisa dijadikan patokan tunggal.

Menurut dr Raissa, tambahan topping seperti cream cheese membuat kandungan lemak pada makanan meningkat. Ia menilai, kombinasi bahan tersebut dapat menambah total kalori secara cukup besar. Kondisi ini membuat makanan yang semula dianggap ringan menjadi lebih padat energi. Akibatnya, camilan tersebut tidak selalu lebih baik dibanding dessert lain.

Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang menilai makanan viral sebagai pilihan lebih aman. Padahal, persepsi tersebut sering muncul hanya karena nama bahan dasarnya terdengar sehat. Dalam praktiknya, gula, lemak, dan porsi tetap menjadi faktor utama yang harus dihitung. Jika tidak, konsumen dapat salah memahami nilai gizi dari makanan yang dikonsumsi.

Penjelasan ahli gizi tersebut penting karena banyak konsumen membeli makanan berdasarkan tren. Saat sebuah produk populer, orang kerap mengabaikan isi dan komposisinya. Kondisi ini berisiko membuat asupan harian tidak terkendali. Karena itu, edukasi gizi tetap diperlukan di tengah maraknya makanan kekinian.

Kandungan Kalori Perlu Diperhatikan

Ubi cream cheese bisa menjadi tinggi kalori karena adanya tambahan krim, gula, dan lemak. Bahan-bahan tersebut mudah meningkatkan beban energi dalam satu porsi. Jika porsinya besar, total asupan yang masuk ke tubuh juga ikut meningkat. Hal ini sering tidak disadari oleh konsumen yang menganggap camilan tersebut lebih sehat.

Dr Raissa mengingatkan agar masyarakat tidak makan berlebihan hanya karena menganggap suatu makanan sehat. Ia menilai, label sehat sering membuat orang merasa boleh mengonsumsi lebih banyak. Padahal, total kalori dari beberapa bahan tambahan dapat mendekati dessert lain pada umumnya. Karena itu, porsi tetap harus menjadi perhatian utama.

Selain kalori, kadar gula juga perlu diperhitungkan dalam makanan viral seperti ini. Banyak produk modern memakai pemanis tambahan untuk memperkuat rasa. Jika dikonsumsi terlalu sering, asupan gula harian dapat mudah melampaui batas. Dalam jangka panjang, kebiasaan itu tidak baik untuk pola makan seimbang.

Kesadaran membaca komposisi makanan menjadi langkah penting sebelum membeli camilan kekinian. Konsumen sebaiknya tidak hanya terpaku pada tampilan atau popularitas produk. Informasi gizi dapat membantu menentukan apakah makanan tersebut sesuai kebutuhan. Dengan begitu, keputusan konsumsi menjadi lebih bijak dan terukur.

Bijak Menikmati Camilan Viral

Makanan viral seperti ubi cream cheese tetap dapat dinikmati selama porsinya terkontrol. Konsumen disarankan menjadikannya sebagai camilan sesekali, bukan konsumsi harian. Cara ini membantu menjaga keseimbangan asupan energi sepanjang hari. Kebiasaan tersebut juga dapat mencegah konsumsi gula dan lemak yang berlebihan.

Memilih porsi kecil dapat menjadi langkah sederhana untuk menikmati tren kuliner tanpa mengabaikan kesehatan. Selain itu, konsumen dapat menyeimbangkan menu harian dengan makanan yang lebih kaya serat dan protein. Pendekatan ini membuat pola makan lebih proporsional. Dengan begitu, camilan viral tidak otomatis merusak tujuan diet atau pola makan sehat.

Penting pula untuk memahami bahwa bahan alami tidak selalu menjamin produk akhir lebih sehat. Olahan makanan tetap bergantung pada cara penyajian, tambahan topping, dan ukuran porsi. Karena itu, konsumen perlu melihat makanan secara utuh, bukan hanya dari nama utamanya. Sikap kritis seperti ini akan membantu mengurangi salah kaprah soal makanan kekinian.

Fenomena ubi cream cheese menunjukkan bahwa tren makanan bisa sangat cepat membentuk opini publik. Di satu sisi, inovasi kuliner memberi pilihan baru yang menarik. Di sisi lain, informasi gizi harus tetap menjadi dasar dalam memilih makanan. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat menikmati tren tanpa mengorbankan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!