Telur Peternak Anjlok: Surplus, Harga Acuan Rp26.500

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 13 Mei 2026 00:34 WIB 6
Telur Peternak Anjlok: Surplus, Harga Acuan Rp26.500

Kementerian Pertanian mengabarkan harga telur di tingkat peternak turun hingga Rp22.500 per kg. Harga acuan pembelian di tingkat produsen, atau HAP, ditetapkan Rp26.500 per kg. Penurunan ini terjadi meskipun produksi telur nasional diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton pada 2026 dengan kebutuhan sekitar 6 juta ton.

Surplus nasional diperkirakan sekitar 800 ribu ton, atau sekitar 13 persen dari kebutuhan. Kementan menyebut surplus ini masih bisa dikendalikan dengan langkah stabilisasi pasar. Harga di beberapa daerah sentra produksi, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, turut menyesuaikan dinamika pasar.

Menurut Direktur Jenderal PKH Agung Suganda, sebagian peternak banting harga karena stok telur terus bertambah. Ia menegaskan harga di pasar ditentukan oleh mekanisme pasar, dengan sekitar 98 persen peternak berasal dari kalangan rakyat. Jika ada perbedaan harga antar peternak, pedagang perantara cenderung memilih harga yang lebih rendah demi menjaga arus jual.

Harga telur dan produksi

Harga telur di tingkat peternak saat ini berada pada sekitar Rp22.500 per kg. Sementara itu, Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen ditetapkan Rp26.500 per kg. Produksi telur nasional diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton pada 2026 dan kebutuhan nasional diperkirakan 6 juta ton.

Surplus nasional diperkirakan sekitar 800 ribu ton, atau sekitar 13 persen dari kebutuhan. Kementan menyebut surplus ini masih bisa dikendalikan dengan langkah stabilisasi pasar. Harga di beberapa daerah sentra produksi, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, turut menyesuaikan dinamika pasar.

Menurut Direktur Jenderal PKH Agung Suganda, sebagian peternak banting harga karena stok telur terus bertambah. Ia menegaskan harga di pasar ditentukan oleh mekanisme pasar, dengan sekitar 98 persen peternak berasal dari kalangan rakyat. Jika ada perbedaan harga antar peternak, pedagang perantara cenderung memilih harga yang lebih rendah demi menjaga arus jual.

Penyebab dan solusi

Faktor utama penurunan harga di tingkat peternak adalah tingginya suplai telur. Produksi harian yang terus berjalan membuat stok bertambah dan menekan harga. Mekanisme pasar saat ini membuat perbedaan harga antar peternak tidak jarang terjadi.

Herry Dermawan, Ketua GOPAN, menilai fenomena ini juga dipicu permainan middleman yang membeli telur di bawah harga. Ia meminta pemerintah menindak para tengkulak dan melibatkan Satgas Pangan untuk mengawasi praktik tersebut. Menurutnya, harga saat ini tidak mencerminkan biaya produksi.

Biaya produksi peternak telur diperkirakan sekitar Rp24.000 per kg. Dengan harga jual di tingkat peternak yang lebih rendah, para pelaku usaha bisa menderita rugi. Penyelesaian masalah memerlukan koordinasi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku koperasi untuk mencapai harga Rp26.500 per kg yang ditetapkan.

Dampak dan solusi kebijakan

Ketidaksesuaian harga antara produksi dan biaya operasional menimbulkan kerugian bagi peternak telur. Kementerian Pertanian menekankan upaya menjaga harga agar menuju harga acuan Rp26.500 per kg di tingkat on-farm. Rata-rata harga telur di tingkat peternak berada sekitar Rp24.500 per kg, lebih rendah dari biaya produksi.

Agung Suganda mengatakan konsolidasi antara pemerintah, asosiasi, dan koperasi diperlukan untuk stabilisasi. Langkah bersama juga diarahkan untuk mencapai harga acuan on-farm Rp26.500 per kg seperti ditetapkan Peraturan Kepala Bapanas. Pihaknya mendesak pelibatan semua pihak agar harga tidak mudah dipengaruhi praktik tidak sehat.

GOPAN menuntut tindakan tegas terhadap praktik middleman dan pengawasan harga lewat Satgas Pangan. Peternak berharap dukungan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga. Rapat koordinasi di Kementerian Pertanian dinilai membawa kemajuan menuju harga acuan yang lebih adil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!