Tujuh Jenis Istirahat untuk Atasi Lelah Meski Tidur Cukup

Lifestyle Anindya Kirana Putri 22 Mei 2026 07:20 WIB 8
Tujuh Jenis Istirahat untuk Atasi Lelah Meski Tidur Cukup

Banyak orang merasa tubuh tetap capek saat bangun tidur, meski sudah beristirahat selama delapan jam. Kondisi ini mendorong Dr. Saundra Dalton-Smith, dokter spesialis penyakit dalam, meneliti penyebab rasa lelah yang tidak selalu teratasi oleh tidur. Dari pengalamannya menangani pasien, ia menemukan bahwa kelelahan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Temuan itu kemudian dituangkan dalam buku Sacred Rest yang terbit pada 2017.

Menurut Dalton-Smith, tubuh tidak hanya membutuhkan tidur, tetapi juga jenis istirahat lain yang lebih spesifik. Ia menjelaskan ada tujuh bentuk istirahat yang dapat disesuaikan dengan sumber kelelahan masing-masing orang. Pendekatan ini membantu seseorang memahami mengapa rasa lelah bisa bertahan meski waktu tidur sudah cukup. Dengan mengenali jenis istirahat yang tepat, pemulihan tubuh dan pikiran dapat berjalan lebih efektif.

Jenis Istirahat Fisik

Istirahat fisik tidak selalu berarti tidur lebih lama, karena tubuh juga membutuhkan jeda dari rutinitas yang menguras tenaga. Dalton-Smith menjelaskan bahwa istirahat fisik dapat diperoleh melalui aktivitas ringan yang menenangkan otot dan sendi. Yoga, stretching, dan terapi pijat menjadi contoh kegiatan yang dapat membantu tubuh kembali rileks. Aktivitas tersebut juga berpotensi melancarkan aliran darah dan mengurangi ketegangan akibat stres.

Jenis istirahat ini penting bagi orang yang sering duduk terlalu lama atau bekerja dengan beban fisik tinggi. Saat tubuh jarang digerakkan secara seimbang, rasa pegal dan lesu dapat muncul lebih cepat. Karena itu, memberi waktu untuk peregangan atau gerakan ringan bisa menjadi langkah sederhana yang bermanfaat. Istirahat fisik membantu tubuh pulih tanpa harus selalu bergantung pada tidur malam.

Selain aktivitas ringan, menjaga pola istirahat fisik juga berarti mendengarkan sinyal tubuh. Jika tubuh mulai terasa berat, tegang, atau cepat lelah, waktu jeda perlu segera diberikan. Kebiasaan kecil seperti berdiri sejenak, berjalan singkat, atau menarik napas panjang dapat memberi perbedaan nyata. Dengan demikian, tubuh tidak terus dipaksa bekerja tanpa pemulihan yang memadai.

Jenis Istirahat Mental

Istirahat mental dibutuhkan saat pikiran terasa penuh, berantakan, dan sulit fokus. Kondisi ini sering muncul ketika seseorang terus memikirkan pekerjaan, masalah pribadi, atau tuntutan harian. Salah satu cara yang disarankan Dalton-Smith adalah menulis jurnal sebelum tidur. Kebiasaan tersebut dapat membantu menenangkan pikiran dan meredakan beban mental yang menumpuk.

Bagi sebagian orang, aktivitas fisik justru membantu otak menjadi lebih tenang. Saat berlari atau jogging, perhatian akan lebih terarah pada ritme langkah dan pernapasan. Pola ini membuat pikiran tidak terus berputar pada hal-hal yang mengganggu. Karena itu, istirahat mental tidak selalu identik dengan diam, tetapi bisa berbentuk aktivitas yang menyeimbangkan fokus.

Menjaga kesehatan mental juga berarti memberi jeda dari informasi berlebihan. Terlalu banyak memproses pesan, berita, dan pekerjaan dapat membuat otak cepat lelah. Dengan membatasi distraksi, seseorang memiliki ruang untuk berpikir lebih jernih. Istirahat mental yang cukup membantu seseorang kembali produktif tanpa merasa kewalahan.

Jenis Istirahat Emosional

Istirahat emosional diperlukan ketika seseorang terus menyembunyikan perasaan demi terlihat baik-baik saja. Rasa lelah sering muncul saat harus selalu ramah, kuat, atau menyenangkan di hadapan orang lain. Dalton-Smith menyarankan agar seseorang lebih jujur pada dirinya sendiri tentang apa yang benar-benar dirasakan. Sikap ini dapat membantu emosi menjadi lebih seimbang dan tidak terus terpendam.

Membagikan cerita kepada orang terdekat yang dipercaya juga bisa menjadi langkah penting. Dukungan dari lingkungan yang aman membuat beban emosi terasa lebih ringan. Jika diperlukan, berkonsultasi dengan terapis profesional dapat menjadi pilihan yang tepat. Langkah ini membantu seseorang mengurai perasaan tanpa harus menanggungnya sendirian.

Istirahat emosional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk perhatian terhadap diri sendiri. Saat emosi terlalu lama ditekan, tubuh dan pikiran bisa ikut terdampak. Karena itu, mengenali batas diri menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan. Dengan ruang emosional yang sehat, seseorang dapat berinteraksi dengan lebih tulus dan tenang.

Jenis Istirahat Sensorik

Istirahat sensorik dibutuhkan ketika tubuh merasa jenuh akibat paparan layar, suara, dan rangsangan yang terus-menerus. Laptop, ponsel, headset, hingga musik yang terlalu sering diputar dapat membuat indera bekerja tanpa henti. Menurut Dalton-Smith, otak juga membutuhkan rehat, bahkan dari hal-hal yang disukai sekalipun. Karena itu, waktu tenang menjadi bagian penting dari pemulihan sensorik.

Cara sederhana untuk melakukannya adalah dengan memberi diri waktu berada dalam suasana yang lebih hening. Seseorang bisa memejamkan mata, berdiam diri sejenak, atau menjauh dari perangkat digital. Langkah kecil ini membantu indera tubuh mendapat kesempatan untuk beristirahat. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat mengurangi rasa penat yang muncul akibat paparan berlebih.

Istirahat sensorik juga relevan di tengah gaya hidup yang serba cepat dan terkoneksi. Banyak orang tidak menyadari bahwa kebisingan visual dan digital dapat menguras energi lebih cepat dari yang diperkirakan. Dengan mengatur waktu tanpa gawai, tubuh dan pikiran bisa kembali lebih segar. Kebiasaan ini penting untuk menjaga keseimbangan di tengah aktivitas harian yang padat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!