Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun 15-20 Persen

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 10:45 WIB 6
Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun 15-20 Persen

Penurunan daya beli masyarakat mulai terasa di pusat perbelanjaan Jakarta, terutama pada hari kerja. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, yang ikut terdorong pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut trafik pengunjung di pusat belanja turun sekitar 15-20 persen pada weekdays. Meski begitu, kunjungan pada akhir pekan masih terjaga, bahkan cenderung meningkat.

Pusat Belanja Jakarta Melemah

Ellen mengatakan pelemahan rupiah membuat harga barang di masyarakat naik cukup signifikan. Ia menilai kondisi itu langsung berdampak pada aktivitas belanja di pusat perbelanjaan Jakarta.

Menurutnya, masyarakat kini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang. Situasi tersebut terasa jelas pada kelompok pekerja dengan pendapatan yang relatif tetap.

Dengan pengeluaran harian yang semakin besar, konsumen cenderung menunda belanja non-esensial. Dampaknya, pusat perbelanjaan kehilangan sebagian trafik pada jam dan hari kerja.

Daya Beli Masyarakat Tertekan

Ellen mencontohkan kenaikan harga buah naga yang sebelumnya Rp25.000 per kilogram menjadi Rp40.000 per kilogram. Ia juga menyebut harga gas rumah tangga naik dari Rp210.000 menjadi Rp250.000.

Kenaikan tersebut, menurut dia, menggambarkan tekanan biaya hidup yang dirasakan masyarakat. Jika harga kebutuhan pokok terus naik, ruang belanja untuk kebutuhan lain otomatis ikut menyempit.

Ia menilai efek berantai dari kenaikan harga tidak hanya terjadi pada buah-buahan. Sayur-sayuran dan komoditas lain juga ikut mengalami penyesuaian harga di tingkat konsumen.

Trafik Pusat Belanja Menurun

Berdasarkan pengamatan APPBI DPD DKI Jakarta, trafik pengunjung di pusat belanja pada weekdays turun sekitar 15-20 persen. Penurunan ini terlihat di sejumlah pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta.

Meski demikian, situasinya berbeda pada akhir pekan. Kunjungan justru masih cukup tinggi dan pada beberapa lokasi cenderung melampaui hari biasa.

Ellen menyebut fenomena itu tampak seperti keanehan, tetapi masih bisa dijelaskan oleh pola belanja masyarakat. Banyak konsumen memilih datang ke mal saat libur untuk mencari hiburan sekaligus berbelanja seperlunya.

Weekend Masih Jadi Andalan

Menurut Ellen, akhir pekan tetap menjadi waktu utama bagi sebagian warga untuk berkunjung ke pusat perbelanjaan. Pada periode tersebut, keluarga cenderung datang bersama dan menghabiskan waktu lebih lama di mal.

Pola ini membuat pendapatan pengelola pusat belanja belum sepenuhnya tertekan. Namun, tekanan pada hari kerja tetap menjadi sinyal bahwa konsumsi masyarakat sedang melambat.

Ia berharap stabilitas nilai tukar dapat membaik agar harga kebutuhan tidak terus naik. Dengan begitu, daya beli masyarakat dan trafik pusat belanja di Jakarta bisa kembali pulih.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!