Holywings Hadapi Tekanan, Rebranding Jadi Opsi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 15:53 WIB 2
Holywings Hadapi Tekanan, Rebranding Jadi Opsi

Holywings menghadapi tekanan besar setelah 12 outlet di Jakarta ditutup karena masalah izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan ini juga tengah disorot akibat promo minuman alkohol gratis yang dikaitkan dengan nama Muhammad dan Maria. Kondisi tersebut membuat reputasi merek Holywings ikut terguncang di mata publik. Situasi ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah merek tersebut perlu diganti.

Praktisi dan konsultan marketing Inventure, Yuswohady, menilai persoalan yang dihadapi Holywings tidak ringan. Ia menyebut penutupan outlet memperburuk citra merek yang sudah terpukul oleh kontroversi bernuansa SARA. Menurutnya, keputusan soal nama baru harus didasarkan pada riset yang matang. Tanpa itu, langkah perubahan justru bisa menambah beban bisnis.

Holywings dan tekanan reputasi

Yuswohady menilai reputasi Holywings sedang berada dalam fase yang sulit. Kontroversi promo alkohol gratis membuat merek tersebut terseret isu sensitif di tengah masyarakat. Pada saat yang sama, penutupan outlet di Jakarta memperkuat kesan bahwa perusahaan menghadapi persoalan serius. Dua masalah itu saling menumpuk dan menekan posisi brand di pasar.

Menurut dia, brand yang berurusan dengan pelanggaran izin cenderung dipersepsikan negatif. Dampaknya bukan hanya pada operasional, melainkan juga pada kepercayaan konsumen. Dalam dunia bisnis, kepercayaan menjadi modal penting yang tidak mudah dipulihkan. Karena itu, kerusakan reputasi perlu ditangani secara hati-hati.

Ia menegaskan, kondisi Holywings saat ini sudah masuk kategori krisis citra. Jika tidak ditangani tepat, dampaknya bisa meluas ke seluruh jaringan usaha. Publik biasanya akan mengaitkan masalah cabang dengan kualitas merek secara keseluruhan. Hal itu membuat perusahaan harus segera menentukan arah perbaikan yang jelas.

Dampak penutupan outlet

Penutupan 12 outlet di Jakarta menjadi pukulan tambahan bagi Holywings. Selain menahan laju bisnis, penutupan itu juga mengirim sinyal buruk kepada pasar. Konsumen, mitra, dan pemilik lokasi dapat memandang perusahaan sebagai pihak yang bermasalah. Situasi ini mempersempit ruang gerak merek di wilayah lain.

Yuswohady menyebut, jika sebuah usaha sudah dilarang karena urusan perizinan, maka citra brand akan ikut terdampak. Dalam pandangannya, hal tersebut membuat reputasi perusahaan tidak lagi terlihat baik. Penilaian publik terhadap kepatuhan usaha bisa berubah menjadi sangat kritis. Kondisi itu tentu tidak menguntungkan bagi pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Masalah perizinan juga berpotensi memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor dan pemangku kepentingan. Mereka akan menilai apakah perusahaan mampu memperbaiki tata kelola dan kepatuhan. Jika tidak ada perbaikan, kepercayaan pasar bisa terus menurun. Dalam industri yang bergantung pada kunjungan pelanggan, hal itu menjadi ancaman besar.

Opsi rebranding Holywings

Menurut Yuswohady, salah satu pilihan yang bisa ditempuh adalah rebranding. Langkah ini dinilai tepat jika brand masih memiliki kekuatan dan nilai yang bisa diselamatkan. Rebranding dapat dilakukan tanpa menghapus identitas lama sepenuhnya. Dengan cara itu, nilai merek yang sudah dikenal masih bisa dimanfaatkan.

Ia menjelaskan, salah satu bentuk rebranding adalah menambahkan nama baru di belakang merek lama. Contohnya, nama perusahaan tetap muncul dalam format seperti “by Holywings”. Strategi tersebut memungkinkan identitas lama tetap terlihat di tengah perubahan citra. Pendekatan ini juga bisa mengurangi risiko kehilangan pengenalan merek secara total.

Namun, rebranding hanya efektif jika masalah reputasi belum terlalu parah. Perusahaan tetap perlu menilai apakah publik masih menerima nama Holywings. Jika persepsi masyarakat masih bisa diperbaiki, perubahan parsial lebih masuk akal. Sebaliknya, jika reputasi sudah sangat rusak, opsi lain perlu dipertimbangkan.

Risiko ganti nama penuh

Opsi lain adalah mengganti nama secara penuh. Menurut Yuswohady, pilihan ini tidak bisa dianggap sederhana karena membangun brand baru membutuhkan waktu dan biaya besar. Perusahaan harus memulai dari awal untuk membangun pengenalan pasar. Risiko kegagalannya juga lebih tinggi dibanding mempertahankan nama lama.

Ia menekankan pentingnya riset sebelum memutuskan ganti nama total. Riset diperlukan untuk mengetahui apakah nama Holywings masih layak dipakai atau justru sudah terlalu buruk di mata publik. Jika hasil riset menunjukkan citra sudah sangat rusak, penggantian total bisa menjadi pilihan terakhir. Meski begitu, langkah itu tetap menuntut strategi komunikasi yang kuat.

Yuswohady juga mengingatkan bahwa kesuksesan brand tidak hanya ditentukan strategi. Ada faktor keberuntungan, momentum pasar, dan penerimaan konsumen yang ikut berperan. Karena itu, membangun merek baru dari nol bukan pekerjaan mudah. Dalam kasus Holywings, keputusan akhir perlu mempertimbangkan reputasi, kepatuhan, dan keberlanjutan bisnis sekaligus.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!